Pertarungan Château Miraval Memanas: Brad Pitt Minta Angelina Jolie Buka Data Pendapatan Film
Baca dalam 60 detik
- Pengacara Brad Pitt meminta pengadilan memerintahkan Angelina Jolie menyerahkan dokumen pendapatan film 2017–2019 untuk memperkuat gugatan kebun anggur mereka.
- Tim kuasa hukum Jolie menilai permintaan itu tidak relevan dan menuduh Pitt memelintir pernyataan kliennya tentang 'kemandirian finansial'.
- Sengketa aset selebritas ini menyoroti pentingnya perjanjian pranikah dan transparansi keuangan bagi pasangan dengan aset besar di Indonesia.

Perseteruan hukum antara Brad Pitt dan Angelina Jolie atas kepemilikan Château Miraval kembali memanas. Dalam sidang 31 Juli lalu, pengacara Pitt meminta pengadilan mewajibkan Jolie menyerahkan seluruh dokumen yang menunjukkan pendapatan filmnya, khususnya untuk periode 2017 hingga 2019. Permintaan ini diajukan di tengah gugatan sengit yang melibatkan kebun anggur mewah di Prancis tersebut.
Menurut dokumen hukum yang diperoleh Us Weekly, tim kuasa hukum Pitt menegaskan bahwa mereka tidak menuntut seluruh laporan laba, melainkan hanya pernyataan yang membuktikan bahwa Jolie telah menerima pembayaran dari film-film yang dibintanginya. Di antara judul yang dirilis pada rentang waktu itu adalah Maleficent: Mistress of Evil (2019), yang dicatat oleh Internet Movie Database (IMDB). Langkah ini dinilai sebagai upaya Pitt untuk menguak kondisi finansial mantan istrinya yang selama ini disebut-sebut menjadi alasan Jolie menolak kesepakatan bisnis tertentu.
Konflik bermula ketika Pitt menggugat Jolie lebih dulu, dengan tuduhan bahwa keduanya memiliki perjanjian 'konsen dua pihak' terkait pengelolaan Château Miraval. Namun, Jolie membantah dan mengajukan gugatan balik. Ia mengklaim telah mencoba membeli saham Pitt di kebun anggur tersebut, tetapi tawaran itu ditolak kecuali ia bersedia menandatangani perjanjian non-disclosure (NDA). Sikap Jolie ini kemudian menjadi dasar argumennya bahwa Pitt menggunakan tekanan ekonomi untuk mengontrol keputusan bisnisnya.
Menanggapi permintaan terbaru, tim pengacara Jolie menyatakan bahwa data pendapatan yang diminta tidak relevan dengan pokok sengketa. Mereka juga menuduh Pitt sengaja memelintir pernyataan klien mereka. Dalam dokumen balasan, pengacara Jolie menulis, 'Pitt mengklaim bahwa Jolie mempertaruhkan seluruh kondisi finansialnya sejak 2017 karena tuduhannya tentang 'kemandirian finansial'. Namun, kutipan selektif Pitt gagal menyertakan konteks utuh: Jolie tidak menuntut kemandirian finansial secara abstrak, melainkan 'kemandirian finansial dari mantan suaminya'. Berpisah dari mantan suami jelas berbeda dengan mengalami kesulitan keuangan umum.'
Pertarungan ini bukan sekadar drama selebritas. Di Indonesia, kasus ini menjadi pengingat pentingnya perjanjian pranikah yang jelas, terutama bagi pasangan dengan aset produktif seperti properti atau bisnis. Pengacara keluarga di Jakarta menilai bahwa transparansi keuangan sering menjadi titik rawan saat perceraian, apalagi jika salah satu pihak mengorbankan karier demi keluarga. 'Kasus Pitt-Jolie menunjukkan bahwa klausul tentang pembagian aset dan kewajiban finansial harus dirinci, bukan sekadar formalitas,' ujar seorang analis hukum yang enggan disebut namanya.
Di sisi lain, tim Jolie sebelumnya menyatakan bahwa aktris tersebut 'sebagian besar menahan kariernya, melewatkan tahun-tahun kompensasi'. Mereka berargumen bahwa permintaan Pitt justru akan memperjelas tuduhan 'paksaan' dan 'pengaruh ekonomi' yang mereka lontarkan. Namun, pengacara Jolie menegaskan bahwa 'seluruh dasar Pitt memaksa jawaban ini adalah teori karangan yang tidak pernah diajukan Jolie'.
Pertanyaan besarnya kini: akankah pengadilan mengabulkan permintaan Pitt? Jika ya, publik akan melihat secara langsung seberapa besar pendapatan Jolie dari industri film, yang bisa menjadi preseden bagi kasus serupa di masa depan. Namun, jika ditolak, Pitt harus mencari bukti lain untuk memperkuat gugatannya. Yang jelas, pertarungan di ruang sidang ini masih jauh dari kata usai, dan setiap langkah hukum baru akan terus menjadi sorotan media global.



