Cloudflare Naikkan Proyeksi Pendapatan Tahunan di Atas Ekspektasi Pasar, Saham Melonjak 18%
Baca dalam 60 detik
- Cloudflare merevisi target pendapatan 2025 menjadi US$2,86โ2,87 miliar, melampaui konsensus analis.
- Lonjakan permintaan layanan keamanan dan cloud dipicu adopsi agen AI oleh korporasi global.
- Langkah efisiensi melalui PHK 20% tenaga kerja mulai membuahkan hasil, tercermin dari margin laba yang membaik.

Cloudflare, perusahaan keamanan digital asal Amerika Serikat, mengerek proyeksi pendapatan tahun penuh di atas perkiraan analis Wall Street menyusul kinerja kuartal kedua yang solid. Saham perusahaan langsung melesat 18% dalam perdagangan setelah jam bursa, mencerminkan optimisme investor terhadap pertumbuhan bisnis yang ditopang gelombang adopsi kecerdasan buatan (AI).
Dalam laporan keuangan yang dirilis Rabu (6/8), Cloudflare menaikkan panduan pendapatan 2025 menjadi US$2,86 miliar hingga US$2,87 miliar, naik dari sebelumnya US$2,805โ2,813 miliar. Angka tersebut berada di atas rata-rata estimasi analis yang dihimpun LSEG sebesar US$2,81 miliar. Pendapatan kuartal kedua yang berakhir 30 Juni tercatat US$696,1 juta, melampaui ekspektasi pasar sebesar US$665,5 juta.
Lonjakan permintaan ini tidak lepas dari peran Cloudflare sebagai infrastruktur penting bagi perusahaan yang mengembangkan dan menjalankan agen AI. Semakin banyak korporasi yang mengandalkan jaringan Cloudflare untuk merutekan lalu lintas data dan mengoperasikan alat AI secara aman, mendorong pertumbuhan produk cloud dan keamanan siber perusahaan. Fenomena ini sejalan dengan tren global di mana perusahaan teknologi besar berlomba membangun agen AI otonom yang mampu mengeksekusi tugas kompleks.
Kinerja positif juga terlihat dari laba per saham (EPS) yang disesuaikan sebesar US$0,29, lebih tinggi dari perkiraan US$0,27. Untuk kuartal ketiga, Cloudflare memproyeksikan pendapatan antara US$736 juta dan US$737 juta, juga di atas estimasi analis sebesar US$722,1 juta. Perusahaan turut menaikkan panduan laba tahunan menjadi US$1,25โ1,26 per saham, dari sebelumnya US$1,19โ1,20.
Di balik kinerja cemerlang ini, Cloudflare tengah menjalani transformasi internal yang agresif. Pada Mei lalu, perusahaan mengumumkan pemangkasan sekitar 20% tenaga kerja atau lebih dari 1.100 karyawan sebagai bagian dari restrukturisasi berbasis AI. Langkah ini dinilai sebagai upaya untuk meningkatkan efisiensi operasional dan memfokuskan sumber daya pada area pertumbuhan, meskipun menimbulkan kekhawatiran akan dampak sosial di kalangan pekerja teknologi.
Bagi pasar Indonesia, perkembangan ini memberikan sinyal penting. Pertumbuhan Cloudflare mencerminkan meningkatnya kebutuhan akan infrastruktur digital yang aman dan andal, terutama seiring dengan percepatan transformasi digital di dalam negeri. Perusahaan-perusahaan Indonesia yang mengadopsi AI dan cloud computing perlu mempertimbangkan ketahanan jaringan dan keamanan siber sebagai prioritas utama. Selain itu, tren efisiensi melalui PHK di perusahaan teknologi global bisa menjadi pelajaran bagi startup lokal untuk lebih berhati-hati dalam ekspansi.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah apakah momentum pertumbuhan Cloudflare dapat bertahan di tengah persaingan ketat dari raksasa cloud seperti Amazon Web Services dan Microsoft Azure. Dengan investasi besar-besaran di bidang AI, Cloudflare tampaknya berada di jalur yang tepat, tetapi pasar akan terus menguji kemampuan perusahaan untuk menjaga pertumbuhan sambil menjaga profitabilitas.



