China Perkuat Sistem Mitigasi Bencana Hidrometeorologi: Fokus pada Longsor dan Banjir di Tengah Perubahan Iklim
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah China mengalokasikan prioritas pada pencegahan longsor dangkal dan aliran debris yang dipicu curah hujan ekstrem.
- Pemantauan risiko geologi akan memanfaatkan teknologi penginderaan jauh antariksa untuk deteksi dini yang lebih akurat.
- Dengan lebih dari 270.000 titik rawan bencana, langkah ini menjadi uji kapasitas adaptasi iklim yang juga relevan bagi Indonesia.

Pemerintah China mengambil langkah strategis untuk memperkuat sistem mitigasi bencana tanah longsor dan banjir, menyusul meningkatnya frekuensi kejadian hidrometeorologi ekstrem yang dikaitkan dengan perubahan iklim. Melalui pernyataan resmi yang disiarkan stasiun televisi nasional CCTV pada Selasa (4/8), Kementerian Sumber Daya Alam China menegaskan komitmennya untuk memprioritaskan pencegahan longsor dangkal yang tersebar luas serta aliran debris yang dipicu oleh curah hujan tinggi.
Fokus penanganan akan diarahkan pada sejumlah kawasan rawan, termasuk lokasi proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air Yaxia, Pegunungan Yanshan-Taihang, kawasan Waduk Tiga Ngarai, dan Pegunungan Wumeng. Kawasan-kawasan ini dinilai memiliki karakteristik geologis yang rentan terhadap pergerakan tanah, terutama saat musim hujan tiba. Langkah ini merupakan bagian dari upaya nasional yang lebih luas untuk merespons dampak perubahan iklim yang semakin nyata.
Dalam pengembangan kapasitas deteksi, China berencana mengeksplorasi penggunaan teknologi penginderaan jauh antariksa untuk mengidentifikasi dan memantau risiko geologi secara lebih presisi. Teknologi ini diharapkan mampu memberikan peringatan dini yang lebih cepat dan akurat, sehingga dapat mengurangi risiko korban jiwa dan kerugian material. Inisiatif ini sejalan dengan tren global dalam pemanfaatan teknologi satelit untuk manajemen bencana.
Urgensi langkah ini diperkuat oleh serangkaian bencana yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Pada Juli lalu, longsor yang dipicu banjir bandang di Provinsi Gansu, barat laut China, menewaskan 25 orang. Sementara itu, di Chongqing, barat daya, tanah longsor akibat runtuhnya lereng gunung menyebabkan 51 orang meninggal dunia. Data Kementerian Sumber Daya Alam mencatat lebih dari 270.000 titik rawan bencana geologi di seluruh negeri, yang mengancam keselamatan sekitar 11 juta penduduk.
Konteks Indonesia: Pengalaman China dalam membangun sistem mitigasi berbasis teknologi dan tata ruang dapat menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia, yang juga menghadapi ancaman serupa. Dengan topografi yang beragam dan intensitas hujan tinggi, Indonesia kerap dilanda longsor dan banjir, terutama di daerah perbukitan dan aliran sungai. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ratusan kejadian longsor setiap tahunnya, yang menuntut penguatan sistem peringatan dini dan penataan kawasan rawan.
Para ahli menilai bahwa pendekatan China yang mengintegrasikan teknologi penginderaan jauh dengan pemetaan risiko berbasis data dapat diadopsi, meski perlu disesuaikan dengan kondisi geologis dan kelembagaan lokal. Selain itu, kolaborasi regional dalam pertukaran data dan teknologi mitigasi bencana dapat menjadi agenda yang saling menguntungkan di kawasan Asia Tenggara.
Ke depan, efektivitas kebijakan ini akan diuji melalui penurunan angka korban jiwa dan kerugian ekonomi akibat bencana hidrometeorologi di China. Apakah langkah-langkah ini cukup untuk mengimbangi laju perubahan iklim yang semakin cepat? Atau justru diperlukan transformasi yang lebih mendasar dalam pengelolaan lingkungan dan tata ruang? Jawabannya akan menentukan masa depan ketahanan bencana tidak hanya di China, tetapi juga menjadi referensi bagi negara-negara berkembang lainnya.



