Sandro Tonali Ungkap Alasan Pindah ke Tottenham: Hanya Butuh 10 Menit untuk Yakin
Baca dalam 60 detik
- Gelandang Italia Sandro Tonali mengambil keputusan pindah ke Tottenham hanya dalam sepuluh menit setelah berbincang dengan pelatih Roberto de Zerbi.
- Ikatan emosional dengan klub masa kecil Brescia menjadi faktor dominan yang mengalahkan tawaran dari klub lain dengan prestasi lebih mentereng.
- Meski dibanderol rekor klub £100 juta, Tonali menegaskan tekanan harga tidak mengubah sikapnya sebagai pribadi yang sederhana dan fokus pada keluarga.

Gelandang Italia Sandro Tonali hanya membutuhkan waktu sepuluh menit untuk memutuskan hengkang dari Newcastle United ke Tottenham Hotspur setelah bertemu langsung dengan manajer anyar Spurs, Roberto de Zerbi. Keputusan kilat itu menjadikan Tonali pemain termahal dalam sejarah Tottenham dengan nilai transfer mencapai £100 juta atau setara sekitar Rp1,9 triliun.
Dalam wawancara perdananya sebagai pemain Spurs, Tonali mengungkapkan bahwa perbincangan dengan De Zerbi tidak banyak berkutat pada taktik atau kontrak. Keduanya justru larut dalam obrolan tentang Brescia, klub yang sama-sama mereka cintai sejak kecil. De Zerbi adalah suporter dan mantan pemain Brescia, sementara Tonali memulai karier profesional di klub yang kini bangkrut dan terdegradasi ke kasta ketiga Liga Italia. "Kami bicara tentang Brescia, tentang situasi sulit yang dihadapi klub kami," ujar Tonali, merujuk pada kebangkrutan klub masa kecilnya.
Jalinan keduanya ternyata sudah terjalin sejak sembilan tahun lalu, saat De Zerbi masih menangani Sassuolo dan sempat ingin merekrut Tonali. Pertemuan singkat saat itu, menurut Tonali, menjadi "koneksi mini" yang akhirnya berkembang menjadi keputusan besar. De Zerbi sendiri menginisiasi transfer dengan mengirim pesan kepada teman bersama pada musim lalu, menanyakan apakah Tonali tertarik bergabung. Jawabannya singkat: "Dia terbuka." Baru setelah Tottenham memastikan diri tidak degradasi, De Zerbi menghubungi langsung. Telepon berbalas dalam sepuluh menit, dan pertemuan di kediaman Tonali di luar Brescia menyusul.
Tonali mengakui bahwa dirinya sempat berkomunikasi dengan satu klub lain, namun kesan pertama dari Spurs begitu positif. "Saya bicara dengan istri—itu hal pertama. Kami ingin mengubah hidup, bukan sekadar pindah kota," katanya. Ia menyebut daya tarik London hanya sekitar 10 persen dari keputusan; sisanya adalah faktor sepak bola, De Zerbi, dan staf rekrutmen Tottenham. Menariknya, Tonali mengaku berniat pulang ke Italia, tetapi tak satu pun klub Serie A mampu membayar mahar transfer setinggi itu. "Inggris adalah solusi kami, dan saya menemukan solusi terbaik di Inggris untuk karier, sepak bola, kebahagiaan, dan keluarga," ucapnya.
Di balik kepindahan yang dramatis, Tonali juga membawa catatan kelam: larangan bermain sepuluh bulan karena melanggar aturan taruhan FA selama di Newcastle. Meski demikian, ia menegaskan tidak dendam pada mantan klubnya. Ia justru memuji manajer Eddie Howe dan direktur olahraga Ross Wilson, serta ingin "kesepakatan terbaik" untuk Newcastle. Soal harga selangit, Tonali sadar akan tekanan besar, tapi berjanji tetap menjadi pribadi biasa. "Saya orang normal. Saat pulang ke Italia, saya ke keluarga, ke nenek, ke teman-teman. Jika itu sempurna untuk keluarga saya, sempurna untuk saya," pungkasnya.
Kisah Tonali menjadi cermin menarik bagi penggemar sepak bola Indonesia. Di tengah hiruk-pikuk transfer bernilai miliaran rupiah, keputusan yang didasari ikatan emosional dengan klub kecil mengingatkan bahwa sepak bola tidak selalu berputar di sekitar uang. Hilangnya Brescia dari peta sepakbola Italia akibat kebangkrutan juga menggemakan nasib klub-klub Indonesia yang kerap gulung tikar. Bagi publik sepak bola Tanah Air, perjalanan Tonali menunjukkan bahwa loyalitas pada asal-usul masih bisa menjadi kompas dalam industri yang makin pragmatis.
Kini, sorotan tertuju pada bagaimana Tonali akan beradaptasi dengan kerasnya Premier League bersama Tottenham. Bisakah ia memenuhi ekspektasi besar di tengah tekanan rekor transfer? Atau justru hubungan pribadi dengan De Zerbi akan menjadi fondasi yang mengantarnya pada kesuksesan? Jawabannya masih menunggu musim kompetisi yang akan datang.



