Roger Schmidt Gantikan Klopp sebagai Kepala Sepak Bola Global Red Bull
Baca dalam 60 detik
- Red Bull resmi menunjuk Roger Schmidt sebagai kepala sepak bola global, menggantikan Jürgen Klopp yang hengkang ke timnas Jerman.
- Schmidt membawa pengalaman luas dari berbagai liga Eropa dan Asia, siap mengawasi operasional klub-klub Red Bull di lima negara.
- Langkah ini menegaskan ambisi Red Bull memperkuat jaringan pengembangan pemain global, dengan implikasi bagi pasar Asia termasuk Indonesia.

Red Bull secara resmi menunjuk Roger Schmidt sebagai Kepala Sepak Bola Global, menggantikan Jürgen Klopp yang memutuskan mundur setelah kurang dari dua tahun menjabat. Keputusan ini diumumkan pada Jumat (13/6/2025), menandai babak baru bagi grup olahraga asal Austria tersebut dalam mengelola portofolio klub sepak bolanya di berbagai benua.
Schmidt, yang kini berusia 59 tahun, bukan wajah asing di lingkungan Red Bull. Pada periode 2012 hingga 2014, ia menukangi Red Bull Salzburg dan sukses mempersembahkan gelar ganda Bundesliga Austria serta Piala Austria di musim terakhirnya. Karier kepelatihannya kemudian berlanjut ke Bayer Leverkusen, Beijing Guoan, PSV Eindhoven, dan Benfica, memberinya perspektif lintas liga yang kaya—dari Eropa Barat hingga Asia Timur.
Direktur Olahraga Red Bull, Oliver Mintzlaff, menyambut hangat kembalinya Schmidt. "Kami sangat senang menyambut Roger Schmidt kembali ke Red Bull," ujarnya dalam pernyataan resmi. Mintzlaff menilai pengalaman Schmidt di berbagai kompetisi akan menjadi aset berharga dalam mengarahkan strategi sepak bola grup ke depan.
Sebagai Kepala Sepak Bola Global, Schmidt akan mengawasi operasional sepak bola di seluruh klub milik Red Bull, termasuk RB Leipzig di Jerman, Red Bull Salzburg di Austria, New York Red Bulls di Amerika Serikat, Red Bull Bragantino di Brasil, dan Omiya Ardija di Jepang. Tugas utamanya adalah menyelaraskan strategi olahraga dan jalur pengembangan pemain di semua klub tersebut, memastikan filosofi Red Bull diterapkan secara konsisten.
Langkah ini diambil di tengah dinamika besar di tubuh Red Bull. Klopp, yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Sepak Bola Global, memilih hengkang untuk menangani tim nasional Jerman setelah Julian Nagelsmann mengundurkan diri. Keputusan Klopp mengejutkan banyak pihak, mengingat ia baru bergabung dengan Red Bull pada awal 2024. Namun, Red Bull bergerak cepat dengan menunjuk Schmidt, yang dianggap memiliki pemahaman mendalam tentang budaya klub-klub Red Bull.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki relevansi tersendiri. Red Bull selama ini dikenal agresif dalam merekrut pemain muda berbakat dari berbagai kawasan, termasuk Asia. Dengan Schmidt yang pernah berkarier di Beijing Guoan, ia dipandang memiliki kepekaan terhadap pasar Asia. Hal ini bisa membuka peluang lebih besar bagi pemain Asia Tenggara, termasuk Indonesia, untuk dilirik klub-klub Red Bull. Meski belum ada indikasi langsung, jejaring Red Bull yang luas bisa menjadi jembatan bagi talenta muda Indonesia untuk menembus liga Eropa.
Para analis menilai penunjukan Schmidt sebagai langkah strategis Red Bull untuk menjaga kesinambungan proyek sepak bola global mereka. Schmidt dikenal sebagai pelatih dengan gaya pressing tinggi dan pengembangan pemain muda yang baik—karakteristik yang sejalan dengan filosofi Red Bull. Namun, tantangan terbesarnya adalah menyatukan visi di tengah perbedaan regulasi dan budaya sepak bola di tiap negara.
Ke depan, publik akan mengamati bagaimana Schmidt menerjemahkan pengalamannya ke dalam kebijakan transfer dan pembinaan usia muda di seluruh jaringan Red Bull. Apakah ia akan membawa perubahan signifikan, atau sekadar melanjutkan apa yang telah dibangun Klopp? Yang jelas, Red Bull tidak ingin kehilangan momentum di tengah persaingan ketat sepak bola global.



