Uji Coba Parkir Elektronik ERP 2: Singapura Mulai Tinggalkan Aplikasi Parking.sg
Baca dalam 60 detik
- Sekitar 1.000 pengendara di Singapura kini menjajal fitur parkir tepi jalan elektronik (REP) yang terintegrasi dengan unit dalam kendaraan ERP 2, menandai langkah awal meninggalkan aplikasi Parking.sg.
- Fitur REP memungkinkan sesi parkir dimulai dan diakhiri secara otomatis tanpa perlu memperpanjang durasi, dengan biaya yang langsung dipotong dari CashCard.
- Meski uji coba baru mencakup sebagian kecil lokasi, otoritas transportasi Singapura menargetkan perluasan bertahap, sementara Parking.sg tetap beroperasi bagi pengguna tanpa layar sentuh OBU.

Singapura memulai babak baru dalam pengelolaan parkir perkotaan dengan menguji fitur parkir elektronik tepi jalan (REP) yang terintegrasi dalam sistem ERP 2. Sejak Senin (3/8), sekitar 1.000 pengendara yang terpilih menjadi bagian dari uji coba ini merasakan pengalaman parkir tanpa perlu membuka aplikasi ponsel, cukup mengandalkan perangkat dalam kendaraan (OBU). Langkah ini dinilai sebagai fondasi menuju sistem transportasi yang lebih otomatis dan efisien di negara kota tersebut.
Dalam uji coba yang berlangsung di 644 lokasi parkir yang mencakup sekitar 19.000 ruas jalan, pengendara dapat memilih zona parkir, memulai sesi, dan mengakhiri sesi hanya dengan menyalakan atau mematikan mesin kendaraan. Salah satu jurnalis yang terlibat langsung dalam uji coba ini mengungkapkan bahwa fitur REP menawarkan kemudahan yang signifikan dibandingkan sistem konvensional. Saat kendaraan meninggalkan lokasi, sesi parkir berakhir otomatis dan biaya langsung dipotong dari CashCard, tanpa perlu menghitung durasi atau memperpanjang waktu secara manual.
Namun, uji coba ini juga mengungkap sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi. Salah satunya adalah keterbatasan waktu dua menit bagi pengendara untuk memulai sesi setelah mesin dimatikan. Jika pengendara perlu memverifikasi kode zona parkir di papan tanda, waktu tersebut bisa menjadi sempit. Selain itu, pada beberapa lokasi, sistem menampilkan beberapa pilihan zona yang membingungkan, mengharuskan pengendara untuk keluar dari kendaraan dan memeriksa kode parkir sebelum memilih zona yang tepat. Hal ini berbeda dengan aplikasi Parking.sg yang memungkinkan pengendara memeriksa papan tanda sebelum memulai sesi dari ponsel mereka.
Otoritas Transportasi Darat (LTA) Singapura menegaskan bahwa konfirmasi aktif dari pengendara untuk memulai sesi parkir tetap diperlukan, baik untuk memastikan niat parkir maupun untuk mengontrol kapan biaya mulai dihitung. Pendekatan ini dianggap penting untuk menjaga akurasi penagihan, serupa dengan mekanisme yang berlaku pada Parking.sg. Meski demikian, LTA belum mengumumkan jadwal resmi peluncuran REP secara menyeluruh, sementara fitur lain dari ERP 2 seperti pengisian berbasis lokasi dan pengisian di pos pemeriksaan dijadwalkan mulai berlaku pada 1 Januari 2027.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi cermin bagi masa depan sistem parkir dan transportasi cerdas di kota-kota besar seperti Jakarta. Meski belum ada rencana serupa, adopsi teknologi ERP 2 di Singapura dapat menjadi referensi bagi pengembangan sistem transaksi non-tunai dan manajemen parkir yang lebih terintegrasi. Pengamat transportasi menilai bahwa otomatisasi seperti ini dapat mengurangi kemacetan dan meningkatkan pendapatan daerah, namun perlu diimbangi dengan kesiapan infrastruktur dan sosialisasi kepada masyarakat.
Ke depan, keberhasilan uji coba REP akan menentukan seberapa cepat Singapura dapat sepenuhnya meninggalkan aplikasi Parking.sg. Pertanyaan yang muncul adalah apakah sistem ini akan diadopsi secara luas di kawasan Asia Tenggara, dan bagaimana negara lain menyesuaikan diri dengan tren otomatisasi transportasi yang semakin masif?



