Pelatih Inggris Pertimbangkan Masa Depan Usai Gagal Raih Medali di Commonwealth Games
Baca dalam 60 detik
- Kekalahan 50-68 dari Australia membuat Inggris puas di peringkat keempat, memicu evaluasi posisi pelatih Anna Stembridge.
- Kegagalan ini menambah rentetan hasil minor Inggris di turnamen besar, menimbulkan pertanyaan tentang arah tim menuju Piala Dunia 2027.
- Keputusan Stembridge akan memengaruhi regenerasi skuad dan strategi Inggris dalam menghadapi persaingan ketat dengan Australia, Selandia Baru, dan Jamaika.

Kegagalan Inggris meraih medali di Commonwealth Games 2026 memaksa pelatih kepala Anna Stembridge untuk mengevaluasi masa depannya. Setelah dikalahkan Australia 50-68 dalam perebutan medali perunggu di Glasgow, Stembridge mengaku akan mengambil waktu untuk memutuskan apakah dirinya masih layak memimpin tim nasional. Keputusan ini menjadi sorotan karena Inggris, yang pernah menjadi juara dunia, kini harus puas finis di posisi keempat untuk kedua kalinya secara beruntun.
Stembridge, yang ditunjuk pada Maret lalu menggantikan Jess Thirlby, selalu direncanakan akan dievaluasi setelah turnamen. Namun, hasil yang mengecewakan ini membuat proses tersebut semakin krusial. "Ini sulit untuk diterima, tidak membawa pulang medali," ujarnya kepada BBC Sport. "Saya akan meluangkan waktu untuk menilai kembali apa yang terbaik bagi saya, keluarga, dan juga England Netball." Pernyataan ini muncul di tengah rencana wawancara untuk posisi pelatih jangka panjang yang akan segera dilakukan.
Kekalahan dari Australia menjadi pukulan telak, mengingat Inggris sebenarnya mencoba bangkit setelah kalah di semifinal dari Selandia Baru. Namun, Australia yang sebelumnya di luar dugaan dikalahkan Jamaika di semifinal, tampil dengan motivasi tinggi untuk membuktikan diri. Pasukan Stacey Marinkovich itu menunjukkan profesionalisme luar biasa, meski harus bermain dengan waktu pemulihan yang lebih singkat. Inggris sempat unggul 9-7 di kuarter pertama, tetapi kemudian kehilangan kendali dan tertinggal 19-11. Kelelahan fisik dan mental mulai terlihat, terutama saat menghadapi duet penembak Kiera Austin dan Sophie Garbin yang sulit dihentikan.
Kapten Inggris, Fran Williams, mengakui bahwa kesalahan-kesalahan yang terjadi banyak disebabkan oleh kelelahan dan tekanan mental selama turnamen. "Kami semua kecewa, tetapi saya bangga dengan perjuangan tim selama 10 hari ini," katanya. Williams, yang merupakan salah satu dari 10 pemain yang debut di Commonwealth Games, bertekad untuk menebus kegagalan ini di Piala Dunia tahun depan. "Saya tidak akan pulang tanpa medali dari Piala Dunia. Kami akan bekerja keras dalam 12 bulan ke depan untuk memperbaiki diri," tegasnya.
Sementara itu, Selandia Baru berhasil merebut emas setelah mengalahkan Jamaika 56-48 di final. Kemenangan ini menjadi gelar ketiga bagi Silver Ferns dan yang pertama sejak 2010. Jamaika, yang tampil impresif sepanjang turnamen, harus puas dengan perak. Namun, penampilan mereka menunjukkan bahwa mereka kini mampu bersaing dengan tim-tim papan atas. Sejak netball dipertandingkan di Commonwealth Games, hanya Selandia Baru, Australia, dan Inggris yang pernah meraih emas, tetapi dominasi itu mulai terancam.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menarik untuk dicermati meski netball belum populer di tanah air. Dominasi negara-negara Persemakmuran seperti Australia dan Selandia Baru menunjukkan pentingnya pembinaan atlet sejak dini dan kompetisi rutin. Indonesia, yang tengah mengembangkan berbagai cabang olahraga, bisa belajar dari kesuksesan Jamaika yang mampu menembus elit dunia dengan kerja keras dan perencanaan matang. Ke depan, persaingan netball diprediksi semakin ketat, dan Inggris harus segera menemukan formula yang tepat jika ingin kembali berjaya. Pertanyaannya, akankah Stembridge tetap bertahan atau Inggris akan memulai babak baru dengan pelatih baru?



