Ziarah ke Makam Bung Karno, MPR Tegaskan Persatuan Modal Hadapi Tantangan Bangsa
Baca dalam 60 detik
- Ketua MPR Ahmad Muzani memimpin ziarah ke makam Soekarno di Blitar sebagai tradisi jelang HUT ke-81 RI.
- Tradisi ini dimaknai sebagai pengingat jasa pahlawan dan ajakan menjaga persatuan di tengah perbedaan.
- MPR berharap ritual serupa terus lestari untuk memperkuat semangat kebangsaan lintas generasi.

Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Ahmad Muzani bersama jajaran pimpinan lembaga itu mengawali rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dengan berziarah ke makam Presiden pertama Soekarno di Blitar, Jawa Timur, Selasa (29/7). Langkah ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan pengingat kolektif bahwa fondasi bangsa dibangun di atas pengorbanan para pendiri yang kerap terlupakan di tengah hiruk-pikuk politik hari ini.
Muzani menegaskan, ziarah ke kompleks makam Bung Karno merupakan bentuk penghormatan terhadap proklamator sekaligus penggagas Pancasila. Menurut dia, bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mensyukuri perjuangan para pendahulunya. "Kami berharap bangsa Indonesia bisa menghargai jasa setiap pahlawannya," ujarnya usai melakukan doa bersama di lokasi.
Di luar dimensi spiritual, ritual ini sarat pesan politik kebangsaan. Di tengah polarisasi yang masih membayangi ruang publik, MPR ingin menegaskan bahwa Indonesia adalah rumah bersama. "Meskipun kita berbeda pandangan, berbeda latar belakang, bahkan mungkin berbeda pilihan politik, tetapi kita semua adalah keluarga besar bangsa Indonesia," kata Muzani. Pernyataan itu relevan mengingat tahun politik baru saja berlalu dan suhu sosial masih menyisakan gesekan.
Lebih jauh, Ketua MPR menggarisbawahi bahwa persatuan bukan sekadar jargon, melainkan modal strategis untuk menghadapi ujian ekonomi global, ketimpangan sosial, hingga ancaman disintegrasi. "Seberapa pun besar ujian yang dihadapi, selama kita bersatu, semuanya akan selamat," tegasnya. Pernyataan ini muncul di saat pemerintah tengah mendorong Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPPN) yang membutuhkan dukungan lintas elemen.
Bagi publik Indonesia, ziarah ini memiliki resonansi yang dalam. Di tengah disrupsi informasi dan menguatnya politik identitas, tradisi semacam ini menjadi penawar yang menyejukkan. MPR tampaknya ingin memposisikan diri sebagai penjaga memori kolektif bangsa, bukan sekadar lembaga tinggi negara yang disibukkan urusan legislasi. Ini juga menjadi sinyal bahwa elite politik masih memiliki ruang untuk merawat simbol-simbol pemersatu.
Muzani berharap tradisi ziarah kepada para pendiri bangsa tidak berhenti pada masa kepemimpinannya. Ia menginginkan ritual ini berlanjut sebagai warisan yang memperkuat semangat kebangsaan menjelang peringatan kemerdekaan. "Semoga generasi mendatang terus menjadikan ini sebagai pengingat atas perjuangan para pahlawan," pungkasnya.
Ke depan, pertanyaannya bukan sekadar apakah ziarah ini akan diulang tahun depan, melainkan sejauh mana simbol-simbol kebangsaan mampu diterjemahkan menjadi kebijakan yang mensejahterakan rakyat. Apakah persatuan yang dirawat di atas makam akan berbanding lurus dengan upaya menekan kemiskinan dan ketimpangan? Itulah ujian sebenarnya bagi para pemimpin bangsa.



