Dolar Menguat Tipis, Pasar Menanti Data Tenaga Kerja AS dan Isyarat Kesepakatan Iran
Baca dalam 60 detik
- Pasar mata uang bergerak hati-hati di tengah spekulasi kesepakatan AS-Iran yang berpotensi mengubah dinamika pasokan energi global.
- Yen Jepang kehilangan sebagian keuntungannya setelah intervensi, sementara dolar AS bangkit dari level terendah enam pekan.
- Laporan nonfarm payrolls Jumat ini akan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga The Fed, dengan ekspektasi pasar yang terbelah.

Pasar valuta asing bergerak tanpa arah jelas pada Kamis (6/8) saat pelaku pasar menimbang dua katalis besar: potensi kesepakatan AS-Iran yang bisa mengubah peta energi global, serta rilis data tenaga kerja Amerika Serikat yang dijadwalkan Jumat (7/8). Dolar AS berhasil menguat tipis dari level terendah enam pekan, sementara yen Jepang kembali melemah setelah sempat menguat tajam akibat intervensi otoritas moneter Negeri Sakura.
Yen diperdagangkan di kisaran 157,85 per dolar AS, melemah tipis setelah dua hari sebelumnya mengalami penurunan. Mata uang Jepang itu sempat menyentuh 155,20 per dolar pada awal pekan, namun masih jauh dari level terendah multi-dekade di hampir 164 yang tercatat pada Juli. "Posisi pasar yang ekstrem, keterlibatan AS, dan fakta bahwa yen secara historis undervalued menunjukkan intervensi kali ini punya peluang lebih besar untuk menopang yen lebih lama dibanding upaya-upaya sebelumnya," ujar Jonas Goltermann, kepala ekonom pasar di Capital Economics.
Di sisi lain, euro melemah 0,1 persen ke 1,1542 dolar, dan sterling turun ke 1,3460 dolar. Indeks dolar, yang mengukur pergerakan greenback terhadap enam mata uang utama, naik 0,1 persen ke 99,77, setelah sebelumnya menyentuh level terendah enam pekan pada Senin. Pergerakan ini terjadi di tengah ketidakpastian yang masih menyelimuti negosiasi AS-Iran, terutama setelah laporan Reuters menyebut adanya usulan kesepakatan antara Iran dan Oman yang bisa memberi Teheran kendali atas lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
Presiden AS Donald Trump menyatakan kesepakatan untuk membuka kembali selat tersebut sudah dekat, namun para pejabat AS berulang kali menegaskan tidak akan pernah menyetujui Iran menguasai jalur perdagangan energi paling penting di dunia itu. Hingga kini, belum ada komentar resmi dari Washington mengenai proposal tersebut. Minyak mentah Brent naik tipis ke sekitar 80,20 dolar per barel, meski masih jauh di bawah level hampir 100 dolar yang sempat disentuh pada Juli saat ketegangan AS-Iran memuncak.
"Kita belum melihat volatilitas pasar minyak yang selama ini menjadi pendorong utama pergerakan pasar dalam beberapa hari terakhir," kata Ray Attrill, kepala strategi FX di National Australia Bank, dalam sebuah podcast. Ketegangan di Teluk memang masih menjadi perhatian, tetapi fokus pasar kini beralih ke data ekonomi AS yang bisa memberikan petunjuk arah kebijakan Federal Reserve.
Investor menantikan laporan nonfarm payrolls yang diperkirakan menunjukkan penambahan 80.000 lapangan kerja pada Juli, naik dari 57.000 pada Juni, dengan tingkat pengangguran diperkirakan stabil di 4,2 persen. Data ini menjadi krusial setelah The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan Juli, namun Ketua Fed Kevin Warsh menegaskan komitmen untuk menurunkan inflasi dan membuka peluang kenaikan suku bunga pada September. "Setiap rilis data setelah pertemuan Fed sangat penting," ujar Francesco Pesole, ahli strategi FX di ING. "Jika data payrolls besok panas, kita mungkin akan melihat akumulasi posisi beli dolar-yen yang baru."
Gubernur Fed Lisa Cook pada Rabu menyatakan keterbukaannya terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga jangka pendek untuk mengatasi inflasi yang "terlalu tinggi". Sementara itu, Presiden Fed San Francisco Mary Daly mengaku "sepenuhnya mendukung" keputusan pekan lalu untuk menahan suku bunga dan menekankan perlunya data tambahan sebelum pertemuan September. Pernyataan yang beragam ini mencerminkan perpecahan di internal The Fed, yang membuat pasar semakin sensitif terhadap setiap rilis data ekonomi.
Bagi Indonesia, pergerakan dolar AS dan kebijakan The Fed memiliki dampak langsung terhadap nilai tukar rupiah dan arus modal asing. Penguatan dolar yang berkelanjutan dapat menekan rupiah dan meningkatkan tekanan inflasi impor, sementara ketidakpastian global juga berpotensi memicu keluarnya modal asing dari pasar obligasi dan saham domestik. Bank Indonesia diperkirakan akan tetap waspada dan siap melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar, sebagaimana yang telah dilakukan sebelumnya.
Ke depan, pasar akan mencermati dua hal: apakah kesepakatan AS-Iran benar-benar terwujud dan bagaimana dampaknya terhadap harga minyak, serta bagaimana data tenaga kerja AS akan memengaruhi keputusan The Fed. Jika inflasi tetap tinggi dan pasar tenaga kerja masih solid, kenaikan suku bunga pada September menjadi semakin mungkin, yang bisa memperkuat dolar dan menekan mata uang emerging market, termasuk rupiah. Namun, jika data menunjukkan pelemahan, The Fed mungkin akan menahan diri, memberi ruang bagi mata uang Asia untuk menguat. Pertanyaannya, akankah The Fed berani menaikkan suku bunga di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi?



