Eddie Howe Pergi, Newcastle Hadapi Era Baru yang Penuh Tantangan: Kata Shearer
Baca dalam 60 detik
- Eddie Howe resmi meninggalkan Newcastle setelah mengakhiri paceklik trofi klub lewat Carabao Cup 2025.
- Klub mulai menjual pilar utama seperti Alexander Isak dan Anthony Gordon, mengindikasikan pergeseran strategi.
- Legenda Newcastle, Alan Shearer, memprediksi musim sulit dan mempertanyakan arah baru klub di bawah kepemilikan yang sama.

Kepergian Eddie Howe dari kursi pelatih Newcastle United di tengah pramusim menjadi sinyal bahwa era baru yang penuh ketidakpastian tengah menanti The Magpies. Legenda klub, Alan Shearer, secara blak-blakan mengungkapkan kekhawatirannya bahwa masa depan tim akan diwarnai tantangan berat, terutama setelah serangkaian keputusan transfer yang kontroversial.
Howe, yang dianggap sebagai pahlawan oleh suporter setelah membawa Newcastle meraih trofi Carabao Cup 2025—gelar perdana dalam lebih dari setengah abad—memutuskan hengkang saat tim baru tiga pekan menjalani latihan. Shearer, yang pernah berseragam Newcastle selama satu dekade, menilai bahwa kepergian ini bukan semata-mata keputusan sepihak, melainkan dampak dari perubahan haluan kebijakan klub.
Menurut Shearer, langkah klub yang terus melego pemain bintangnya menjadi indikasi pergeseran visi dari kepemilikan yang sebelumnya ambisius. “Anda tidak bisa terus menjual pemain terbaik lalu berharap bersaing di papan atas,” ujarnya dalam wawancara dengan BBC Sport. Kepindahan Isak, Gordon, dan Tonali—ditambah rumor kepergian kapten Bruno Guimarães—memperkuat anggapan bahwa Newcastle kini mengadopsi model bisnis yang lebih berorientasi pada pemain muda potensial, alih-alih bersaing langsung memperebutkan gelar.
Konteks di Indonesia: Fenomena serupa kerap terjadi di klub-klub Liga 1 yang melego bintangnya demi kestabilan finansial, namun sering berujung pada penurunan performa. Kasus Newcastle bisa menjadi pelajaran berharga bahwa strategi jual-beli pemain harus diimbangi dengan perencanaan jangka panjang agar daya saing tetap terjaga.
Shearer juga menyoroti banyaknya target transfer yang gagal direkrut. Hugo Ekitike, Johan Manzambi, Victor Munoz, hingga James Trafford memilih klub lain dihadapan Newcastle. Hal ini, menurutnya, harus menjadi bahan introspeksi bagi manajemen. “Pasti ada alasan mengapa Newcastle terus gagal mendapatkan incaran mereka,” tegas Shearer.
Dengan hanya tiga pekan tersisa menuju musim baru Premier League, Newcastle harus cepat beradaptasi di bawah pelatih anyar, Matthias Jaissle. Meski sukses di Arab Saudi, tekanan di Premier League jauh berbeda. Pertanyaan besarnya, akankah Newcastle mampu mempertahankan identitas sebagai tim yang pernah menjuarai Carabao Cup, atau justru terpuruk ke papan tengah?



