Nasdaq Terjun ke Zona Koreksi, AI Picu Aksi Jual Terbesar Sejak April 2025
Baca dalam 60 detik
- Indeks Nasdaq Composite ambles 5,5% dan resmi masuk fase koreksi setelah aksi jual saham AI mengguncang Wall Street.
- Kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu midterm memicu kekhawatiran perlambatan pembangunan pusat data, memukul emiten teknologi.
- Pasar menanti laporan tenaga kerja Oktober dengan proyeksi penambahan 59.000 lapangan kerja dan tingkat pengangguran stabil di 4,2%.

Bursa saham Amerika Serikat mengalami tekanan hebat pada Kamis (5/11/2026) waktu setempat. Nasdaq Composite anjlok 5,5% dan menutup sesi lebih dari 10% di bawah rekor tertingginya, sehingga secara teknis masuk ke wilayah koreksi. S&P 500 melemah 4,4%, sedangkan Dow Jones kehilangan lebih dari 1.800 poin atau 3,4%. Ini merupakan kinerja harian terburuk ketiga indeks utama sejak April 2025.
Pemicu utama adalah aksi jual besar-besaran pada saham-saham yang terkait dengan kecerdasan buatan (AI). Kemenangan besar Partai Demokrat di DPR dan Senat, serta di sejumlah kursi gubernur seperti Texas, memunculkan kekhawatiran investor bahwa pembangunan pusat data akan melambat. Kebijakan yang lebih ketat terhadap ekspansi infrastruktur AI dianggap dapat menekan permintaan chip dan layanan komputasi awan.
Dampaknya terasa merata. Micron Technology dan Advanced Micro Devices masing-masing ambles 17%, sementara CoreWeave, penyedia layanan cloud AI, turun 10%. Bahkan kelompok "Magnificent Seven" tidak luput. Nvidia melemah 9% dan berbalik negatif sepanjang tahun ini. Secara kolektif, kapitalisasi pasar tujuh raksasa teknologi itu menyusut lebih dari USD1 triliun dalam satu hari. Tesla turun 10,8%, Meta 3,9%, Microsoft 3,6%, Alphabet 2,2%, Amazon 2,2%, dan Apple 1,5%.
Presiden Donald Trump melalui Truth Social menyalahkan hasil pemilu sebagai penyebab "salah satu hari terburuk dalam sejarah pasar saham". Namun, analis menilai aksi jual ini lebih didorong oleh kekhawatiran struktural terhadap valuasi sektor AI yang sudah tinggi. Victoria Greene, Chief Investment Officer G Squared Private Wealth, menilai koreksi ini justru menciptakan peluang beli. "Perdagangan AI menurut saya belum mati, ini diskon yang bagus," ujarnya kepada CNBC. Ia tertarik pada saham memori karena manajemen perusahaan telah membicarakan kelangkaan kapasitas selama musim laporan keuangan.
Tekanan tidak berhenti di Wall Street. Bursa Asia-Pasifik diperkirakan dibuka melemah tajam pada Jumat. Futures Nikkei 225 di Chicago berada di 57.110, jauh di bawah penutupan sebelumnya 61.077,9. Futures Hang Seng Hong Kong diperdagangkan di 24.494 dari penutupan 24.796,98. S&P/ASX 200 Australia turun lebih dari 1% pada awal perdagangan. Sentimen negatif terhadap AI semakin diperkuat oleh kekhawatiran atas belanja modal (capex), profitabilitas, dan beban utang emiten teknologi.
Selain itu, pelaku pasar menanti rilis laporan nonfarm payrolls Oktober pada Jumat pagi waktu AS. Konsensus Dow Jones memperkirakan penambahan 59.000 lapangan kerja, naik dari 29.000 pada September, dengan tingkat pengangguran tetap di 4,2%. Federal Reserve melihat pasar tenaga kerja masih solid meski ketidakpastian membayangi. Menurut CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan sekitar 70% peluang kenaikan suku bunga 25 basis poin pada pertemuan 9 Desember mendatang.
Di sisi lain, beberapa saham mencatat pergerakan signifikan setelah jam bursa. DraftKings anjlok 24% setelah melaporkan kerugian kuartalan yang lebih besar dari perkiraan, yaitu 94 sen per saham versus ekspektasi 39 sen. Pendapatan sebesar USD1,33 miliar juga di bawah estimasi USD1,40 miliar. Sebaliknya, Airbnb melonjak 11% setelah laba per saham USD3,16 melampaui konsensus USD2,85 dan pendapatan USD4,87 miliar melebihi ekspektasi USD4,75 miliar. Iren, penyedia cloud AI, naik 4% meski mengumumkan penundaan pendapatan berulang tahunan senilai USD4 miliar dari 2026 menjadi Januari 2027.
Bagi investor Indonesia, gejolak ini menjadi pengingat akan tingginya keterkaitan pasar global. Teknologi dan saham AI yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) maupun sektor energi dan komoditas dapat terimbas jika arus modal asing kembali ke aset safe haven. Pelemahan Nasdaq juga berpotensi menekan indeks saham teknologi domestik, terutama emiten yang bergerak di bidang pusat data dan semikonduktor. Namun, koreksi ini bisa menjadi momentum bagi investor jangka panjang untuk mengakumulasi saham berkualitas dengan valuasi lebih menarik, asalkan memperhatikan risiko perlambatan ekonomi global.
Ke depan, perhatian tertuju pada data tenaga kerja AS dan sinyal kebijakan Fed. Jika laporan payrolls sesuai atau lebih baik dari perkiraan, tekanan jual mungkin mereda. Sebaliknya, angka yang lemah dapat memperkuat spekulasi penurunan suku bunga dan memicu volatilitas baru. Pertanyaannya, apakah koreksi ini sekadar koreksi sehat dalam tren bullish AI, atau awal dari koreksi yang lebih dalam? Pasar akan menguji jawabannya dalam beberapa sesi mendatang.



