FIFA Terancam Boikot Global: Rencana Jual Saham Piala Dunia Picu Gelombang Penolakan
Baca dalam 60 detik
- FSE mendesak FIFA membatalkan rencana penjualan saham Piala Dunia dan menuntut reformasi internal.
- UEFA dan konfederasi Asia serta Amerika Utara kompak menolak, bahkan penasihat senior Infantino mundur.
- Langkah FIFA dinilai mengancam tata kelola sepak bola global dan memicu krisis kepercayaan publik.

Rencana FIFA untuk melepas sebagian kepemilikan Piala Dunia kepada investor swasta memicu perlawanan luas dari komunitas sepak bola dunia. Jaringan pendukung suporter Eropa, Football Supporters Europe (FSE), secara terbuka menolak inisiatif tersebut dan mendesak badan sepak bola tertinggi itu melakukan pembenahan internal. Penolakan ini muncul di tengah tekanan yang semakin besar, termasuk ancaman boikot turnamen oleh asosiasi sepak bola Eropa.
Langkah FIFA yang diumumkan belum lama ini langsung menuai kritik tajam. UEFA, yang menaungi 55 federasi nasional Eropa, telah mengambil sikap tegas dengan memboikot seluruh ajang FIFA, termasuk Piala Dunia. Sikap ini mendapat dukungan dari Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) dan Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (CONCACAF). Bahkan, Carlos Cordeiro, penasihat senior Presiden FIFA Gianni Infantino, memilih mundur sebagai bentuk protes terhadap rencana kontroversial tersebut.
Stuart Dykes, Direktur Urusan Eropa dan Institusional FSE, menyatakan bahwa para suporter merasa geram dengan usulan itu. Menurutnya, sepak bola bukanlah komoditas yang bisa diperjualbelikan untuk kepentingan segelintir investor. "Sepak bola adalah aset sosial. Nilainya diciptakan oleh para penggemar, pemain, dan semua pihak yang terlibat di dalamnya. Nilai itu tidak seharusnya dieksploitasi FIFA untuk kepentingan investor swasta," ujarnya dalam wawancara dengan Reuters.
Dykes juga menyoroti minimnya transparansi dalam pengambilan keputusan yang berdampak besar pada masa depan olahraga ini. "Keputusan seperti ini tidak boleh diambil di balik pintu tertutup oleh segelintir orang yang bahkan tidak berkecimpung di dunia sepak bola. FIFA harus mereformasi dirinya sendiri," tegasnya. Ia menambahkan bahwa langkah UEFA yang berhasil menyatukan 55 negara Eropa dalam satu suara merupakan sinyal kuat bahwa seluruh komunitas sepak bola berdiri di belakang UEFA.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki relevansi yang signifikan. Sebagai negara dengan basis penggemar sepak bola yang besar, Indonesia tentu berkepentingan terhadap arah kebijakan FIFA. Jika rencana penjualan saham ini terus dilanjutkan, dikhawatirkan akan berdampak pada biaya penyelenggaraan turnamen, hak siar, dan bahkan peluang pengembangan sepak bola di negara berkembang. Selain itu, sikap UEFA yang tegas bisa menjadi preseden bagi negara-negara lain untuk menuntut tata kelola FIFA yang lebih transparan dan akuntabel.
Kritik terhadap FIFA sebenarnya bukan hal baru. Sebelumnya, berbagai isu seperti dugaan korupsi dan kurangnya representasi negara berkembang sering kali menjadi sorotan. Namun, rencana penjualan saham ini dianggap sebagai langkah yang terlalu jauh karena berpotensi mengubah struktur kepemilikan turnamen paling bergengsi di dunia. Para pengamat menilai bahwa FIFA perlu lebih mendengarkan suara publik dan pemangku kepentingan sebelum mengambil keputusan besar.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah FIFA akan menarik kembali rencana ini atau justru memaksakannya dengan mengabaikan gelombang protes. Jika FIFA tetap bersikukuh, bukan tidak mungkin boikot yang digagas UEFA akan diikuti oleh konfederasi lain, yang pada akhirnya bisa menggerus kredibilitas dan pendapatan FIFA sendiri. Di sisi lain, jika FIFA mundur, hal ini bisa menjadi momentum bagi reformasi internal yang selama ini dituntut banyak pihak.



