Merek Dessert Korea Tokyo Berry Dituding Tiru Tokyo Banana, Gerai Pop-up Dibatalkan
Baca dalam 60 detik
- Tokyo Berry, merek dessert asal Korea Selatan, menuai kecaman karena kemiripan mencolok dengan Tokyo Banana, ikon oleh-oleh Jepang, hingga memicu pembatalan gerai pop-up di Seoul.
- Konsumen menilai nama, logo, dan kemasan Tokyo Berry sengaja dirancang menyerupai produk Jepang, menimbulkan kesan sebagai produk asli Negeri Sakura.
- Insiden ini menyoroti pentingnya diferensiasi merek di industri kuliner dan berpotensi memengaruhi strategi ekspansi merek Korea di pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Merek dessert asal Korea Selatan, Tokyo Berry, terpaksa membatalkan seluruh rencana gerai pop-up di Seoul setelah konsumen menudingnya menjiplak identitas visual Tokyo Banana, oleh-oleh legendaris asal Jepang. Gelombang kritik yang meluas di media sosial itu bahkan membuat sebagian warganet menyebutnya sebagai "aib nasional" bagi industri kuliner Korea.
Tokyo Berry yang baru diluncurkan pada Juni lalu sempat mencuri perhatian dengan antrean panjang di gerai pop-up di department store besar seperti Lotte dan Shinsegae. Namun, sorotan publik justru beralih dari rasa produk ke kemasan dan penamaan yang dinilai terlalu mirip dengan Tokyo Banana. Konsumen yang membandingkan kedua merek secara berdampingan mengaku sempat mengira Tokyo Berry adalah anak perusahaan atau afiliasi dari merek Jepang tersebut.
Kemiripan yang disorot meliputi penggunaan logo serif kapital, ilustrasi buah, grafis bergaya stempel, serta kemasan bernuansa pastel. Lebih jauh, penggunaan kata "Tokyo" dalam nama merek dianggap memperkuat asumsi bahwa produk tersebut berasal dari Jepang, padahal diproduksi di Korea Selatan. Tokyo Berry bahkan mempromosikan diri dengan frasa seperti "menangkap cita rasa buah musiman segar dan esensi Tokyo", yang dinilai semakin mengaburkan asal-usulnya.
Tak berhenti di situ, sebagian konsumen juga menuding Tokyo Berry menyalin kemasan bagian dalam dari merek dessert Korea, Hanjungsun, yang membungkus chapssaltteok-nya dengan kertas hanji tradisional. Tuduhan ini menambah daftar panjang persoalan etika bermerek yang dihadapi perusahaan rintisan tersebut.
Menanggapi tekanan publik, seorang pejabat department store di Korea Selatan mengonfirmasi kepada The Korea Herald bahwa seluruh gerai pop-up Tokyo Berry di masa depan telah dibatalkan. Sementara itu, Tokyo Berry memilih bungkam dan menonaktifkan kolom komentar di akun media sosialnya, hanya menyisakan dua unggahan resmi. Namun, unggahan dari para influencer yang mempromosikan produk tersebut masih dapat diakses.
Di sisi lain, Grapestone, perusahaan di balik Tokyo Banana, telah menanggapi isu ini. "Kami telah membagikan masalah ini ke departemen terkait dan sedang meninjau detailnya," demikian pernyataan resmi yang dilaporkan The Korea Herald. Hingga kini, belum ada pengumuman mengenai langkah hukum yang akan diambil.
Fenomena ini menjadi pengingat akan pentingnya identitas merek yang kuat dan orisinal di tengah persaingan industri kuliner Asia yang semakin ketat. Bagi Indonesia, kasus ini relevan mengingat pasar oleh-oleh dan dessert impor yang terus tumbuh. Konsumen Indonesia yang familiar dengan Tokyo Banana mungkin akan lebih kritis terhadap merek serupa yang mencoba memanfaatkan popularitas produk lain. Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Tokyo Berry akan mampu memperbaiki citranya atau justru menjadi contoh kasus klasik dalam literatur pemasaran tentang bahaya peniruan merek.



