Kasus Campak Singapura Tembus 40 Sepanjang 2025, Tertinggi Sejak 2020
Baca dalam 60 detik
- Singapura mencatat 40 kasus campak hingga awal Juli 2025, melampaui total 27 kasus sepanjang 2024 dan menjadi yang tertinggi dalam enam tahun terakhir.
- Mayoritas kasus baru berasal dari wisatawan atau penduduk yang baru kembali dari luar negeri, menandakan lonjakan ini didorong oleh impor infeksi di tengah wabah global.
- Meski angka naik, para ahli menilai risiko wabah besar tetap rendah berkat cakupan vaksinasi tinggi, namun mengingatkan pentingnya melengkapi dosis vaksin MMR, terutama sebelum bepergian.

Singapura mencatat 40 kasus campak sepanjang tahun ini, angka tertinggi sejak 2020, menurut buletin mingguan terbaru dari Communicable Diseases Agency (CDA). Lonjakan ini terjadi di tengah resurgensi global penyakit yang sangat menular tersebut, memicu kekhawatiran baru di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia yang menjadi tetangga dekat.
Jumlah tersebut melampaui total 27 infeksi yang dilaporkan sepanjang tahun 2025, yang sebelumnya juga merupakan rekor tertinggi dalam enam tahun. Namun, angka ini masih jauh di bawah 152 kasus yang tercatat pada 2019, ketika wabah campak melanda berbagai negara. Dari 40 kasus tersebut, setidaknya tiga orang telah menerima dua dosis vaksin MMR (measles, mumps, rubella), sementara sisanya tidak divaksinasi atau tidak memiliki catatan vaksinasi.
Data CDA menunjukkan kelompok usia 25 hingga 44 tahun mendominasi kasus, dan dari 12 kasus yang tercatat antara 4 April hingga 4 Juli, sembilan di antaranya merupakan kasus impor dari luar negeri. Hanya dua kasus yang tertular secara lokal, mengindikasikan penularan komunitas masih terbatas. Dua dari 12 kasus tersebut telah divaksinasi penuh, namun keduanya telah pulih, termasuk satu yang memiliki kondisi medis penyerta.
Para ahli kesehatan yang dihubungi CNA menilai peningkatan ini lebih disebabkan oleh melonjaknya kasus di negara lain, yang kemudian terbawa masuk ke Singapura melalui pelancong, bukan karena kegagalan sistem kesehatan lokal. Profesor Hsu Li Yang, direktur Asia Centre for Health Security di National University of Singapore, menegaskan bahwa meskipun penularan sporadis lokal akan terjadi, risiko wabah besar yang berkelanjutan di Singapura sangat kecil berkat tingginya cakupan vaksinasi.
Pemerintah Singapura melalui Kementerian Kesehatan (MOH) melaporkan bahwa cakupan vaksinasi anak mencapai 97 persen pada usia tujuh tahun, dan 99 persen orang dewasa memiliki kekebalan terhadap campak. Kedua angka ini berada di atas ambang kekebalan kelompok (herd immunity) sebesar 95 persen yang diperlukan untuk mencegah penularan luas dan melindungi mereka yang tidak bisa divaksinasi, seperti bayi di bawah 12 bulan.
Meskipun terjadi peningkatan kasus, infeksi terobosan di kalangan individu yang telah divaksinasi tetap jarang terjadi. Vaksin MMR memiliki efektivitas historis di atas 95 persen, dan sekitar 97 persen setelah dua dosis. Mereka yang divaksinasi umumnya mengalami gejala lebih ringan dan komplikasi lebih sedikit dibandingkan yang tidak divaksinasi. Profesor Paul Tambyah, mantan presiden Asia Pacific Society for Clinical Microbiology and Infection, menyebutkan bahwa kondisi medis tertentu atau penanganan vaksin yang kurang tepat dapat menjadi faktor dalam kasus langka tersebut.
CDA telah memperketat langkah-langkah pengendalian sejak Februari, termasuk isolasi wajib bagi pasien campak, pelacakan kontak, dan karantina untuk kontak erat tertentu. Sebulan kemudian, aturan diperketat lagi dengan melarang orang yang diduga campak di lingkungan berisiko tinggi untuk kembali ke sekolah atau bekerja hingga hasil tes negatif. Langkah ini diambil sebagai antisipasi terhadap peningkatan kasus yang terus berlanjut.
Bagi Indonesia, situasi ini menjadi pengingat akan pentingnya kewaspadaan terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin. Mobilitas tinggi antara Singapura dan Indonesia, terutama melalui Batam dan Bintan, meningkatkan risiko impor kasus. Meskipun cakupan imunisasi dasar di Indonesia telah meningkat, masih ada kantong-kantong dengan cakupan rendah yang rentan terhadap kejadian luar biasa (KLB). Para ahli menyarankan agar pelancong ke negara-negara dengan wabah campak memastikan status vaksinasi mereka lengkap, dan bayi usia 6-11 bulan yang akan bepergian sebaiknya berkonsultasi dengan dokter mengenai pemberian dosis awal lebih cepat.
Ke depan, Singapura dan negara-negara tetangga perlu terus memantau tren global dan memperkuat sistem surveilans. Pertanyaannya, apakah lonjakan ini akan memicu peningkatan kesadaran masyarakat untuk melengkapi vaksinasi, atau justru menjadi alarm bagi negara-negara dengan cakupan imunisasi yang belum optimal? Jawabannya akan menentukan apakah kita mampu mencegah terulangnya wabah besar seperti yang terjadi pada 2019.



