MVP dan PFL Merger: Jake Paul Klaim Percepat Visi 10 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Most Valuable Promotions (MVP) dan Professional Fighters League (PFL) resmi bergabung membentuk perusahaan olahraga tarung baru dengan lebih dari 300 petarung.
- Jake Paul, pendiri MVP, mengatakan merger ini mempercepat rencana memberikan bayaran adil dan panggung modern bagi petarung hingga satu dekade lebih cepat.
- PFL, yang sebelumnya menawarkan hadiah $1 juta per musim, telah memangkasnya menjadi $500.000 pada 2025, menandai perubahan strategi di tengah persaingan industri.

Dalam langkah yang mengguncang industri olahraga tarung global, Most Valuable Promotions (MVP) dan Professional Fighters League (PFL) mengumumkan merger yang membentuk perusahaan baru bersatu. Kesepakatan ini dipimpin oleh pendiri MVP Jake Paul dan Nakisa Bidarian, dengan CEO PFL John Martin ikut dalam jajaran direksi. Lebih dari 300 petarung dari kedua organisasi akan berada di bawah satu atap merek MVP.
MVP, yang selama ini fokus di tinju sejak 2021, baru memasuki MMA pada Mei lalu dengan ajang yang menyedot perhatian dunia. Pertarungan perdana mereka—Ronda Rousey versus Gina Carano—tayang di Netflix dan memecahkan rekor sebagai acara MMA paling banyak ditonton di Amerika Serikat, dengan 17 juta pemirsa global. Angka ini menunjukkan daya tarik besar yang coba dimanfaatkan oleh kolaborasi anyar ini.
“Kami mendirikan MVP untuk mengganggu model yang rusak,” ujar Jake Paul dalam pernyataan resmi. “Kami ingin memberi petarung bayaran adil dan panggung modern yang lebih besar agar mereka menjadi superstar global. Bergabung dengan PFL mempercepat visi itu satu dekade.” Ia menambahkan bahwa pintu terbuka lebar bagi petarung dari organisasi lain yang kontraknya sudah bebas.
PFL sendiri dikenal dengan sistem liga inovatif sejak 2017—petarung mengumpulkan poin sepanjang musim sebelum play-off akhir. Namun, pada 2025 PFL melakukan perubahan drastis dengan memangkas hadiah utama dari $1 juta menjadi $500.000, sebuah langkah yang menurut analis sebagai penyesuaian terhadap tekanan finansial. John Martin, CEO PFL, menyebut merger ini bukan sekadar penggabungan perusahaan, melainkan penyatuan komunitas olahraga tarung untuk mempercepat pertumbuhan.
Bagi Indonesia, merger ini membuka peluang baru dalam kancah olahraga tarung. Basis penggemar MMA dan tinju di tanah air terus tumbuh, ditandai dengan maraknya event lokal dan atlet yang berlaga di luar negeri. Dengan skala global MVP-PFL, petarung Indonesia berpotensi mendapatkan akses lebih luas ke ajang bergengsi dan sistem pembinaan yang lebih baik. “Ini kabar positif untuk ekosistem,” kata pengamat olahraga tarung dari Universitas Indonesia, Budi Santoso. “Indonesia punya bakat seperti Jeka Saragih dan lain-lain; kini mereka punya panggung lebih besar untuk bersinar.”
Langkah ini juga diikuti oleh kemitraan MVP dengan Matchroom Boxing, yang difokuskan pada pengembangan petarung wanita. Rokster MVP saat ini dihuni sejumlah juara dunia, termasuk Caroline Dubois dan Chantelle Cameron dari Inggris. Pertanyaannya, apakah model baru ini akan mendorong petarung elit dari UFC untuk pindah? Atau justru memperketat persaingan di antara promotor? Waktu yang akan menjawab, namun satu hal pasti: peta kekuatan olahraga tarung dunia tengah berubah.



