Kapal Terbakar di Perairan Jawa: Dua Penumpang Masih Hilang, Dugaan Ledakan Muncul
Baca dalam 60 detik
- Insiden kebakaran kapal feri rute SurabayaโMakassar menewaskan lima orang dan memicu lompatan massal penumpang ke laut.
- Data korban yang disampaikan otoritas berubah-ubah, dari 41 hilang menjadi dua, memunculkan pertanyaan tentang akurasi manifest.
- Keselamatan pelayaran Indonesia kembali disorot, dengan insiden serupa terjadi sebulan sebelumnya di perairan Selayar.

Dua penumpang kapal feri yang terbakar di perairan utara Jawa masih belum ditemukan hingga Senin (3/8), sehari setelah insiden yang menewaskan lima orang dan memaksa puluhan penumpang melompat ke laut. Kepala Badan Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Nanang Sigit menyatakan 229 orang telah dievakuasi dalam keadaan selamat, sementara lima jenazah berhasil diangkat dari lokasi kejadian. Namun, angka ini berbeda jauh dengan data awal yang menyebutkan 41 orang hilang, menimbulkan kebingungan di kalangan keluarga korban.
Kapal yang mengangkut 236 penumpang itu berangkat dari Surabaya menuju Makassar pada Minggu pagi (2/8). Kebakaran dilaporkan terjadi saat para penumpang sedang sarapan. Muhammad Abdul Karim, salah satu penyintas, menuturkan bahwa asap mulai memasuki ruang informasi dan area tidur sebelum akhirnya terdengar beberapa kali ledakan. Api diduga berasal dari bagian buritan kapal, memaksa penumpang berlari ke haluan untuk menyelamatkan diri. "Awalnya asap masuk ke ruang informasi, tempat tidur. Lalu terjadi ledakan," ujarnya kepada wartawan di Surabaya.
Kesaksian lain datang dari Bambang Susilo (36), yang merasakan lantai kapal semakin panas saat api mendekat. Bersama seorang penumpang wanita, ia memutuskan melompat dari ketinggian sekitar 10 meter ke laut. "Kami tidak punya pilihan selain pasrah," katanya di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya, tempat ia menunggu proses identifikasi jenazah rekannya. Bambang dan lima penyintas lainnya berenang menuju kapal penyelamat yang berjarak sekitar lima kilometer dari kapal yang terbakar. Ia mengaku tidak melihat sekoci penyelamat di atas kapal, sebuah temuan yang akan menjadi sorotan dalam investigasi.
Operasi pencarian masih berlanjut hingga Senin malam dengan mengerahkan kapal penyelamat tambahan. Nanang Sigit mengakui adanya perbedaan data jumlah korban dan sedang mengonfirmasi ulang dengan pemilik kapal. "Secara matematis, hanya dua yang belum dievakuasi. Kami sedang mengonfirmasi data ini dengan pemilik kapal," ujarnya. Sementara itu, Kepolisian Jawa Timur melalui Arman Asmara Syarifuddin menyebut 28 orang masih hilang, menambah ketidakpastian di tengah proses evakuasi.
Insiden ini kembali menggarisbawahi lemahnya standar keselamatan pelayaran di Indonesia, negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau. Kecelakaan laut kerap terjadi akibat kelalaian prosedur dan cuaca buruk. Sebulan sebelumnya, sebuah kapal yang mengangkut lebih dari 70 orang tenggelam di dekat Selayar, Sulawesi Selatan, menewaskan sedikitnya empat orang dan 14 lainnya dinyatakan hilang hingga operasi pencarian dihentikan. Pola kecelakaan yang berulang ini menuntut evaluasi menyeluruh terhadap regulasi angkutan laut, termasuk pengawasan terhadap kelayakan kapal dan kepatuhan terhadap protokol keselamatan.
Para penyintas yang dievakuasi dibawa kembali ke Surabaya, menempuh perjalanan enam jam dari lokasi kejadian. Mereka yang selamat kini berjuang memulihkan trauma, sementara keluarga korban menanti kepastian nasib orang-orang tercinta. Pertanyaan besar yang menggantung: akankah otoritas maritim Indonesia akhirnya bertindak tegas untuk mencegah tragedi serupa, atau akankah insiden ini hanya menjadi catatan kelam lain dalam sejarah pelayaran nasional?



