Ancaman Ganda di Batang Toru: Studi Baru Ungkap Nasib Orangutan Tapanuli yang Kian Terdesak
Baca dalam 60 detik
- Studi terbaru menunjukkan deforestasi di Batang Toru tidak hanya dipicu proyek besar, tetapi juga pertanian skala kecil dan penebangan liar yang terus berlanjut.
- Siklon tropis Senyar pada akhir 2025 menghancurkan lebih banyak hutan dalam enam hari dibanding total deforestasi 23 tahun terakhir, mengancam sekitar 7% populasi orangutan Tapanuli.
- Para peneliti menyerukan pendekatan konservasi terpadu yang melibatkan masyarakat, penguatan tata kelola lahan, dan peran aktif sektor swasta untuk mencegah kepunahan spesies ini.

Di kedalaman hutan Sumatra Utara, orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) yang merupakan kera besar paling langka di dunia, kini menghadapi ancaman yang jauh lebih kompleks daripada sekadar proyek pembangunan. Populasinya yang kurang dari 800 individu ini terisolasi di ekosistem Batang Toru, sebuah kawasan yang juga menjadi rumah bagi harimau Sumatra, trenggiling, dan berbagai spesies langka lainnya. Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di Biological Conservation mengungkap bahwa tekanan terhadap habitat mereka datang dari berbagai arah secara bersamaan, mulai dari industri ekstraktif, perluasan pertanian, hingga bencana alam yang dipicu perubahan iklim.
Selama ini, perdebatan tentang masa depan Batang Toru sering kali terfokus pada proyek-proyek besar seperti pembangkit listrik tenaga air, tambang emas, dan energi panas bumi. Namun, penelitian yang dilakukan dengan menggabungkan data satelit, wawancara dengan masyarakat lokal, dan metode evaluasi dampak yang disebut synthetic control method ini menemukan gambaran yang lebih rumit. Metode tersebut menciptakan 'kembaran' hutan Batang Toru untuk memperkirakan apa yang akan terjadi jika industri ekstraktif tidak pernah masuk, sehingga peneliti dapat mengukur dampak tambahan dari kehadiran proyek-proyek tersebut.
Hasilnya, antara tahun 2000 dan 2023, Batang Toru kehilangan sekitar 7.659 hektare hutan, atau setara 5% dari total tutupan hutannya. Laju deforestasi meningkat tajam setelah 2012, bertepatan dengan dimulainya tiga proyek ekstraktif besar di kawasan itu. Dengan metode sintetik, diperkirakan Batang Toru kehilangan sekitar 3.472 hektare hutan lebih banyak dibandingkan skenario tanpa proyek-proyek tersebut. Namun, analisis spasial menunjukkan bahwa sekitar 70% dari total kehilangan hutan justru terkait dengan pertanian skala kecil dan penebangan kayu. Industri ekstraktif memang memicu lonjakan deforestasi, tetapi perluasan lahan pertanian dan penebangan terus berlanjut dan bahkan meningkat seiring waktu.
Fenomena ini menunjukkan bahwa berbagai faktor perusak hutan bekerja dalam skala waktu yang berbeda. Proyek infrastruktur besar dapat memicu perubahan mendadak, sementara perluasan pertanian dan penebangan memberikan tekanan yang lebih lambat namun terus-menerus, yang secara bertahap memecah belah habitat. Untuk memahami mengapa hutan hilang, peneliti tidak hanya mengandalkan citra satelit, tetapi juga berkolaborasi dengan organisasi non-pemerintah Indonesia, Tangguh Hutan Khatulistiwa (TAHUKAH), dengan dukungan Sumatran Orangutan Society (SOS). Melalui observasi partisipatif, wawancara, dan diskusi kelompok dengan masyarakat sekitar Batang Toru, terungkap bahwa keputusan penggunaan lahan sangat dipengaruhi oleh harga komoditas, perubahan kepemilikan lahan, pembangunan jalan, dan strategi mata pencaharian lokal.
Salah satu contohnya adalah penurunan harga karet yang mendorong warga membuka lahan karet untuk diganti dengan tanaman pisang. Konversi lahan yang tidak teratur ini sering kali terjadi karena tumpang tindih klaim antara lahan adat dan lahan milik negara, serta lemahnya pengawasan terhadap penebangan skala kecil. Hal ini menegaskan bahwa masalah konservasi pada dasarnya adalah masalah manusia, mengingat masyarakat lokal dan orangutan Tapanuli telah hidup berdampingan selama beberapa generasi.
Tekanan-tekanan lama ini kini diperparah oleh ancaman baru yang datang dari iklim. Pada akhir 2025, Siklon Tropis Senyar melanda Sumatra dengan curah hujan ekstrem, memicu banjir dan tanah longsor besar. Diperkirakan sekitar 8.300 hektare hutan rusak di Blok Barat Batang Toru saja, yang berpotensi menyebabkan hilangnya sekitar 58 individu orangutan Tapanuli, atau sekitar 7% dari populasi global spesies ini. Yang lebih mencengangkan, kerusakan hutan akibat peristiwa enam hari ini melebihi total deforestasi yang tercatat di seluruh ekosistem Batang Toru antara 2000 dan 2023.
Menurut para peneliti, upaya konservasi yang hanya menyasar satu faktor tekanan tidak akan cukup untuk menyelamatkan spesies ini. Diperlukan pendekatan terpadu yang memperkuat keamanan kepemilikan lahan, meningkatkan pemantauan penebangan, mendukung mata pencaharian berkelanjutan, dan memberikan insentif kepada masyarakat yang menjaga hutan. Sektor swasta juga diharapkan berperan melalui restorasi, kompensasi keanekaragaman hayati, dan pengelolaan jangka panjang.
Bagi Indonesia, temuan ini menjadi pengingat bahwa pelestarian orangutan Tapanuli bukan sekadar melindungi satu spesies, melainkan menjaga ketahanan seluruh lanskap yang menjadi salah satu ekosistem paling kaya dan terancam di dunia. Pertanyaannya, akankah pemerintah dan para pemangku kepentingan mampu mengintegrasikan kepentingan ekonomi, sosial, dan lingkungan secara berkelanjutan sebelum semuanya terlambat?



