LIV Golf Dapat Investor Baru, PIF Ditinggalkan: Babak Baru Liga Pembangkang
Baca dalam 60 detik
- LIV Golf mengamankan investor utama baru yang akan diresmikan September, menggantikan dukungan penuh dari PIF Arab Saudi.
- Liga akan memangkas jadwal menjadi 10 turnamen dan memberikan mayoritas saham kepada para pemain, menandai perubahan model bisnis.
- Langkah ini berpotensi mengubah peta persaingan golf global dan membuka peluang bagi pengembangan olahraga ini di Asia, termasuk Indonesia.

LIV Golf, liga golf pembangkang yang selama ini didanai oleh Dana Investasi Publik Arab Saudi (PIF), mengumumkan telah menemukan investor utama baru. Kesepakatan tersebut ditargetkan rampung pada September mendatang, sebuah langkah strategis yang memastikan kelangsungan liga di tengah hengkangnya PIF dari posisi sebagai penyandang dana utama.
Kabar ini disampaikan langsung oleh CEO LIV Golf, Scott O'Neil, Rabu (5/8). Dalam pernyataannya, O'Neil menegaskan bahwa investor baru tersebut telah menandatangani perjanjian dan disetujui dewan. "LIV Golf memiliki perjanjian dengan investor utama, ditandatangani oleh investor dan disetujui dewan, untuk menjadi fondasi transaksi dan mendukung era berikutnya liga," ujarnya. Selain itu, lebih dari belasan pihak lain dikabarkan berminat menjadi investor minoritas, menciptakan model multipemilik yang dirancang untuk stabilitas jangka panjang.
Keputusan PIF untuk menarik diri dari pendanaan LIV Golf sebenarnya sudah diumumkan sejak April lalu. Dana kekayaan negara Arab Saudi itu telah mengucurkan lebih dari US$5 miliar sejak liga diluncurkan pada 2022, membajak sejumlah bintang PGA Tour seperti Bryson DeChambeau, Jon Rahm, Phil Mickelson, dan Brooks Koepka dengan iming-iming hadiah fantastis. Namun, PIF menilai investasi lanjutan tidak lagi sejalan dengan strategi mereka.
Dengan investor baru, LIV Golf berencana melakukan transformasi besar-besaran. O'Neil menyebut para pemain akan menjadi pemegang saham mayoritas di liga. Jadwal turnamen juga akan dipangkas menjadi hanya 10 seri, dengan pembagian merata antara venue internasional dan Amerika Serikat. Langkah ini dianggap sebagai upaya untuk menciptakan model bisnis yang lebih berkelanjutan dan tidak lagi bergantung pada satu sumber dana.
Kehadiran LIV Golf memang telah mengubah lanskap golf dunia. Dengan dukungan finansial PIF, liga ini berhasil menarik banyak nama besar dan memecahkan rekor penonton. Tahun ini, LIV Golf Adelaide mencatatkan diri sebagai turnamen golf dengan jumlah penonton tertinggi sepanjang sejarah Australia, mencapai lebih dari 115.000 orang. Popularitas ini menunjukkan bahwa liga memiliki basis penggemar yang kuat, meski kontroversi terus menyertainya.
Bagi Indonesia, perkembangan ini membuka peluang menarik. Dengan model bisnis baru yang lebih inklusif, LIV Golf berpotensi memperluas pasar ke Asia Tenggara. Indonesia, dengan populasi golf yang tumbuh dan semakin banyaknya lapangan berkualitas, bisa menjadi kandidat tuan rumah. Apalagi, pemerintah tengah gencar mempromosikan wisata olahraga. Jika LIV Golf sukses dengan format barunya, bukan tidak mungkin Indonesia akan dilirik sebagai salah satu destinasi turnamen, mengingat animo masyarakat terhadap olahraga ini terus meningkat.
Para analis menilai langkah LIV Golf ini sebagai upaya untuk melepaskan diri dari citra "liga yang dibeli uang Saudi". Dengan memberikan saham kepada pemain, liga berharap mendapatkan legitimasi dan stabilitas. Namun, tantangan besar masih menghadang: bagaimana bersaing dengan PGA Tour yang sudah mapan, dan bagaimana menjaga minat sponsor serta penonton dalam jangka panjang. Pertanyaan pun muncul: akankah model baru ini mampu mengubah persaingan golf global, atau justru menjadi awal dari kemunduran LIV Golf?



