Moonshot Dapat 20.000 Chip Nvidia dari Alibaba: Strategi Cina Menembus Blokade AS
Baca dalam 60 detik
- Kesepakatan komputasi antara Moonshot dan Alibaba melibatkan sekitar 20.000 chip Nvidia generasi Hopper, menurut laporan Bloomberg.
- Akses ke chip canggih menjadi kendala utama bagi perusahaan AI Cina akibat pembatasan ekspor AS, mendorong jalur alternatif seperti melalui Asia Tenggara.
- Model Kimi K3 dari Moonshot disebut melampaui Qwen milik Alibaba dalam beberapa tolok ukur, memicu persaingan internal dan sorotan dari regulator AS.

Perusahaan kecerdasan buatan asal Cina, Moonshot, dilaporkan memiliki perjanjian komputasi dengan Alibaba Group yang mencakup penggunaan sekitar 20.000 chip Nvidia. Kabar ini diungkap Bloomberg News pada Jumat lalu dengan mengutip sumber yang mengetahui masalah tersebut, menandai langkah strategis di tengah ketatnya pembatasan ekspor teknologi AS.
Alibaba, yang merupakan salah satu investor terbesar Moonshot, mendorong perusahaan portofolionya untuk memanfaatkan layanan cloud miliknya. Klaster chip Nvidia yang disediakan Alibaba menjadi tulang punggung komputasi untuk model-model Kimi besutan Moonshot. Namun, juru bicara Alibaba membantah keras tuduhan pasokan chip H200 tersebut, menyebutnya "benar-benar tidak berdasar" dalam pernyataan tertulis kepada Reuters.
Moonshot baru saja meluncurkan Kimi K3, model dengan 2,8 triliun parameter yang diklaim sebagai sistem AI open-weight terbesar di dunia. Perusahaan menyatakan performanya mendekati model frontier milik raksasa AS, Anthropic. Namun, di balik pencapaian tersebut, akses terhadap daya komputasi menjadi isu krusial bagi perusahaan Cina akibat pembatasan ekspor chip canggih oleh Washington.
Menurut laporan Bloomberg, Moonshot dapat mengakses prosesor Blackwell generasi terbaru Nvidia melalui Asia Tenggara dan tengah mencari tambahan chip untuk melatih model berikutnya. Sementara itu, sekitar 20.000 chip yang tersedia saat ini berasal dari generasi Hopper yang lebih lama, yang sebelumnya menjadi standar industri sebelum kehadiran Blackwell.
Laporan ini muncul di tengah meningkatnya pengawasan dari pejabat AS. Michael Kratsios, penasihat teknologi utama Gedung Putih, pekan lalu mengungkapkan bahwa pemerintah AS memiliki informasi yang menunjukkan Moonshot menyuling model Claude Fable 5 milik Anthropic untuk mengembangkan Kimi K3. Tuduhan ini menambah daftar panjang ketegangan antara perusahaan AI Cina dan regulator AS.
Menariknya, Moonshot justru berhasil mengungguli Qwen milik Alibaba dalam sejumlah tolok ukur kinerja, meskipun keduanya memiliki akses sumber daya pelatihan yang serupa. Hal ini dilaporkan mengecewakan sebagian karyawan Alibaba, menunjukkan dinamika persaingan yang tidak biasa antara investor dan perusahaan portofolio.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat akan pentingnya kemandirian teknologi. Negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, sering kali menjadi penonton dalam persaingan AI global. Namun, dengan populasi digital yang besar dan adopsi teknologi yang cepat, Indonesia memiliki peluang untuk menjadi pemain kunci jika mampu membangun infrastruktur dan sumber daya manusia yang memadai. Regulasi yang adaptif dan investasi dalam riset AI menjadi langkah krusial agar tidak tertinggal.
Reuters belum dapat memverifikasi laporan tersebut secara independen. Moonshot tidak dapat dihubungi untuk dimintai komentar di luar jam kerja, sementara Gedung Putih, Departemen Perdagangan AS, dan Nvidia belum menanggapi permintaan komentar. Ketidakjelasan ini menyisakan banyak pertanyaan: Apakah tuduhan distilasi model akan berdampak pada operasional Moonshot? Bagaimana respons Cina terhadap tekanan AS yang semakin intensif? Yang jelas, persaingan AI global semakin memanas, dan Indonesia perlu bersiap menghadapi dampaknya.



