Bursa Asia Terbelah: Saham Teknologi Tertekan, Minyak Mencari Kepastian Kesepakatan AS-Iran
Baca dalam 60 detik
- Indeks berbau teknologi di Asia memerah, dengan Kospi Seoul jatuh lebih dari 4% dipimpin aksi jual saham SK Hynix dan Samsung.
- Kekhawatiran profitabilitas investasi AI kembali mengemuka setelah laporan keuangan SanDisk, Western Digital, dan SpaceX mengecewakan.
- Pasar menanti data tenaga kerja AS Jumat ini sambil mencermati perkembangan kesepakatan AS-Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Bursa saham global bergerak dua arah pada Kamis (6/8) di tengah investor yang mencermati musim laporan keuangan korporasi, sementara saham teknologi kembali tertekan oleh kekhawatiran atas profitabilitas investasi kecerdasan buatan (AI). Di sisi lain, pasar menanti kejelasan mengenai potensi kesepakatan Amerika Serikat-Iran yang dapat membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital bagi pasokan minyak dunia.
Di Eropa, indeks FTSE 100 London, DAX Frankfurt, dan CAC 40 Paris kompak menguat menjelang tengah hari. Diageo, produsen minuman beralkohol asal Inggris, melonjak 7 persen dan memimpin penguatan FTSE 100 setelah mengumumkan rencana pemangkasan biaya besar-besaran untuk membendung penurunan laba. Sementara itu, raksasa industri Jerman, Siemens, justru tergelincir 5 persen karena proyeksi pendapatannya di bawah ekspektasi analis.
Kondisi berbeda terjadi di Asia. Indeks berbau teknologi kompak tertekan oleh kekhawatiran bahwa belanja besar-besaran untuk AI belum menghasilkan keuntungan sepadan. Laporan keuangan SanDisk dan Western Digital yang mengecewakan, ditambah merosotnya saham SpaceX milik Elon Musk pada Rabu, memperburuk sentimen. Padahal, awal pekan ini saham teknologi sempat bangkit setelah sebulan terakhir mengalami aksi jual yang memangkas miliaran dolar dari valuasi pasar.
Kospi Seoul menjadi yang paling parah, jatuh lebih dari 4 persen, dengan SK Hynix ambles 10 persen dan Samsung kehilangan 6 persen. Nikkei Tokyo melemah hampir 1 persen, ditopang oleh penurunan Kioxia lebih dari 10 persen dan Tokyo Electron 5 persen. Hong Kong, Wellington, Manila, dan Taipei ikut terkoreksi, meski Shanghai, Sydney, dan Singapura masih mampu menghijau.
Di tengah gejolak saham teknologi, harga minyak justru bergerak naik tipis. Investor mencari konfirmasi bahwa kesepakatan AS-Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz benar-benar akan terwujud. Iran pada Rabu mengklaim telah menyepakati rute dengan Oman untuk kapal yang melintasi jalur tersebut dan tengah merampungkan pengaturan pengelolaan bersama. Namun, sumber resmi Iran menekankan bahwa pembukaan kembali selat itu bergantung pada komitmen AS untuk mengakhiri blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
"Kehati-hatian di harga minyak hari ini adalah tanda bahwa pasar membutuhkan konfirmasi dari Gedung Putih bahwa semua ini benar, dan prospek kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz bukanlah harapan palsu," ujar Kathleen Brooks, direktur riset di XTB, kepada media asing.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi ganda. Sebagai importir minyak, kepastian terbukanya Selat Hormuz akan membantu menstabilkan harga energi domestik dan menekan tekanan inflasi. Namun, pelemahan saham teknologi global juga berpotensi merembet ke pasar modal Indonesia, terutama pada emiten teknologi dan perusahaan yang terkait rantai pasok semikonduktor. Investor domestik perlu mencermati sentimen global ini, mengingat indeks harga saham gabungan (IHSG) kerap terpengaruh oleh pergerakan pasar regional.
Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian ke data tenaga kerja AS yang akan dirilis Jumat ini. Data sektor swasta yang dirilis Rabu menunjukkan perekrutan jauh di bawah ekspektasi, dengan sektor leisure dan hospitality kehilangan pekerjaan. Angka ini akan menjadi bahan pertimbangan Federal Reserve dalam menentukan langkah suku bunga berikutnya. Jika data tenaga kerja kembali lemah, spekulasi pemangkasan suku bunga akan menguat, yang bisa menjadi angin segar bagi pasar saham, termasuk di Indonesia.
Pertanyaan besarnya, akankah investor kembali percaya pada narasi AI setelah serangkaian laporan keuangan yang mengecewakan? Atau justru kesepakatan Selat Hormuz yang akan menjadi katalis utama pergerakan pasar pekan ini? Dua variabel ini akan menentukan arah bursa global dalam beberapa hari ke depan.



