Robot China Menginvasi Gudang Ritel Inggris, Sinyal bagi Industri Logistik Indonesia
Baca dalam 60 detik
- Geek+, produsen robot asal China, telah memasok lebih dari 2.000 unit robot otonom ke gudang ritel besar Inggris seperti Tesco dan Asda.
- Adopsi robot ini menjadi kunci mengatasi krisis produktivitas dan kekurangan tenaga kerja di Inggris, menurut OECD dan pelaku industri.
- Dominasi China di sektor robotik menimbulkan tantangan bagi negara lain, termasuk Indonesia, dalam mengadopsi teknologi tanpa ketergantungan berlebihan.

Setiap kali konsumen di Inggris menekan tombol 'beli' pada pesanan daring, di gudang distribusi, robot berwarna perak segera bergerak. Robot yang diproduksi oleh Geek+, perusahaan asal China itu, meluncur di bawah rak penyimpanan, mengangkatnya, dan membawanya ke pekerja yang menunggu. Proses yang semula memakan waktu kini berlangsung dalam hitungan menit.
Geek+, yang berbasis di Hefei, China timur, telah menjadi pemasok robot otonom terbesar di dunia. Di Inggris, raksasa ritel seperti Tesco, Asda, dan Next telah mengadopsi teknologi ini. Menurut Barry Pemberton, Direktur Akun di MotionTech selaku mitra Geek+ di Inggris, pelanggan menginginkan solusi yang cepat dipasang, bervolume tinggi, dan mampu mempercepat pemilihan barang dengan jejak area lebih kecil serta pengurangan tenaga kerja.
Tidak seperti sistem konveyor tetap yang membutuhkan infrastruktur permanen, robot otonom ini hanya mengandalkan penanda lantai QR code dan pagar pengaman. Fleksibilitas inilah yang membuatnya mudah diadopsi di berbagai gudang. Namun, di balik efisiensi itu, Inggris tengah bergulat dengan masalah produktivitas yang stagnan selama lebih dari satu dekade. Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) dalam laporan 2026-nya menilai rendahnya adopsi robotik di Inggris sebagai sesuatu yang 'mengejutkan' mengingat warisan manufakturnya.
Kongres Serikat Buruh Inggris (TUC) yang mewakili hampir 6 juta pekerja mengingatkan agar robotik digunakan untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas kerja, bukan sekadar memangkas biaya tenaga kerja. Mereka mendesak pemerintah melibatkan pekerja dalam keputusan otomatisasi dan berinvestasi dalam pelatihan ulang.
Di sisi penawaran, dorongan robotik merupakan prioritas strategis Beijing di bawah Presiden Xi Jinping dengan konsep 'kekuatan produktif baru berkualitas'. China menghadapi penyusutan usia produktif dan melihat otomatisasi sebagai kunci mempertahankan keunggulan manufaktur. Kyle Chan, peneliti Brookings Institution, mencatat bahwa ekosistem robotik China dibangun di atas industri kendaraan listrik (EV). Baterai, motor listrik, kamera, sensor, dan semikonduktor yang dikembangkan untuk EV kini digunakan di sektor robotik, menciptakan apa yang ia sebut 'ekosistem industri yang tumpang tindih'. Perusahaan EV seperti XPeng bahkan telah meluncurkan robot humanoid bernama Iron.
Ambisi global China, bagaimanapun, mendapat hambatan. Amerika Serikat baru saja melarang impor robot canggih buatan asing dengan alasan keamanan nasional. Kedutaan China di Washington mengecam langkah itu sebagai politisasi perdagangan. Namun, di gudang-gudang Inggris, robot China tetap beroperasi dan Geek+ menargetkan otomatisasi menyeluruh hingga pengemasan barang.
Pertanyaan mengenai robot humanoid masih mengemuka. Apakah bentuk humanoid benar-benar diperlukan jika robot beroda atau berlengan sudah mampu bekerja efisien? Barry Pemberton menilai humanoid hanya akan menjadi pelengkap, bukan pengubah lanskap otomatisasi. Saat ini, perusahaan China mendominasi penerapan robot humanoid global, tetapi butuh waktu bertahun-tahun sebelum benar-benar lazim di gudang.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi sinyal penting. Negeri ini juga menghadapi tantangan produktivitas dan kekurangan tenaga kerja terampil di sektor logistik. Adopsi robot China yang murah dan cepat pasang bisa menjadi solusi, tetapi juga risiko ketergantungan pada teknologi asing. Regulasi dan strategi industri perlu disiapkan agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga mampu mengembangkan ekosistem robotik mandiri. Pertanyaannya, apakah Indonesia siap menyambut gelombang robot China berikutnya?



