EA Beri Bosnya Bonus Rp600 Miliar di Tengah PHK Massal: Kontroversi Kesenjangan Kian Memanas
Baca dalam 60 detik
- CEO EA Andrew Wilson mendapat bonus saham dan tunai senilai 38 juta dolar AS, naik 26% dari tahun lalu, didorong kesuksesan Battlefield 6.
- Eksekutif lain seperti Presiden Laura Miele, CFO Stuart Canfield, dan CHRO Mala Singh juga menerima bonus besar, masing-masing 13,7 juta, 11,3 juta, dan 8,4 juta dolar.
- Kabar ini muncul setelah EA melakukan gelombang ketiga PHK terhadap staf kantor di India dan AS, memicu kritik tajam soal prioritas perusahaan.

Di tengah gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang kembali melanda Electronic Arts (EA), para petinggi perusahaan justru menuai bonus berlipat. Andrew Wilson, CEO EA, menerima paket bonus senilai 38 juta dolar AS—setara lebih dari Rp600 miliar—yang terdiri dari saham dan pembayaran tunai. Angka ini melonjak 26 persen dibandingkan tahun sebelumnya, terutama berkat kesuksesan Battlefield 6 yang belum dirilis secara resmi.
Tak hanya Wilson, jajaran eksekutif puncak lainnya juga kebagian jatah besar. Presiden EA Laura Miele mengantongi 13,7 juta dolar, CFO Stuart Canfield 11,3 juta dolar, dan Chief Human Resources Officer Mala Singh 8,4 juta dolar. Total bonus untuk empat orang ini mencapai lebih dari 71 juta dolar AS, atau sekitar Rp1,1 triliun. Angka tersebut cukup untuk membiayai pengembangan satu gim kelas AAA atau menggaji ratusan karyawan selama bertahun-tahun.
Ironisnya, pengumuman bonus ini bertepatan dengan pelaksanaan PHK gelombang ketiga yang dilakukan EA. Kali ini, perusahaan memangkas sejumlah staf kantor di India dan Amerika Serikat—mereka yang tidak terlibat langsung dalam pengembangan gim. Jumlah pasti karyawan yang terkena PHK tidak diungkapkan, namun langkah ini menambah panjang daftar pemutusan hubungan kerja di industri gim global yang sejak 2023 telah memakan puluhan ribu tenaga kerja.
Kontras antara bonus eksekutif dan PHK massal ini memicu perdebatan sengit di kalangan pegiat industri dan pemain gim. Banyak yang menilai EA lebih mementingkan pemegang saham dan kompensasi petinggi ketimbang kesejahteraan karyawan. Padahal, kesuksesan Battlefield 6 yang disebut sebagai pemicu bonus Wilson tidak lepas dari kerja keras tim pengembang—yang justru tidak terkena PHK, namun tetap di bawah bayang-bayang ketidakpastian.
Bagi industri gim Indonesia, kasus EA menjadi pengingat bahwa pertumbuhan pendapatan tidak selalu berbanding lurus dengan keadilan distribusi. Di dalam negeri, beberapa studio gim lokal juga mulai merasakan tekanan efisiensi, meski belum ada PHK besar-besaran. Pengamat ekonomi digital menilai bahwa praktik bonus eksekutif yang tidak proporsional dapat merusak moral kerja dan memicu tuntutan transparansi dari publik.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah para pemain dan investor akan bereaksi dengan cara yang berarti—misalnya melalui boikot atau tekanan pemegang saham—atau justru menganggap bonus tersebut sebagai bagian dari strategi bisnis yang wajar. EA sendiri belum memberikan pernyataan resmi mengenai kritik yang muncul. Yang jelas, celah antara ruang rapat direksi dan lantai produksi kian terlihat nyata.



