Dominasi Inggris di Kejuaraan Dayung Eropa: Henry dan Pritchard Pertahankan Emas
Baca dalam 60 detik
- Inggris mengumpulkan lima emas dan satu perak di Kejuaraan Dayung Eropa 2025 di Varese, Italia, menempatkan mereka di posisi ketiga klasemen akhir.
- Lauren Henry, peraih emas Olimpiade Paris 2024, sukses mempertahankan gelar tunggal putri dengan comeback di paruh kedua lomba.
- Benjamin Pritchard mempersembahkan kemenangan emas untuk keluarga pelatihnya yang baru berduka, mengalahkan tuan rumah Giacomo Perini.

Inggris Raya menegaskan dominasi mereka di pentas dayung Eropa dengan meraih lima medali emas dan satu perak pada Kejuaraan Dayung Eropa 2025 yang berlangsung di Varese, Italia. Dua di antaranya dipersembahkan pada hari terakhir oleh Lauren Henry di nomor scull tunggal putri dan Benjamin Pritchard di nomor PR1 scull tunggal putra, sekaligus mempertahankan gelar juara mereka.
Henry, yang pernah meraih emas Olimpiade Paris 2024 bersama tim quadruple sculls putri, menunjukkan performa impresif dengan memimpin di paruh kedua lomba. Ia berhasil menyalip para pesaingnya dan finis dengan kemenangan yang terkendali. Ini merupakan musim keduanya di nomor tunggal, namun ia tampil meyakinkan sebagai penerus tradisi dayung Inggris.
Sementara itu, kemenangan Pritchard terasa sangat emosional. Ia mengalahkan pendayung tuan rumah, Giacomo Perini, di final PR1 putra. Usai lomba, Pritchard mengungkapkan bahwa kemenangan ini dipersembahkan untuk keluarga pelatihnya, Andrew Williams, yang ayahnya baru saja meninggal dunia pada Selasa lalu. "Ini saya persembahkan untuk keluarga Williams dan semua yang telah mereka lakukan untuk saya," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Kesuksesan Inggris tidak berhenti di situ. Tim delapan putri yang diperkuat Annie Campbell-Orde, Lauren Irwin, Katherine George, Heidi Long, Megan Slabbert, Amelia Standing, Eve Stewart, Elizabeth Witt, dan cox Jack Tottem harus puas dengan medali perak setelah tertinggal 5,43 detik di belakang Rumania yang tampil dominan. Sebelumnya, pada Sabtu, Inggris sudah mengamankan tiga emas dari nomor empat putra, empat putri, dan PR3 mixed coxed four.
Dengan total lima emas dan satu perak, Inggris menempati posisi ketiga klasemen akhir, di bawah Rumania dan Jerman. Prestasi ini menjadi modal berharga menjelang Kejuaraan Dunia 2026 yang akan digelar di Belanda pada 24-30 Agustus. Namun, perlu dicatat bahwa tim putra Inggris tidak tampil penuh di Varese karena sebagian besar sedang menjalani pemusatan latihan di ketinggian Silvretta.
Bagi Indonesia, prestasi Inggris ini menjadi pelajaran penting dalam pengembangan olahraga dayung. Meski Indonesia belum berada di level elite Eropa, konsistensi pembinaan atlet sejak junior hingga Olimpiade terbukti menghasilkan medali. Kejuaraan Dunia 2026 di Belanda bisa menjadi ajang bagi Indonesia untuk mengukur diri, terutama setelah sukses meloloskan atlet dayung ke Olimpiade Paris 2024. Federasi Dayung Indonesia (PODSI) perlu memperhatikan strategi Inggris yang memadukan pemusatan latihan di ketinggian dan kompetisi internasional rutin.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Inggris mampu mempertahankan dominasi ini di Kejuaraan Dunia 2026, terutama dengan absennya tim putra utama di Varese. Sementara bagi Indonesia, langkah konkret apa yang akan diambil PODSI untuk mengejar ketertinggalan dari negara-negara Eropa? Jawabannya akan menentukan apakah Indonesia bisa bersaing di pentas dunia dalam beberapa tahun ke depan.



