Mary Rivera, Pemeran Lola di Spider-Man: No Way Home, Tutup Usia di 82 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Aktris senior asal Filipina yang memerankan nenek Ned dalam film laris Marvel itu mengembuskan napas terakhir di Honolulu setelah dirawat akibat stroke.
- Kepergiannya memicu gelombang duka dari penggemar yang mengapresiasi representasi budaya Filipina di layar lebar Hollywood.
- Warisan Rivera tidak hanya di industri film, tetapi juga dalam pelestarian bahasa dan sastra Hiligaynon yang ia perjuangkan semasa hidup.

Dunia perfilman Hollywood kembali berduka. Mary Rivera, aktris yang memerankan Lola—nenek dari Ned Leeds—dalam film fenomenal Spider-Man: No Way Home, meninggal dunia pada 15 April lalu di Honolulu, Hawaii, dalam usia 82 tahun. Kabar ini dikonfirmasi melalui obituari yang dirilis keluarga, menandai kepergian salah satu figur yang membawa kehangatan budaya Filipina ke jagat sinema global.
Menurut keterangan kerabat yang dikutip TMZ, Rivera sempat menjalani perawatan intensif setelah mengalami stroke dan ditempatkan pada alat bantu hidup sebelum akhirnya berpulang. Sebuah perayaan kehidupan untuk mengenang perjalanan kariernya digelar pada 6 Juni, dihadiri keluarga dan rekan terdekat. Rivera meninggalkan suami tercinta, Alejandro, serta empat anak—Carmela, Paul, Edwin, dan Angela—di samping 11 cucu dan empat cicit.
Dalam obituari yang beredar, Rivera disebutkan merasa sangat bangga dapat memerankan sosok nenek Filipina yang akrab disapa Lola dalam film garapan sutradara Jon Watts tersebut. Penampilannya yang hanya beberapa menit di layar berhasil meninggalkan kesan mendalam, terutama saat adegan portal multiverse terbuka di ruang keluarganya. Momen itu menjadi salah satu adegan ikonik yang mempertemukan tiga generasi Spider-Man: Tom Holland, Andrew Garfield, dan Tobey Maguire.
Di tengah hingar-bingar aksi para pahlawan super, Lola justru mencuri perhatian dengan reaksi kagetnya yang natural. Bahkan, dalam salah satu adegan, ia berbicara dalam bahasa Tagalog—bahasa Austronesia yang digunakan luas di Filipina—meminta Spider-Man versi Garfield membersihkan sarang laba-laba sebelum pergi. Adegan ini dinilai sebagai pengakuan atas keberagaman budaya di tengah dominasi narasi Barat dalam film superhero.
Kepergian Rivera memicu gelombang duka di media sosial. Banyak penggemar yang mengungkapkan rasa terima kasih karena ia dianggap berhasil mewakili komunitas Filipina dengan anggun dan bangga. “Terima kasih telah mewakili komunitas Filipina dengan penuh keanggunan saat memerankan Lola-nya Ned. Anda akan selalu dicintai dan dirindukan. Paalam po, Lola,” tulis seorang warganet. Ungkapan serupa juga datang dari mereka yang mengenang Rivera sebagai sosok yang tidak hanya berkiprah di Hollywood, tetapi juga aktif melestarikan warisan sastra dan budaya Hiligaynon.
Bagi penonton Indonesia, kehadiran Rivera dalam film sekelas Spider-Man menjadi pengingat bahwa representasi budaya Asia Tenggara di panggung global semakin mendapat tempat. Fenomena ini sejalan dengan meningkatnya apresiasi terhadap keberagaman dalam industri hiburan, yang perlahan menggeser standar lama yang didominasi wajah-wajah Barat. Keberanian Rivera membawa bahasa ibu ke layar lebar menjadi simbol bahwa identitas lokal dapat bersanding erat dengan produksi kelas dunia.
Di luar layar, Rivera dikenal sebagai sosok yang hangat dan rendah hati. Ia sempat meninggalkan pesan perpisahan yang menyentuh, mengutip kata-kata Ernest Lehman dalam The Sound of Music: “Kau pergi tanpa mengucap selamat tinggal.” Namun, warisan yang ia tinggalkan—baik sebagai aktris maupun pelestari budaya—akan terus hidup. Kini, pertanyaannya adalah bagaimana industri film tanah air dapat meniru jejak Rivera dalam mengangkat kekayaan lokal ke panggung internasional, tanpa kehilangan autentisitas yang justru menjadi daya tarik utamanya.



