Bitcoin Terseret Aksi Jual AI, Pasar Kripto Kehilangan $1 Miliar dalam Sehari
Baca dalam 60 detik
- Harga Bitcoin merosot di bawah $76.000 setelah indeks saham teknologi AI anjlok, memicu likuidasi besar-besaran di pasar derivatif kripto.
- Kemenangan Partai Demokrat di pemilu paruh waktu AS memunculkan kekhawatiran perlambatan pembangunan pusat data, yang selama ini menjadi pendorong bisnis penambang kripto.
- Meski jangka pendek tertekan, sebagian analis menilai adopsi kripto yang meluas tetap menjadi katalis positif jangka menengah.

Harga Bitcoin (BTC) ambles ke bawah $76.000 pada Kamis (5/11), menandai pembalikan tajam dari reli sehari sebelumnya, setelah gelombang aksi jual di saham-saham teknologi kecerdasan buatan (AI) merembet ke seluruh pasar aset digital. Penurunan ini menjadi yang terburuk sejak akhir Oktober dan memicu likuidasi besar di pasar derivatif.
Indeks Nasdaq Composite merosot hampir 6%—kinerja harian terburuk sejak kebijakan tarif pemerintahan Trump pada April 2025—sementara indeks sektor chip anjlok lebih dari 10% pada perdagangan awal. Saham perusahaan penambang kripto yang belakangan beralih ke komputasi AI ikut terpukul, dengan penurunan mencapai 15% hingga 20%.
Pemicu utama kepanikan adalah hasil pemilu paruh waktu AS pada Selasa lalu, yang memberikan kendali atas kedua kamar Kongres kepada Partai Demokrat. Investor khawatir mayoritas baru di legislatif akan memperlambat pembangunan pusat data yang menjadi tulang punggung ekspansi AI. Bagi banyak penambang Bitcoin, bisnis komputasi AI telah menjadi sumber pendapatan alternatif saat margin penambangan menipis.
"Kami melihat aksi jual baru kembali ke pasar seiring implikasi perlambatan pembangunan pusat data mulai menjadi fokus," ujar Joshua Lim, co-head of markets di FalconX, broker kripto institusional.
Lim menambahkan bahwa reli pada Rabu lalu sebenarnya didorong oleh aksi tutup posisi jual (short covering) menyusul hasil pemilu yang sudah terantisipasi. "Reli itu bersifat sementara karena banyak posisi short yang terpaksa ditutup," katanya.
Senada, Carlos Guzman, wakil presiden riset di perusahaan perdagangan aset digital GSR, menilai investor sudah lebih dulu mempertanyakan imbal hasil dari investasi besar-besaran di infrastruktur AI. Hasil pemilu, menurutnya, menambah kekhawatiran tersebut. "Pemilu paruh waktu tampaknya memicu aksi jual ini, dengan investor cemas bahwa oposisi yang lebih kuat terhadap ekspansi pusat data dapat memperlambat pembangunan AI," ujar Guzman. Ia juga menyoroti kinerja laba emiten produsen chip yang mengecewakan sebagai faktor penekan tambahan.
Di pasar saham, emiten kripto turut terseret. Coinbase (COIN) sebagai bursa kripto terbesar AS, penerbit stablecoin Circle (CRCL), dan perusahaan kustodian aset digital BitGo (BTGO) tercatat ambles antara 10% dan 15%. Sementara Strategy (MSTR), perusahaan pemegang treasury Bitcoin, kehilangan 9,6% nilai sahamnya.
Meski demikian, mata uang kripto utama menunjukkan ketahanan relatif dibandingkan saham-saham yang terkait langsung dengan perdagangan AI. Bitcoin hanya turun sekitar 5,5% dalam 24 jam terakhir, lebih baik daripada Ether, Solana, XRP, dan Hyperliquid yang masing-masing melemah 6% hingga 7%.
Tekanan jual diperparah oleh likuidasi paksa di pasar derivatif. Menurut data CoinGlass, lebih dari $1 miliar posisi kripto terlikuidasi dalam 24 jam terakhir, dengan sebagian besar berasal dari taruhan harga naik. Ini merupakan likuidasi terbesar setidaknya sejak 28–29 Oktober, ketika Bitcoin merosot dari hampir $82.000 ke $76.000.
"Kemarin kita melihat reli karena optimisme terhadap situasi geopolitik setelah hasil pemilu. Hari ini situasinya berbalik dengan penurunan selera risiko yang diperkuat oleh leverage," kata Guzman.
Namun, Jasper De Maere dari Wintermute mengingatkan agar pasar tidak bereaksi berlebihan terhadap aksi jual satu hari. Menurutnya, kripto relatif bertahan di tengah gejolak saham AI, sementara adopsi yang lebih luas terus memperkuat prospek jangka panjang. "Mari kita lihat di mana kita mendarat dalam jangka pendek. Untuk jangka menengah, gelas masih setengah penuh," ujarnya. Ia juga menyarankan investor mencermati peluang bargains yang muncul seiring korelasi antar-aset yang tinggi.
Di sisi lain, instrumen stablecoin berbasis aset dunia nyata (RWA) yang terdiversifikasi menawarkan imbal hasil 5–7% dari kredit riil, sementara pendanaan kripto terkompresi ke sekitar 4%. Regulasi GENIUS mendorong imbal hasil ke luar rantai, dengan total pasar yang berpotensi tumbuh menjadi $4 miliar dalam tiga tahun.
Bagi investor Indonesia, gejolak ini menjadi pengingat bahwa pasar kripto domestik semakin terhubung dengan dinamika global, terutama sentimen terhadap teknologi AI dan kebijakan politik AS. Meski demikian, fundamental adopsi di Tanah Air—didukung oleh bursa berizin dan minat ritel yang tinggi—dapat menjadi bantalan jangka panjang. Pertanyaannya, apakah koreksi ini akan menjadi titik masuk bagi investor lokal, atau justru sinyal perlambatan yang lebih dalam?



