Australia Padukan Teknologi Satelit dan Kearifan Aborigin untuk Perangi Kebakaran Hutan
Baca dalam 60 detik
- Peneliti Australia mengombinasikan citra satelit dengan pengetahuan ekologi masyarakat adat untuk memetakan area rawan kebakaran secara lebih akurat.
- Praktik pembakaran budaya dan backburning yang diwariskan turun-temurun kini diadopsi negara lain, termasuk Kanada, sebagai strategi mitigasi kebakaran.
- Dengan prediksi El Nino super, Australia bersiap menghadapi musim kebakaran ekstrem dan menekankan pentingnya kolaborasi global dalam penanggulangan.

Di tengah gelombang panas yang melanda Eropa, para ahli kebakaran hutan justru menoleh ke Australia—negeri yang telah bergulat dengan api selama puluhan ribu tahun. Marta Yebra, profesor asal Spanyol yang berbasis di Canberra, meyakini bahwa kombinasi teknologi modern dan kearifan lokal masyarakat Aborigin adalah kunci untuk mendeteksi serta mengelola risiko kebakaran secara lebih dini.
Yebra memimpin Bushfire Research Centre of Excellence, lembaga yang dibentuk setelah musim kebakaran Black Summer 2019-20 yang menghanguskan area seluas Inggris Raya. Pusat penelitian ini mengembangkan sistem deteksi berbasis satelit dan drone untuk memantau kadar air bahan bakar di lanskap—seperti daun kering, rumput, dan semak—yang menjadi indikator potensi titik api. Namun, data tersebut hanya memberikan gambaran parsial tanpa pemahaman kontekstual di lapangan.
Di sinilah peran Adrian Webster, seorang tetua Aborigin dari pesisir selatan New South Wales, menjadi krusial. Webster mewarisi kemampuan membaca alam dari para leluhurnya—mulai dari warna dan aroma tumbuhan hingga kerapatan kanopi pohon. Pengetahuan ekologi tradisional ini digunakan untuk memverifikasi dan melengkapi data satelit yang dikumpulkan tim Yebra. "Dia punya data luar biasa, tapi tanpa penerjemahan ke kondisi di lapangan, data itu nyaris tak berguna," ujar Webster. "Dari perspektif Aborigin, data itu justru menjadi peta yang menuntun kita langsung ke titik yang siap terbakar."
Yebra mengakui adanya "kesesuaian yang luar biasa" antara penilaian Webster dan citra satelit, membuktikan bahwa integrasi pengetahuan lokal dan sains Barat mampu memberikan akurasi lebih tinggi. Timnya kini berupaya memperluas pendanaan untuk menggandeng lebih banyak komunitas Aborigin dalam merancang strategi perlindungan lahan. Webster menegaskan, esensi dari kolaborasi ini adalah "memberikan suara kembali kepada ibu pertiwi".
Selain deteksi dini, Australia juga mempertahankan praktik pembakaran budaya (cultural burning) yang menggunakan api kecil dan terkendali untuk menciptakan lanskap berpetak-petak, sehingga bahan bakar tidak menumpuk di satu area. Metode ini dinilai lebih efektif dibandingkan pembakaran terkendali (prescribed burn) yang kerap dilakukan di Eropa. "Di Eropa, tidak ada aspek budaya dalam perencanaan lanskap seperti ini," kata Yebra. Ia menambahkan bahwa Eropa, yang tengah dilanda kebakaran terburuk dalam beberapa dekade, bisa belajar dari pengalaman Australia dalam mengelola api.
Praktik backburning—membakar vegetasi di depan jalur api utama untuk memutus pasokan bahan bakar—kini mulai diadopsi di Kanada. Damian Hatfield, petugas pemadam asal Queensland, menuturkan bahwa saat ia bertugas di Alberta pada 2023, teknik ini jarang digunakan. Namun setahun kemudian, petugas Kanada menunjukkan antusiasme tinggi untuk memasukkannya dalam operasi mereka. Sementara itu, drone telah menjadi alat vital di New South Wales untuk memantau pergerakan api secara real-time, mengirimkan peralatan berat, dan menilai kerusakan pasca-kebakaran.
Menghadapi prediksi El Nino super yang akan memperparah kekeringan dan gelombang panas, Australia bersiap menghadapi musim kebakaran yang sulit. Jason Heffernan, kepala pemadam kebakaran Victoria, mengingatkan bahwa musim kebakaran kini dimulai lebih awal dan berlangsung lebih lama. "Lingkungan kita memang dirancang untuk terbakar," katanya. Namun ia menekankan pentingnya jejaring global: "Tidak ada layanan pemadam yang bisa bekerja sendiri. Kuncinya adalah membangun kepercayaan dan berbagi sumber daya."
Langkah nyata kolaborasi internasional terlihat pekan ini ketika Prancis untuk pertama kalinya meminta bantuan Australia. Dua lusin personel dan sejumlah pesawat dikerahkan untuk memadamkan kebakaran yang memecahkan rekor di tengah gelombang panas berkepanjangan. Heffernan menilai permintaan semacam ini akan semakin sering terjadi seiring menguatnya konektivitas komunitas pemadam global. "Kita melihat kebakaran terjadi di wilayah yang sebelumnya tidak pernah mengalaminya," pungkasnya.
Bagi Indonesia, pelajaran dari Australia sangat relevan mengingat tingginya risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama di Sumatera dan Kalimantan. Integrasi pengetahuan lokal masyarakat adat dengan teknologi pemantauan satelit dapat menjadi model untuk memperkuat sistem peringatan dini. Pertanyaannya, akankah Indonesia mengadopsi pendekatan serupa sebelum musim kemarau tiba?



