Bournemouth Pasang Harga Rp2,3 Triliun untuk Eli Junior Kroupi, Arsenal Gigit Jari
Baca dalam 60 detik
- LPSK meminta pemerintah segera memiliki standar operasional nasional untuk identifikasi korban perdagangan orang lintas sektor.
- Tanpa SOP, banyak korban meninggalkan rumah perlindungan dan enggan berpartisipasi dalam proses hukum, menghambat penuntutan pelaku.
- Data LPSK mencatat 1.175 korban TPPO dilindungi sejak 2024, namun modus kejahatan makin kompleks seperti perdagangan bayi dan organ tubuh.

Arsenal harus mengubur sementara ambisi mendatangkan penyerang muda Bournemouth, Eli Junior Kroupi, setelah klub pesisir selatan Inggris itu mematok harga selangit: ยฃ111 juta atau setara Rp2,3 triliun. Cedera kaki yang diderita pemain berusia 20 tahun itu juga memaksanya absen hingga akhir tahun, memupus harapan The Gunners untuk memboyongnya pada bursa transfer musim panas ini.
Kroupi, yang musim lalu mencetak 13 gol di Premier League sebagai pemain berusia 19 tahun, memecahkan rekor sebagai remaja dengan koleksi gol terbanyak dalam satu musim debut. Sebelumnya ia bermain di Ligue 2 Prancis bersama Lorient pada 2024/25. Performa impresifnya membuat Bournemouth berani memasang banderol yang hanya sedikit di bawah rekor transfer dunia.
Menurut laporan jurnalis transfer Ben Jacobs, minat terhadap Kroupi tidak hanya datang dari Arsenal, tetapi juga Barcelona dan Manchester City. Namun, cedera yang dideritanya membuat kepindahan musim panas ini mustahil terjadi. Arsenal pun harus menunggu setidaknya hingga Januari 2026 untuk kembali melirik pemain yang oleh mantan striker Liverpool Daniel Sturridge disebut sebagai "salah satu finisher terbaik di Premier League".
Ketergantungan Arsenal pada Kai Havertz sebagai ujung tombak mulai dipertanyakan. Meski Havertz tampil solid dengan 24 gol dan 13 assist dalam 59 laga sebagai striker, ia kerap gagal memanfaatkan peluang emas. Dalam final Piala Liga melawan Manchester City, ia gagal mengeksekusi satu lawan satu, dan di laga krusial liga, sundulannya dari jarak dekat melambung di atas mistar. Manajer Mikel Arteta pun dianggap perlu mendatangkan penyerang yang lebih haus gol dan klinis.
Perbandingan statistik musim lalu menunjukkan Kroupi lebih unggul dalam hal penyelesaian akhir. Ia mencetak lebih banyak gol non-pinalti per 90 menit dengan jumlah tembakan yang sama dengan Havertz. Selain itu, pemain Prancis itu lebih cepat dan lebih dinamis, dengan dribel per 90 menit yang jauh lebih tinggi. Gaya bermainnya bahkan dibandingkan dengan Kylian Mbappe. Namun, Havertz masih unggul dalam menciptakan peluang bagi rekan setim dari open play.
Bagi Arsenal, kegagalan merekrut Kroupi musim panas ini berarti mereka harus mencari alternatif lain. Julian Alvarez dari Manchester City dan Viktor Gyokeres masih menjadi opsi, namun keduanya juga tidak mudah didapat. Gyokeres, yang kini berusia 28 tahun, mencetak 14 gol musim laluโhanya satu lebih banyak dari Kroupi yang delapan tahun lebih muda. Arteta ingin penyerang yang bisa memadukan kemampuan Havertz dalam membangun serangan dengan ketajaman Gyokeres, profil yang sulit ditemukan.
Dengan harga selangit dan cedera yang membayangi, apakah Arsenal akan mengalihkan fokus ke target lain atau bersabar menunggu Kroupi pulih? Keputusan di bursa transfer mendatang akan menentukan apakah The Gunners mampu bersaing memperebutkan gelar juara dengan lini depan yang lebih tajam.



