Anya Taylor-Joy: Metode Akting Ekstrem Adalah Kemewahan yang Tak Bisa Dinikmati Aktris
Baca dalam 60 detik
- Aktris The Queen's Gambit menilai metode akting total lebih banyak dilakukan pria karena perempuan memiliki tanggung jawab lain yang tak bisa ditinggalkan.
- Pernyataan ini mempertegas kritik terhadap metode akting yang dianggap kurang praktis dan berisiko bagi kesehatan mental, terutama bagi aktris dengan peran ganda.
- Perdebatan ini membuka ruang bagi industri perfilman global, termasuk Indonesia, untuk mengevaluasi ulang pendekatan akting yang lebih manusiawi dan berkelanjutan.

Anya Taylor-Joy, bintang serial fenomenal The Queen's Gambit, melontarkan kritik tajam terhadap metode akting ekstrem yang selama ini dipuja di Hollywood. Dalam wawancara terbarunya dengan Complex News, ia menyatakan bahwa aktris perempuan jarang menerapkan metode akting total karena mereka tidak bisa "kehilangan akal sepenuhnya"—sebuah pernyataan yang langsung memicu diskusi hangat tentang kesenjangan gender dan praktik akting di industri film.
Metode akting, yang dipopulerkan oleh tokoh-tokoh seperti Robert De Niro dan Daniel Day-Lewis, menuntut aktor untuk hidup sepenuhnya sebagai karakter, bahkan di luar jam syuting. De Niro, misalnya, bekerja sebagai sopir taksi selama berminggu-minggu demi film Taxi Driver, sementara Day-Lewis meminta kru menyuapinya dan menggendongnya di lokasi syuting My Left Foot. Dedikasi semacam ini sering dipuja sebagai puncak kesenian, tetapi Taylor-Joy melihatnya sebagai kemewahan yang tidak terjangkau bagi kebanyakan perempuan.
Menurut Taylor-Joy, aktris memiliki "banyak hal yang harus diurus" sehingga tidak bisa tenggelam total dalam karakter. Ia menggambarkan akting sebagai "psikosis yang terkendali", di mana ia harus berpura-pura menjadi orang lain selama 16 jam sehari, tetapi tetap memiliki mekanisme untuk kembali ke realitas. "Terkadang, jika sudah keterlaluan, orang-orang di sekitarku akan memanggilku dengan nama karakter dan berkata, 'Kita perlu check-in lagi'," ungkapnya. Ia menambahkan bahwa bekerja dengan ratusan orang di lokasi syuting menuntut tanggung jawab untuk bersikap baik dan membantu mereka bekerja maksimal, sesuatu yang sulit dilakukan jika terlalu larut dalam karakter.
Kritik Taylor-Joy bukanlah yang pertama. Sebelumnya, Natalie Portman menyebut metode akting sebagai "kemewahan yang tidak mampu dibeli perempuan" dalam wawancara dengan The Wall Street Journal. Portman, yang dikenal dengan peran-peran kompleks, meragukan apakah anak-anak atau pasangan akan memahami jika ia memaksa semua orang memanggilnya "Jackie Kennedy" sepanjang waktu. Sementara itu, Kristen Stewart, bintang Twilight, memiliki teori berbeda: ia menilai metode akting identik dengan kejantanan yang berlebihan, sementara akting sejati justru menuntut kerendahan hati dan keberanian untuk menjadi "corong" bagi ide orang lain—sesuatu yang dianggap tidak maskulin.
Perdebatan ini menggema hingga ke industri film Indonesia, di mana metode akting ala Stanislavski mulai populer di kalangan aktor muda. Namun, banyak aktris Tanah Air yang secara halus menolak pendekatan ekstrem ini. Seperti disampaikan pengamat film dari Universitas Indonesia, Dr. Hikmat Darmawan, "Aktris Indonesia seringkali harus membagi peran antara karier dan keluarga. Metode akting total yang menuntut isolasi dan fokus penuh jelas tidak realistis bagi mereka." Ia menambahkan bahwa industri film Indonesia justru lebih mengedepankan pendekatan kolaboratif dan adaptif, yang lebih sesuai dengan budaya kerja di sini.
Pernyataan Taylor-Joy juga menyentuh isu kesehatan mental di industri kreatif. Tekanan untuk tampil sempurna dan tenggelam dalam karakter seringkali berujung pada kelelahan emosional, bahkan gangguan psikologis. Dengan semakin terbukanya diskusi tentang pentingnya keseimbangan hidup, banyak aktor mulai meninggalkan metode akting ekstrem dan beralih pada pendekatan yang lebih sehat. Pertanyaannya, akankah Hollywood dan industri film global lainnya benar-benar mengubah standar keunggulan akting yang selama ini didominasi oleh praktik maskulin yang ekstrem? Atau justru aktris seperti Taylor-Joy yang akan mendefinisikan ulang apa artinya menjadi aktor yang hebat?



