Camilan Hiu Jepang: Inovasi Ramah Lingkungan yang Menggugah Selera
Baca dalam 60 detik
- Produsen camilan asal Jepang meluncurkan produk berbahan dasar daging hiu untuk mendukung perikanan berkelanjutan.
- Langkah ini merupakan bagian dari program pemanfaatan ikan yang kurang populer, sejalan dengan tren global mengurangi limbah makanan.
- Kehadiran produk ini membuka peluang bagi industri kuliner Indonesia untuk mengeksplorasi sumber protein alternatif yang lebih ramah lingkungan.

Produsen camilan asal Jepang, The Oyatsu Company, baru saja merilis produk terbaru berbahan dasar daging hiu pada 27 Juli lalu. Langkah ini bukan sekadar inovasi rasa, melainkan bagian dari upaya mempromosikan perikanan berkelanjutan dengan memanfaatkan ikan yang kurang diminati pasar. Produk yang dinamai "Sozai ichiba same no snack" dengan rasa ayam goreng ini dijual terbatas di supermarket dan toko ritel di seluruh Jepang.
Perusahaan yang dikenal lewat camilan Baby-Star ramen ini menggandeng pengolah makanan laut di Kesennuma, Miyagi, untuk mengolah daging hiu salmon yang ditangkap di perairan setempat. Daging tersebut diuleni menjadi adonan camilan, menghasilkan cita rasa yang menonjolkan kelezatan alami ikan. Menurut perusahaan, produk ini juga diklaim sebagai camilan sehat karena kaya kalsium.
Inisiatif ini merupakan kelanjutan dari program "mottainai osakana katsuyo keikaku" atau pemanfaatan ikan yang terbuang, yang telah berjalan sejak tahun lalu. Sebelumnya, perusahaan sempat merilis camilan berbahan ikan konoshiro pada Oktober 2024. Kini, mereka mencoba peruntungan dengan hiu, ikan yang selama ini lebih dikenal sebagai sumber sirip untuk sup mewah, padahal dagingnya juga bisa diolah menjadi berbagai produk seperti hanpen dan chikuwa.
Bagi Indonesia, kabar ini menarik untuk dicermati. Negeri kepulauan dengan potensi perikanan yang besar ini juga menghadapi tantangan limbah ikan yang cukup signifikan. Data Kementerian Kelautan dan Perikanan menunjukkan bahwa sekitar 30% hasil tangkapan ikan di Indonesia terbuang atau tidak termanfaatkan secara optimal. Inovasi ala Jepang ini bisa menjadi inspirasi bagi pelaku industri makanan dalam negeri untuk mengolah ikan-ikan yang kurang populer menjadi produk bernilai tambah.
Menurut analis industri makanan, langkah The Oyatsu Company ini sejalan dengan tren global yang semakin mengedepankan keberlanjutan. Konsumen, terutama generasi muda, semakin peduli pada asal-usul produk yang mereka konsumsi. Dengan mengangkat cerita di balik produk, perusahaan tidak hanya menjual camilan, tetapi juga nilai-nilai lingkungan yang melekat padanya.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah inovasi serupa akan diadopsi oleh produsen Indonesia. Dengan kekayaan sumber daya laut yang melimpah, Indonesia sebenarnya memiliki peluang besar untuk mengembangkan produk sejenis. Namun, tantangan utamanya terletak pada edukasi pasar dan pengembangan teknologi pengolahan yang efisien. Apakah industri kuliner Tanah Air siap mengambil peran dalam gerakan mengurangi limbah ikan ini?



