Kembalinya Root ke Kursi Kapten Inggris: Peran Besar Stephen Fleming di Balik Keputusan Itu
Baca dalam 60 detik
- Joe Root resmi kembali menjadi kapten tim tes Inggris, menggantikan Ben Stokes yang pensiun.
- Penunjukan Stephen Fleming sebagai pelatih tes disebut sebagai faktor kunci yang mendorong Root menerima peran tersebut.
- Debut Fleming akan diuji saat Inggris menjamu Pakistan dalam seri tiga tes mulai 19 Agustus di Leeds.

Joe Root akhirnya buka suara perihal keputusannya kembali memegang ban kapten tim tes Inggris. Ia mengakui, kehadiran Stephen Fleming sebagai pelatih anyar menjadi alasan terbesar di balik kesediaannya mengemban tanggung jawab itu. Pernyataan ini sekaligus mengakhiri spekulasi yang sempat mengemuka di publik kriket Inggris.
Root menggantikan Ben Stokes yang memutuskan pensiun dari peran kapten setelah seri kandang melawan Selandia Baru. Sementara itu, Fleming ditunjuk menggantikan rekan senegaranya, Brendon McCullum, yang masa baktinya selama empat tahun sebagai pelatih tes berakhir bulan lalu. McCullum sendiri tetap bertahan sebagai pelatih tim white-ball Inggris.
"Sejujurnya, ini adalah alasan besar mengapa saya mau melakukannya," ujar Root kepada England and Wales Cricket Board (ECB), seperti dikutip Reuters. "Saya sangat antusias dengan cara dia memandang permainan, di mana dia melihat posisi kami sebagai tim, dan pekerjaan yang harus kami lakukan untuk mencapai target. Semua itu membuat saya bersemangat mengambil peran ini."
Fleming, mantan kapten Selandia Baru, memiliki rekam jejak mentereng sebagai pelatih. Selama 17 tahun ia menukangi Chennai Super Kings di Indian Premier League (IPL) sebelum hengkang bulan lalu. Pengalaman panjangnya di kompetisi paling bergengsi di India itu diyakini menjadi modal berharga untuk membawa Inggris ke level berikutnya.
Bagi pengamat kriket, kembalinya Root ke kursi kapten membawa nuansa berbeda dibanding era Stokes-McCullum yang dikenal dengan pendekatan agresif. Gaya "take-no-prisoners" yang diusung duet sebelumnya memang berhasil merebut hati penggemar. Namun, Root memberi sinyal bahwa dirinya dan Fleming ingin mempertahankan mentalitas menyerang tersebut, sembari menambahkan sentuhan pengalaman dan kematangan.
"Empat tahun terakhir adalah momen paling menyenangkan dalam karier kriket profesional saya," kata pemain berusia 35 tahun itu. "Memang, hasil belakangan ini yang masih segar di ingatan semua orang, tapi kita melihat periode empat tahun di mana kami melakukan banyak hal luar biasa. Saya mengambil banyak pelajaran dari situ, dan saya rasa itu akan menjadi bagian besar dari cara saya memimpin tim ke depan."
Keputusan ECB menunjuk Fleming tidak lepas dari kebutuhan akan figur yang mampu membangun kembali kepercayaan diri tim setelah serangkaian hasil kurang memuaskan. Fleming dinilai memiliki kapasitas untuk meramu strategi jangka panjang, sekaligus menjaga harmoni di ruang ganti. Kombinasi antara kecerdasan taktisnya dan pengalaman Root sebagai pemain senior diharapkan mampu membawa Inggris bersaing di level tertinggi.
"Dia jelas punya banyak pengalaman dan telah melakukan hal-hal luar biasa sebagai pemain dan pelatih. Saya sangat menantikan waktu ke depan dan mencoba membangun sesuatu yang istimewa bersama." โ Joe Root
Bagi penggemar kriket di Indonesia, dinamika kepemimpinan tim Inggris ini menarik untuk diikuti, terutama karena gaya bermain agresif yang diusung Stokes dan McCullum sebelumnya sempat menjadi tren global. Jika Fleming mampu mempertahankan identitas tersebut sambil memperbaiki konsistensi, Inggris berpotensi menjadi kekuatan dominan lagi. Namun, tantangan besar menanti: Pakistan bukan lawan sembarangan, dan tekanan publik di Leeds akan menjadi ujian pertama bagi duet baru ini.
Pertanyaannya kini, akankah gaya kepemimpinan Fleming yang tenang dan analitis mampu menyempurnakan agresivitas ala Inggris? Atau justru akan terjadi benturan filosofi yang berujung pada hasil kurang optimal? Seri melawan Pakistan akan menjadi jawaban awal, sekaligus penentu arah perjalanan Inggris dalam beberapa tahun ke depan.



