Produsen Mobil China Kian Tekan Pesaing Inggris, Diskon Besar-Besaran Menggila
Baca dalam 60 detik
- Merek China kini menguasai 15% pasar mobil baru Inggris, memicu perang diskon agresif dari produsen tradisional.
- Produksi mobil Inggris terkontraksi 7,5% pada paruh pertama 2026, terdampak tekanan kompetisi China, ketidakpastian perdagangan, dan rendahnya investasi.
- Berbeda dengan Uni Eropa, Inggris belum menerapkan tarif khusus mobil China; kompetisi disebut sebagai satu dari banyak tekanan struktural yang dihadapi industri otomotif Negeri Ratu Elizabeth.

Gelombang merek asal China yang membanjiri pasar otomotif Inggris memaksa produsen tradisional menawarkan diskon lebih dalam untuk bertahan. Demikian diungkapkan Ketua Umum Society of Motor Manufacturers and Traders (SMMT), Mike Hawes, dalam jumpa pers di London, Kamis (30/7).
Menurut data SMMT, pangsa pasar merek bermodal China—seperti MG milik SAIC Motor, BYD, serta JAECOO dan OMODA dari Chery—kini mencapai sekitar 15 persen dari total registrasi mobil baru di Inggris. Angka ini naik signifikan dalam beberapa tahun terakhir, seiring gencarnya peluncuran model listrik dan hybrid plug-in dengan harga kompetitif.
“Dari sisi volume, produsen lokal berada di bawah tekanan luar biasa karena China mampu memproduksi kendaraan berkualitas dengan biaya lebih murah,” ujar Hawes. Ia menambahkan bahwa praktik diskon besar-besaran di pasar saat ini tak lain adalah upaya menyaingi merek China.
Tekanan kompetisi ini turut berkontribusi terhadap kontraksi produksi kendaraan di Inggris yang merosot 7,5 persen pada paruh pertama 2026. Hawes menyebut ketidakpastian perdagangan dan rendahnya investasi sebagai faktor lain yang memperburuk kinerja manufaktur otomotif nasional.
Fenomena serupa juga melanda Eropa daratan. Pekan lalu, raksasa Jerman Volkswagen mengumumkan akan memperdalam pemangkasan biaya demi bertahan di tengah gempuran merek China. Langkah itu diambil meskipun Uni Eropa telah memberlakukan tarif impor terhadap kendaraan listrik buatan China sejak 2024, dengan tuduhan adanya subsidi tidak adil dari pemerintah China.
Inggris, yang telah keluar dari Uni Eropa pada 2020, hingga kini belum menerapkan kebijakan serupa. Hawes menjelaskan bahwa penyelidikan atas impor China hanya bisa dipicu oleh pengaduan dari produsen dalam negeri, dan sejauh ini belum ada satu pun yang dilayangkan.
Konteks Indonesia: Pelajaran dari Negeri Raja Charles
Dinamika industri otomotif Inggris memberi gambaran bagi Indonesia, yang juga menjadi ladang subur bagi merek China seperti Wuling dan DFSK. Meski pangsa pasar mereka belum separah di Inggris, tren ekspansi agresif lewat harga murah patut diwaspadai. Tanpa hambatan tarif atau kebijakan protektif, produsen lokal yang mengandalkan model konvensional bisa mengalami tekanan serupa. Langkah Indonesia yang belum memberlakukan tarif khusus mobil listrik China—berbeda dengan kebijakan Uni Eropa—memberi ruang bagi persaingan yang kian ketat. Namun, pemerintah juga harus mempertimbangkan dampak terhadap investasi dan tenaga kerja di sektor otomotif domestik.
Hawes menekankan bahwa kompetisi dari China hanyalah satu dari sekian banyak tekanan yang dihadapi industri otomotif Inggris. Biaya energi yang tinggi, rendahnya investasi, dan beban regulasi menjadi persoalan struktural yang tak kalah genting. “Kami butuh kebijakan yang mendukung daya saing jangka panjang,” katanya.
Ke depan, apakah Inggris akan mengikuti jejak Brussels dengan memberlakukan tarif balasan? Atau justru memanfaatkan tekanan ini untuk mendorong transformasi industri yang lebih efisien? Jawabannya akan menentukan wajah pasar otomotif Inggris—dan mungkin juga Indonesia—dalam satu dekade ke depan.



