Tur Bersejarah All Blacks ke Afrika Selatan: Ujian Berat Sebelum Piala Dunia 2027
Baca dalam 60 detik
- All Blacks memulai tur klasik ke Afrika Selatan setelah 30 tahun, dengan tiga tes melawan Springboks dan pertandingan pemanasan melawan tim provinsi.
- Kapten Ardie Savea diistirahatkan karena beban kerja berat sejak Januari 2025, sementara Codie Taylor ditunjuk sebagai kapten pengganti.
- Tur ini menjadi pemanasan krusial bagi Selandia Baru menjelang Piala Dunia 2027 di Australia, dengan dukungan besar dari penggemar di Cape Town.

Setelah tiga dekade, Selandia Baru akhirnya kembali menjalani tur klasik ke Afrika Selatan, sebuah perjalanan yang tidak hanya menguji ketangguhan fisik tetapi juga mental para pemain All Blacks. Tur ini dimulai dengan sambutan hangat dari ribuan penggemar di Cape Town, yang sejak era apartheid dikenal sebagai basis dukungan bagi tim tamu. Namun, di balik euforia tersebut, ada tantangan besar: menghadapi juara dunia empat kali di kandang sendiri, dengan jadwal padat yang menuntut strategi rotasi pemain yang cermat.
All Blacks akan memainkan tiga pertandingan tes melawan Springboks, ditambah satu lagi di Baltimore, Amerika Serikat. Sebelum itu, mereka akan beruji coba melawan tim provinsi seperti Stormers, Bulls, Sharks, dan Lions. Laga pembuka melawan Stormers dijadwalkan pada 8 Agustus di Cape Town, disusul tes pertama di Johannesburg dua pekan kemudian. Pelatih Dave Rennie menegaskan bahwa jadwal yang ketat ini memaksa tim untuk berbagi peran antara yang bertanding dan yang berlatih pada hari yang sama, sebuah ujian manajemen skuat yang tidak mudah.
Keputusan untuk mengistirahatkan kapten Ardie Savea pada awal tur menjadi sorotan. Savea telah bermain dan berlatih tanpa henti sejak Januari 2025, total sekitar 18 bulan rugby level tertinggi. Rennie menjelaskan bahwa istirahat ini diperlukan agar Savea tetap prima untuk laga-laga krusial. "Dia tidak akan bermain melawan Bulls, tetapi akan bergabung di Afrika Selatan sepuluh hari sebelum tes pertama," ujar Rennie. Langkah ini menunjukkan prioritas jangka panjang, terutama menjelang Piala Dunia 2027 di Australia.
Codie Taylor, yang ditunjuk sebagai kapten pengganti, memiliki kenangan manis bermain di Afrika Selatan saat masih era Super Rugby. Baginya, kehilangan kesempatan bertanding di sana adalah hal yang disayangkan, karena kompetisi tersebut memberikan pengalaman berbeda. "Mereka punya pemain besar, fisik, set-piece kuat, tetapi juga back yang cepat. Ini merek rugby yang berbeda dari yang kami mainkan di rumah," kata Taylor. Ia menilai tur ini sebagai awal yang sempurna untuk kalender padat menuju Piala Dunia 2027.
Bagi Indonesia, tur ini menarik untuk disimak karena menunjukkan bagaimana tim-tim besar mengelola beban pemain di tengah padatnya kalender internasional. Pelajaran tentang rotasi dan manajemen kebugaran bisa menjadi referensi bagi pengembangan olahraga di tanah air, terutama dalam menghadapi turnamen multi-cabang seperti SEA Games. Selain itu, antusiasme penggemar di Cape Town mengingatkan kita pada kekuatan sepak bola dan rugby dalam menyatukan masyarakat, sebuah fenomena yang juga terasa di Indonesia saat tim nasional bertanding.
Dengan dukungan ribuan penggemar di Cape Town, All Blacks mendapatkan suntikan moral yang besar. Namun, pertanyaan besarnya adalah apakah mereka mampu menjaga konsistensi performa di tengah jadwal yang padat dan lawan-lawan tangguh. Jika berhasil, tur ini akan menjadi fondasi kuat menuju Piala Dunia 2027. Jika tidak, ini bisa menjadi peringatan dini bagi Rennie dan timnya. Apakah All Blacks akan keluar sebagai pemenang dari ujian berat ini? Kita tunggu saja.



