Saham SpaceX Bangkit dari Keterpurukan, Investor Masih Waspadai Gelombang Penjualan Insider
Baca dalam 60 detik
- Harga saham SpaceX naik 6,4% setelah aksi jual besar-besaran pasca-laporan keuangan, namun kekhawatiran akan pelepasan saham oleh orang dalam masih membayangi.
- Aturan lock-up yang tidak biasa memungkinkan hingga 20% saham terbatas diperdagangkan mulai Kamis, berpotensi menambah pasokan dan meningkatkan volatilitas.
- Analis menilai fokus jangka panjang pada efisiensi biaya dan ekspansi AI tetap menjadi kunci pemulihan nilai perusahaan di tengah tekanan pasar.

Saham SpaceX berhasil memulihkan diri dari aksi jual tajam pasca-pengumuman laba kuartal kedua, meskipun para investor masih mencermati potensi gelombang penjualan oleh pihak internal yang dapat menekan harga saham perusahaan antariksa yang baru melantai di bursa itu.
Pada perdagangan Kamis, saham yang dipimpin Elon Musk ini ditutup menguat 6,4 persen ke level 115,20 dolar AS, setelah sempat anjlok hingga 2,9 persen di awal sesi. Padahal sehari sebelumnya, sahamnya ambles 13,6 persen. Pergerakan ini terjadi di tengah kekhawatiran bahwa berakhirnya masa lock-up akan membuka keran penjualan saham oleh karyawan dan investor awal.
Dalam mekanisme pasar modal, lock-up biasanya membatasi eksekutif, karyawan, dan investor awal untuk menjual sahamnya selama 180 hari setelah IPO, guna menjaga stabilitas harga. Namun, SpaceX menerapkan skema yang berbeda: sejak Kamis, hingga 20 persen dari saham terbatas sudah bisa diperdagangkan, hanya dua hari bursa setelah rilis laporan keuangan kuartal kedua. Kebijakan ini dinilai tidak lazim dan memicu spekulasi di kalangan pelaku pasar.
Nick de la Forge, salah satu pendiri dan mitra umum di firma investasi Planet A, menilai hiruk-pikuk seputar lock-up ini hanyalah kebisingan sesaat. "Kebisingan pekan ini seputar lock-up pertama sebaiknya dianggap sebagai gangguan belaka," ujarnya. Namun, tidak semua analis sepakat. Carolane de Palmas, analis pasar di ActivTrades, mengingatkan bahwa karyawan dan investor awal mungkin tergoda untuk mengunci keuntungan atau mencari peluang investasi lain. "Bahkan tanpa penjualan besar-besaran, peningkatan jumlah saham yang tersedia kemungkinan akan menjaga volatilitas tetap tinggi," katanya.
Kondisi ini menjadi ujian bagi SpaceX yang tengah berada di persimpangan jalan. Setelah melonjak pada Juni dan sempat mendekati valuasi 3 triliun dolar AS, sahamnya kini terperosok di bawah harga IPO selama tiga pekan. Salah satu pemicunya adalah biaya besar untuk kecerdasan buatan (AI) yang diungkapkan dalam laporan keuangan pertama setelah go public. Belanja untuk pusat data dan chip disebut-sebut menjadi beban baru yang mengkhawatirkan investor.
Kinerja SpaceX pun tertinggal jauh dari rekan-rekan teknologinya. Sejak debut pada 12 Juni, sahamnya telah kehilangan lebih dari seperempat nilainya, sementara indeks Nasdaq Composite justru naik 2,2 persen. Bahkan Roundhill Magnificent Seven ETF, yang melacak perusahaan teknologi berkapitalisasi besar, mencatat kenaikan 4,8 persen dalam periode yang sama. Namun, sebagian pelaku pasar tetap optimistis. Micah Walter-Range, spesialis industri antariksa yang turut menyusun indeks Procure Space ETF, menilai SpaceX telah mencapai efisiensi luar biasa dalam peluncuran dan satelit, dan kini menerapkan pola pikir yang sama untuk membangun infrastruktur AI.
Bagi investor jangka panjang, koreksi ini justru dipandang sebagai peluang. Phillip Lord, CEO Bitcoin Japan yang turut menanamkan modal di SpaceX, menegaskan komitmennya. "Kami berinvestasi untuk jangka panjang. Ini perdagangan 10 tahun bagi kami," ujarnya. "Anda khawatir tentang potensi penurunan 5, 10, atau 20 persen pada pergerakan saham. Orang ini sedang mengubah dunia," tambahnya merujuk pada Musk. Adapun Musk sendiri pernah menyatakan target pendapatan SpaceX mencapai 1 triliun dolar AS pada 2030.
Bagi pasar Indonesia, dinamika saham SpaceX menjadi pengingat akan tingginya volatilitas saham teknologi global, terutama yang baru melantai. Investor domestik yang terpapar melalui reksa dana atau produk investasi luar negeri perlu mencermati risiko lock-up dan ketergantungan pada belanja AI. Meski demikian, fundamental jangka panjang perusahaan antariksa ini tetap menjadi perhatian utama, seiring dengan meningkatnya minat Indonesia pada industri antariksa dan teknologi satelit.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah SpaceX mampu mempertahankan momentum pertumbuhan di tengah tekanan biaya AI dan potensi aksi jual insider. Jika berhasil membuktikan efisiensi operasionalnya, bukan tidak mungkin sahamnya kembali menanjak. Namun, jika kekhawatiran pasokan saham terus membayangi, volatilitas bisa berlanjut dalam beberapa pekan ke depan.



