Rekonsiliasi Total: Oasis Rencanakan Reuni Legendaris di Rock and Roll Hall of Fame
Baca dalam 60 detik
- Noel dan Liam Gallagher dikabarkan akan mengumpulkan seluruh personel klasik Oasis untuk seremoni pelantikan Rock and Roll Hall of Fame di Los Angeles, November mendatang.
- Undangan kepada Tony McCarroll, drummer yang dipecat pada 1995, menjadi sinyal kuat bahwa dendam lama telah berakhir dan rekonsiliasi mencapai titik puncak.
- Momen ini berpotensi menjadi pertunjukan bersejarah yang menyatukan kembali ikon Britpop, sekaligus membuka peluang tur tambahan hingga 2027.

Lima belas tahun setelah perpecahan yang mengguncang dunia musik Inggris, Oasis dikabarkan akan merayakan rekonsiliasi total dengan mengumpulkan seluruh personel era kejayaannya di panggung Rock and Roll Hall of Fame, Los Angeles, November mendatang. Momen ini bukan sekadar seremoni penghargaan, melainkan babak baru yang menutup luka lama dan merayakan warisan musik yang telah mendefinisikan generasi Britpop.
Menurut laporan The Sun, Noel Gallagher (59) dan Liam Gallagher (53) bertekad menghadirkan semua anggota yang pernah menjadi bagian dari formasi klasik band asal Manchester itu. Mereka termasuk Gem Archer, Paul "Bonehead" Arthurs, Andy Bell, serta mantan personel seperti Paul McGuigan, Alan White, dan yang paling menarik perhatian, Tony McCarroll—drummer pendiri yang dipecat pada 1995 setelah konfrontasi di sebuah hotel.
Undangan kepada Tony McCarroll menjadi sorotan utama. Selama bertahun-tahun, ia kerap mengungkapkan kekecewaannya atas cara ia disingkirkan dari band. Namun, sumber internal menyebut Tony kini telah menerima tawaran tersebut dan siap terbang ke Los Angeles. "Apa yang terjadi di masa lalu sudah menjadi air yang mengalir," ujar seorang sumber yang terlibat dalam persiapan acara, seperti dikutip The Sun. Ia menambahkan bahwa harapan untuk melihat para musisi ini tampil bersama masih menggantung, meski belum ada kepastian.
Rencana ini menjadi puncak dari rekonsiliasi yang dimulai tahun lalu melalui tur reuni Oasis Live '25. Tur tersebut sukses besar dengan menjual lebih dari dua juta tiket di seluruh dunia, menandai kembalinya Oasis ke panggung global setelah vakum sejak 2009. Kini, dengan pelantikan ke Rock and Roll Hall of Fame, Oasis tidak hanya merayakan pencapaian karier, tetapi juga menegaskan bahwa masa lalu yang pahit telah berubah menjadi kekuatan untuk bersatu.
Seremoni yang dijadwalkan berlangsung di Los Angeles ini akan menjadi panggung bagi para legenda musik dunia. Selain Oasis, deretan nama seperti Phil Collins, Iron Maiden, Joy Division/New Order, Billy Idol, Sade, dan Wu-Tang Clan juga akan dilantik. Kabar mengejutkan lainnya, Sir Paul McCartney dikabarkan akan menjadi pembawa acara untuk memperkenalkan Oasis—sebuah penghormatan yang semakin memperkuat signifikansi momen ini dalam sejarah musik rock.
Bagi penggemar di Indonesia, kabar ini membawa harapan akan adanya peluang tur Asia. Mengingat antusiasme besar terhadap musik Britpop di tanah air—yang pernah meledak pada era 90-an—peluang Oasis untuk menggelar konser di Jakarta atau kota besar lainnya menjadi spekulasi yang menarik. Meski belum ada pengumuman resmi, sejarah menunjukkan bahwa tur besar band internasional sering kali menyertakan Asia Tenggara dalam daftar pemberhentiannya.
Di sisi lain, momen ini juga menjadi refleksi tentang bagaimana konflik internal yang berkepanjangan dapat berakhir dengan rekonsiliasi yang bermartabat. Bagi industri musik Indonesia, kisah Oasis memberikan pelajaran bahwa perbedaan yang tampaknya tak terdamaikan pun masih menyisakan ruang untuk perdamaian, terutama ketika warisan dan apresiasi publik menjadi prioritas.
Namun, pertanyaan yang menggantung adalah: akankah para personel ini benar-benar tampil bersama di atas panggung? Meski harapan itu besar, panitia belum memberikan konfirmasi resmi. Jika terealisasi, penampilan tersebut akan menjadi salah satu momen paling bersejarah dalam rock 'n' roll, menyatukan kembali para arsitek suara yang pernah mengguncang dunia. Apakah ini akan menjadi pertunjukan perpisahan yang sempurna, atau justru awal dari babak baru yang lebih panjang? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal pasti: dunia musik akan menyaksikan dengan napas tertahan.



