Campbell Pertahankan Gelar Angkat Besi Commonwealth dengan Rekor, Tchatchet Raih Perak
Baca dalam 60 detik
- Emily Campbell sukses mempertahankan medali emas angkat besi Commonwealth Games dengan total angkatan rekor 278 kg, termasuk clean and jerk 163 kg.
- Atlet Malaysia Siti Aqilah meraih perak dengan 253 kg, sementara Kanada Etta Mae Love membawa pulang perunggu 250 kg.
- Cyrille Tchatchet II, yang 12 tahun lalu melarikan diri dari kamp pelatihan Kamerun, kini meraih perak untuk Inggris dan merayakannya bersama ibunya.

Emily Campbell kembali membuktikan dominasinya di kelas berat putri angkat besi Commonwealth Games. Atlet Inggris berusia 32 tahun itu sukses mempertahankan gelar juara yang diraihnya empat tahun lalu di Birmingham, setelah mencatatkan total angkatan rekor 278 kg di Victoria, Kamis (3/8). Campbell juga memecahkan rekor clean and jerk Commonwealth dengan 163 kg, serta angkatan snatch 115 kg.
Campbell, yang merupakan peraih medali perak Olimpiade Tokyo 2020 untuk Inggris, tampil gemilang di bawah sorotan penonton Armadillo. Dengan rambut diwarnai merah menyala dan dikepang dengan motif singa, ia menjadi atlet terakhir yang naik podium. Setelah gagal di angkatan snatch kedua 114 kg, ia berhasil mengangkat 115 kg pada percobaan ketiga. Saat memasuki clean and jerk, ia hanya membutuhkan 138 kg untuk mengungguli pesaing terdekatnya, Siti Aqilah Farhana Draman dari Malaysia, dan langsung melampauinya dengan 148 kg, lalu 155 kg, hingga akhirnya mencatat 163 kg—rekor baru. Ia pun menari di panggung merayakan kemenangan.
“Alasan saya bertahan lama di olahraga ini adalah karena saya benar-benar menikmati angkat besi,” ujar Campbell seusai pertandingan. “Atmosfer di luar biasa, penonton sangat riuh. Saya nyaris tidak bisa mendengar pikiran saya sendiri.” Baginya, membela Inggris memiliki makna mendalam. “Commonwealth Games sangat istimewa. Sejak 2018, saya mulai percaya diri dan tanpa ajang ini, saya tidak akan mencapai apa yang sekarang. Setiap kali mewakili bendera, saya lakukan dengan bangga.”
Kisah inspiratif juga datang dari sesama atlet Inggris, Cyrille Tchatchet II, yang meraih perak di kelas 110 kg putra. Tchatchet mencatat total 374 kg (snatch 166 kg, clean and jerk 208 kg), hanya kalah dari Taniela Tuisuva Rainibogi dari Fiji yang membukukan 378 kg. Namun, perjalanan Tchatchet jauh lebih dramatis. Dua belas tahun lalu, ia melarikan diri dari kamp pelatihan Kamerun di Glasgow 2014 karena takut kembali ke tanah air. Ia sempat tunawisma di Brighton, lalu mendapatkan suaka dan mewakili tim pengungsi di Olimpiade Tokyo 2020. Kini, ia berdiri di podium Commonwealth Games bersama ibunya yang terbang dari Afrika untuk menyaksikan putranya berlaga.
Bagi Indonesia, pencapaian Campbell dan Tchatchet menjadi pengingat bahwa konsistensi dan cinta pada olahraga adalah kunci sukses. Meski Indonesia tidak berpartisipasi di Commonwealth Games (karena bukan anggota Commonwealth), angkat besi nasional memiliki tradisi kuat di SEA Games dan Olimpiade. Atlet seperti Eko Yuli Irawan dan Sri Wahyuni Agustiani telah mengharumkan nama bangsa. Namun, tantangan regenerasi dan pendanaan masih menjadi pekerjaan rumah. Semangat Campbell yang tetap menikmati latihan di usia 32 tahun bisa menjadi teladan bagi atlet Indonesia agar tidak mudah puas.
Dengan rekor baru ini, Campbell kini mengincar Olimpiade Paris 2024. Ia telah menunjukkan bahwa usia bukan halangan untuk terus berprestasi. Sementara Tchatchet membuktikan bahwa masa lalu yang kelam tidak menghalangi seseorang untuk mencapai puncak. Pertanyaan kini: dapatkah Campbell mengubah perak Tokyo menjadi emas di Paris, dan akan ada lebih banyak lagi kisah inspiratif dari para atlet yang berjuang melampaui batas?



