Yealimi Noh Kokoh di Puncak, Lima Pemburu Gelar Mengintai di Final Women's British Open
Baca dalam 60 detik
- Pegolf Amerika Serikat, Yealimi Noh, memimpin tiga pukulan memasuki putaran final Women's British Open setelah mencetak 69 pada hari ketiga.
- Lima pegolf berbagai negara berada dalam jarak tiga pukulan, menjanjikan persaingan sengit untuk gelar mayor pertamanya.
- Nelly Korda, mantan nomor satu dunia, gagal memanfaatkan peluang setelah double-bogey di hole terakhir, tertinggal tujuh pukulan.

Yealimi Noh, pegolf Amerika Serikat berusia 25 tahun, hanya berjarak 18 hole dari gelar mayor pertamanya setelah memimpin tiga pukulan memasuki putaran final Women's British Open di Royal Lytham, Minggu (1/8). Dengan skor total tujuh di bawah par, ia unggul tipis atas lima pengejar yang sama-sama mengincar sejarah di turnamen bergengsi ini.
Performa Noh di putaran ketiga, Sabtu, menjadi pembeda. Meski sempat kesulitan di sembilan hole awal dengan dua bogey, ia bangkit luar biasa di sembilan hole kedua dengan tiga birdie dan menutup hari dengan skor 69. "Saya sedikit kehilangan ritme, tapi berhasil mengumpulkan permainan di back nine. Beberapa penyelamatan par sangat penting," ujarnya kepada wartawan.
Persaingan di papan atas kian memanas. Shiho Kuwaki dari Jepang, Haeran Ryu dari Korea Selatan, Jeeno Thitikul dari Thailand, Lucy Li dari Amerika, dan Esther Henseleit dari Jerman semuanya berada di posisi kedua dengan total empat di bawah par. Mereka hanya tertinggal tiga pukulan, menjadikan putaran final diprediksi berlangsung ketat. Ryu, yang memimpin setelah dua putaran, sempat unggul lima pukulan namun enam bogey membuatnya jatuh ke skor 74 dan kini harus berjuang dari belakang.
Drama juga mewarnai perjuangan Nelly Korda, mantan nomor satu dunia. Setelah birdie di hole 17, ia justru melakukan double-bogey di hole terakhir akibat pukulan tee yang melenceng. Korda harus puas berbagi posisi ke-17 dengan skor even par, tertinggal tujuh pukulan dari Noh. Sementara itu, pegolf amatir Inggris Lottie Woad tetap berada dalam persaingan setelah mencatat 70, hanya empat pukulan di belakang. Charley Hull, yang didukung publik tuan rumah, juga masih berpeluang setelah bermain imbang.
Bagi penggemar golf Indonesia, persaingan ini menegaskan dominasi Asia di kancah internasional. Kehadiran wakil Jepang, Korea, dan Thailand di papan atas menunjukkan level kompetisi yang semakin tinggi. Meski belum ada pegolf Indonesia yang tampil, perkembangan ini bisa menjadi motivasi bagi pegolf Tanah Air untuk menembus level tertinggi, terutama dengan semakin banyaknya turnamen internasional yang disiarkan langsung.
Kondisi lapangan yang berangin kencang menjadi tantangan tersendiri. Banyak pegolf mengaku kesulitan mengontrol bola, terutama di sembilan hole terakhir. Woad, yang masih amatir, menyebut angin sebagai yang terkuat sepanjang pekan. "Pars di back nine terasa seperti birdie hari ini," katanya. Strategi bermain aman pun menjadi kunci, dan Noh tampaknya mampu membacanya dengan baik.
Putaran final yang akan digelar Minggu diprediksi berlangsung dramatis. Dengan selisih tipis dan banyak pemain berpengalaman di belakang, tekanan akan menghampiri Noh yang belum pernah memenangkan turnamen mayor. Pertanyaannya, akankah ia mampu mempertahankan ketenangan seperti yang ia tunjukkan sepanjang pekan ini, atau justru pengalaman para pesaingnya akan menjadi pembeda? Jawabannya akan terungkap di lapangan Royal Lytham, dan dunia golf akan menyaksikan apakah gelar mayor pertamanya akan terwujud.



