Itochu Kuasai Setengah Saham Aviation Capital: Ekspansi Besar di Bisnis Sewa Pesawat
Baca dalam 60 detik
- Perusahaan trading Jepang, Itochu, mengakuisisi 50% saham Aviation Capital Group (ACG) senilai $1,946 miliar dari Tokyo Century.
- Akuisisi ini menandai langkah strategis Itochu untuk menjadikan bisnis penerbangan sebagai pilar pendapatan baru, dengan target laba ยฅ50 miliar dalam lima tahun.
- Kesepakatan dijadwalkan rampung pada kuartal ketiga tahun fiskal berjalan, memperkuat posisi Itochu di pasar sewa pesawat global yang terus tumbuh.

Itochu, perusahaan dagang raksasa asal Jepang, mengumumkan langkah besar dengan membeli 50 persen saham Aviation Capital Group (ACG), perusahaan penyewaan pesawat asal Amerika Serikat, dari Tokyo Century senilai 1,946 miliar dolar AS. Akuisisi ini menandai ekspansi agresif Itochu di sektor penerbangan, yang diyakini akan terus tumbuh seiring meningkatnya permintaan perjalanan udara global.
Kesepakatan yang diumumkan pada Senin (3/8) ini tidak hanya sekadar investasi finansial. Itochu juga akan mendapatkan peran dalam manajemen ACG, yang saat ini sepenuhnya dimiliki oleh anak perusahaan Tokyo Century. Dengan demikian, Itochu tidak hanya menjadi pemegang saham pasif, tetapi ikut serta dalam pengambilan keputusan strategis perusahaan.
Langkah ini sejalan dengan visi Itochu yang telah mengidentifikasi sektor penerbangan sebagai area pertumbuhan kunci. Saat ini, Itochu sudah menyewakan lebih dari 90 pesawat dan mesin ke berbagai maskapai di seluruh dunia. Dengan akuisisi ini, perusahaan menargetkan laba dari bisnis terkait penerbangan mencapai 50 miliar yen (sekitar 319 juta dolar AS) dalam lima tahun ke depan, naik signifikan dari perkiraan 16 miliar yen pada tahun fiskal 2026.
Chief Financial Officer Itochu, Hiroyuki Naka, dalam konferensi pers mengungkapkan bahwa akuisisi ini akan mempercepat ekspansi bisnis terkait dan menjadikan penerbangan sebagai pilar pendapatan baru. "Kami melihat potensi besar di pasar sewa pesawat, terutama dengan pemulihan industri penerbangan pasca-pandemi," ujarnya.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menarik untuk dicermati. Maskapai nasional seperti Garuda Indonesia dan Lion Air Group merupakan pelanggan potensial dari perusahaan penyewaan pesawat global. Dengan semakin besarnya pemain seperti Itochu di pasar sewa pesawat, persaingan di industri ini akan semakin ketat, yang bisa berdampak pada biaya sewa pesawat bagi maskapai Indonesia. Di sisi lain, meningkatnya investasi di sektor penerbangan juga bisa menjadi sinyal positif bagi pertumbuhan industri aviasi di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Para analis menilai bahwa langkah Itochu ini merupakan respons terhadap tren konsolidasi di industri penyewaan pesawat. Setelah pandemi, banyak maskapai yang lebih memilih menyewa daripada membeli pesawat untuk menjaga fleksibilitas keuangan. Hal ini mendorong perusahaan seperti Itochu untuk memperbesar skala bisnisnya agar dapat bersaing dengan raksasa seperti AerCap dan Avolon.
Kesepakatan ini dijadwalkan selesai pada kuartal ketiga tahun fiskal berjalan. Namun, perlu diingat bahwa transaksi semacam ini masih memerlukan persetujuan regulasi di berbagai yurisdiksi. Meski demikian, Itochu optimistis dapat menyelesaikan akuisisi tepat waktu dan segera mengintegrasikan ACG ke dalam operasionalnya.
Ke depan, pertanyaannya adalah bagaimana Itochu akan mengelola ACG dan apakah target laba yang ambisius tersebut realistis di tengah dinamika pasar penerbangan global yang masih penuh ketidakpastian, terutama dengan fluktuasi harga bahan bakar dan potensi resesi ekonomi. Namun, dengan langkah berani ini, Itochu menunjukkan keseriusannya untuk menjadi pemain utama di industri penerbangan, bukan hanya di Jepang, tetapi juga di panggung dunia.



