Bursa Tokyo Berakhir Mixed: Aksi Ambil Untung Tekan Saham Teknologi, Topix Justru Menguat
Baca dalam 60 detik
- Nikkei ditutup melemah tipis 0,12% ke level 65.606,71, sementara Topix naik 0,47% berkat rotasi sektor.
- Ketidakpastian geopolitik di Selat Hormuz dan kenaikan harga minyak mentah menjadi sentimen negatif, tetapi aksi beli saham bernilai murah menahan pelemahan.
- Proyeksi kenaikan laba Fujikura, pemasok kabel untuk pusat data AI, memicu aksi beli saham semikonduktor dan menopang indeks pada sore hari.

Bursa saham Tokyo ditutup bervariasi pada Jumat (7/8/2026) dengan indeks acuan Nikkei terkoreksi tipis, sementara indeks Topix justru menguat. Aksi ambil untung pada saham teknologi berkapitalisasi besar menahan laju Nikkei, namun pembelian saham-saham lain yang dinilai murah serta aksi borong saham semikonduktor setelah rilis laporan keuangan positif berhasil memangkas pelemahan.
Indeks Nikkei 225 ditutup turun 76,55 poin atau 0,12 persen ke level 65.606,71. Sebaliknya, indeks Topix yang lebih luas justru naik 19,08 poin atau 0,47 persen ke posisi 4.074,93. Di pasar utama Prime Market, sektor minyak dan batu bara serta produk karet mencatatkan kenaikan terbesar, sementara saham konstruksi dan kredit konsumen menjadi penekan utama.
Pelemahan Nikkei terjadi sejak sesi pagi, seiring minimnya katalis perdagangan setelah musim laporan keuangan perusahaan besar berakhir. Sentimen juga terbebani oleh kenaikan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang menembus level 75 dolar AS per barel. Kondisi geopolitik yang kembali memanas di Timur Tengah, khususnya ketidakpastian pembukaan kembali Selat Hormuz, turut menekan minat risiko investor.
Menurut laporan media Iran, kapal-kapal AS dan Israel akan diblokir berdasarkan rancangan rencana yang tengah disusun. Situasi ini membuat investor semakin waspada terhadap potensi gangguan pasokan minyak global. Namun, para pelaku pasar tampaknya mulai terbiasa dengan dinamika yang cepat berubah di kawasan tersebut, sehingga aksi jual tidak berlangsung masif.
Di tengah pelemahan saham teknologi, investor justru melakukan rotasi ke sektor lain, yang mendukung penguatan Topix. Masahiro Ichikawa, kepala strategi pasar di Sumitomo Mitsui DS Asset Management, mengungkapkan bahwa pergerakan dana antar sektor semakin sering terjadi. "Pembalikan arah yang berulang, atau perpindahan uang bolak-balik antar sektor, semakin meningkat," ujarnya.
Pada sesi sore, indeks berhasil bangkit setelah Fujikura Ltd., pemasok kabel untuk pusat data AI, menaikkan proyeksi laba tahun fiskal berjalan. Aksi beli saham terkait kecerdasan buatan dan semikonduktor kembali menguat, menopang indeks secara keseluruhan. Fujikura menjadi salah satu pemain kunci dalam rantai pasokan infrastruktur AI global, sehingga kabar positif dari perusahaan ini memberikan sentimen baik bagi sektor teknologi secara luas.
Di pasar valuta asing, dolar AS melemah ke kisaran 158 yen di Tokyo, terbebani kekhawatiran intervensi setelah penguatan solid di New York semalam. Pelemahan yen sebenarnya dapat mendukung eksportir Jepang, namun kali ini investor lebih memilih mengurangi eksposur risiko di tengah ketidakpastian global.
Bagi investor Indonesia, pergerakan bursa Tokyo memiliki relevansi tersendiri. Jepang merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia, dan kinerja bursa saham di sana sering menjadi indikator sentimen pasar Asia. Selain itu, sektor teknologi dan otomotif Jepang memiliki keterkaitan erat dengan rantai pasok industri di Indonesia. Jika ketegangan geopolitik di Timur Tengah berlanjut, harga energi bisa semakin tinggi, yang berpotensi menekan inflasi dan nilai tukar rupiah. Namun, penguatan sektor teknologi global, terutama terkait AI, dapat membuka peluang bagi perusahaan Indonesia yang terlibat dalam ekosistem digital.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati perkembangan di Selat Hormuz serta kebijakan moneter Bank of Japan. Pertanyaannya, akankah rotasi sektor yang terjadi saat ini menjadi tren jangka pendek, atau justru sinyal koreksi lebih dalam bagi saham teknologi? Yang jelas, volatilitas masih akan mewarnai perdagangan di bursa Asia, termasuk Indonesia.



