Root Kembali Pimpin Timnas Inggris: Kapten Baru atau Motivasi Lama?
Baca dalam 60 detik
- Joe Root dipercaya kembali memegang ban kapten Inggris setelah mundur pada 2022, dengan harapan bisa mengembalikan gairahnya di sisa karier.
- Michael Vaughan menilai Root butuh tantangan baru sebagai pemantik semangat, apalagi banyak rekan lamanya telah pensiun dari tim.
- Stephen Fleming ditunjuk sebagai pelatih kepala untuk empat tahun ke depan, diharapkan membawa pendekatan teknis yang lebih solid.

Joe Root resmi kembali memegang kendali tim nasional kriket Inggris setelah sempat mengundurkan diri dua tahun lalu. Keputusan ini diambil di tengah pergantian pelatih dan target ambisius untuk merebut kembali trofi Ashes pada tahun depan.
Mantan kapten Inggris, Michael Vaughan, menilai penunjukan ini bisa menjadi suntikan motivasi bagi Root yang kini berusia 35 tahun. Menurut Vaughan, beban sebagai kapten mungkin justru diperlukan Root untuk menemukan kembali antusiasmenya dalam bermain kriket Tes. โSaya bertanya-tanya apakah dia butuh pemicu kecil ini sebagai alat motivasi,โ ujarnya dalam siniar Test Match Special.
Root sebelumnya memimpin Inggris dalam 65 pertandingan Tes dan meraih 27 kemenangan. Namun, tekanan berat memaksanya mundur setelah kekalahan 10 wicket dari Hindia Barat pada 2022. Vaughan berpendapat bahwa Root saat itu menghadapi situasi yang sulit, mulai dari fokus Inggris pada Piala Dunia ODI hingga pandemi Covid-19 yang memperberat tugasnya.
Kini, dengan pengalaman lebih matang dan dukungan pelatih baru Stephen Fleming, Vaughan optimistis Root bisa meraih prestasi besar. โJika dia bisa menjadi pemenang Ashes tahun depan dan pemimpin dunia dalam hal jumlah lari, kariernya akan sempurna,โ ujarnya. Fleming, mantan kapten Selandia Baru, diikat kontrak empat tahun untuk membina tim Inggris dalam dua seri Ashes mendatang.
Fleming ditunjuk setelah Andy Flower mengundurkan diri dari proses seleksi. Vaughan memuji keputusan direktur managing Rob Key yang memilih figur berpengalaman seperti Fleming. โDia tidak melatih kriket bola merah, tapi dia manajer yang sangat berpengalaman, taktik yang baik, dan terkenal sebagai manajer manusia yang ulung,โ kata Vaughan. Selain itu, kedekatan Fleming dengan mantan pelatih Brendon McCullum dinilai penting untuk menjaga kelancaran transisi.
Vaughan juga menekankan perlunya perbaikan teknis dalam tim Inggris, terutama dalam hal teknik memukul bola. โTeknik memenangkan pertandingan Tes. Sisi teknik pemain Inggris masih kurang,โ tegasnya. Ia berharap Fleming tidak hanya menjadi pemimpin kelompok, tetapi juga membawa perubahan pada staf pendukung agar para pemain mendapat pelatihan yang lebih baik.
Bagi Indonesia, meski kriket belum menjadi olahraga arus utama, dinamika kepemimpinan di tim top dunia bisa menjadi pelajaran berharga. Transisi kapten dan pelatih yang terencana, serta fokus pada teknik fundamental, adalah kunci keberhasilan jangka panjang. Apakah langkah Inggris ini akan membawa mereka kembali ke puncak? Hanya waktu yang bisa menjawab.



