Mathis Albert, Remaja Amerika yang Mencuri Perhatian Niko Kovač di Dortmund
Baca dalam 60 detik
- Pemain muda asal Amerika Serikat, Mathis Albert, menuai pujian dari pelatih Borussia Dortmund, Niko Kovač, setelah tampil impresif dalam tur pramusim di Jepang.
- Kovač menyoroti kecepatan, kekuatan udara, dan etos kerja Albert, yang dinilai meningkat pesat berstandar tinggi sang pelatih.
- Albert berambisi menjadi pemain kunci Dortmund dan terus mengembangkan permainannya, dengan ujian berikutnya melawan Arsenal dan Roma.

Borussia Dortmund sepertinya menemukan permata baru di lini serang mereka. Mathis Albert, pemain sayap berusia 17 tahun asal Amerika Serikat, menuai pujian langsung dari pelatih kepala Niko Kovač setelah menunjukkan performa mengesankan dalam tur pramusim tim di Jepang. Pujian ini bukan sekadar basa-basi, melainkan sinyal bahwa pemain muda itu diproyeksikan masuk dalam rencana utama tim musim depan.
Albert, yang merupakan produk akademi LA Galaxy, telah menarik perhatian sejak debutnya di Bundesliga pada akhir musim lalu. Pada laga uji coba melawan Fortuna Düsseldorf, ia berhasil mencetak gol meski timnya kalah. Penampilannya berlanjut di Jepang, termasuk saat Dortmund menang tipis 1-0 atas FC Tokyo, Sabtu lalu. Kovač pun tak segan memuji kualitas pemain yang juga memperkuat tim nasional muda Amerika Serikat itu.
"Kita bisa melihat kemampuan yang dia miliki. Dia cepat, kuat di udara, dan saya harus akui dia bekerja sangat keras," ujar Kovač seperti dikutip dari laman resmi Bundesliga. Pujian ini menarik karena Kovač dikenal sebagai pelatih yang menuntut disiplin dan kerja keras, bukan hanya bakat. Albert sendiri mengaku standar tinggi yang diterapkan Kovač telah membawanya ke level baru.
"Ini membantu saya membawa aspek tertentu dari permainan saya ke level baru. Sebelumnya, saya tidak terlalu baik di beberapa area, tetapi ini memotivasi saya untuk bekerja lebih keras. Ada tuntutan yang lebih tinggi, seperti kecepatan kerja dan ruang yang harus dijangkau, terutama di posisi baru yang lebih sentral. Ini jelas membantu permainan saya," kata Albert kepada Sky.
Perubahan posisi menjadi lebih sentral tampaknya menjadi kunci perkembangan Albert. Ia tidak lagi sekadar pemain sayap yang mengandalkan kecepatan, tetapi juga dituntut untuk terlibat dalam build-up dan bertahan. Hal ini sejalan dengan filosofi Kovač yang menginginkan pemain depan ikut berkontribusi dalam tekanan. Bagi Albert, ini adalah tantangan yang ia sambut dengan antusias.
Ambisi Albert pun tak main-main. Ia ingin menjadi pemain penting di Signal Iduna Park, bukan sekadar pelengkap. "Impian saya adalah menjadi pemain penting bagi klub ini dan menonjol, menjadi pemimpin sejati dan membantu tim memenangkan pertandingan. Saya tidak ingin mereduksi permainan saya hanya pada statistik. Tujuan utama saya adalah menjadi lebih baik setiap hari dan berkembang semaksimal mungkin," tegasnya.
Bagi pengamat sepak bola, perkembangan Albert menjadi sorotan menarik. Ia adalah salah satu talenta muda Amerika yang mulai merambah Eropa, mengikuti jejak Christian Pulisic, Giovanni Reyna, dan Sergiño Dest. Kehadirannya di Dortmund, klub yang dikenal subur dalam mengorbitkan pemain muda, bisa menjadi batu loncatan besar bagi kariernya. Namun, persaingan di lini depan Dortmund sangat ketat, dengan nama-nama seperti Karim Adeyemi, Donyell Malen, dan Jamie Bynoe-Gittens.
Dortmund dijadwalkan kembali dari Jepang pada 2 Agustus, lalu akan menghadapi Arsenal dan Roma dalam laga uji coba. Ini menjadi kesempatan emas bagi Albert untuk membuktikan bahwa pujian Kovač bukan sekadar formalitas. Jika ia mampu tampil konsisten, bukan tidak mungkin ia akan mendapat menit bermain reguler di Bundesliga musim ini.
Dari perspektif Indonesia, perkembangan Albert bisa menjadi pelajaran tentang pentingnya pembinaan usia muda. Klub-klub Eropa seperti Dortmund sangat serius dalam mengembangkan bakat, memberikan mereka kesempatan di pramusim dan menuntut standar tinggi. Hal ini berbeda dengan pendekatan yang sering terlihat di Indonesia, di mana pemain muda sering kali kurang mendapat kepercayaan. Akankah ada 'Mathis Albert' berikutnya dari Indonesia yang mampu menembus skuad utama klub Eropa? Pertanyaan ini layak direnungkan oleh para pemangku kepentingan sepak bola nasional.



