Blatter Kecam Rencana FIFA Jual Saham Piala Dunia: ‘Bukan Aset Komersial’
Baca dalam 60 detik
- Sepp Blatter mengecam keras rencana FIFA membentuk anak usaha senilai USD20 miliar untuk mengelola Piala Dunia dan menawarkan saham hingga 20% pada investor eksternal.
- Blatter menilai langkah ini akan mengubah sifat FIFA menjadi korporasi berorientasi laba dan mengkhianati prinsip bahwa sepak bola milik publik.
- Kritik Blatter mempertegas kekhawatiran otoritas sepak bola Eropa, UEFA, yang menuduh FIFA ‘menjual’ turnamen, dan memicu perdebatan tentang masa depan tata kelola olahraga global.

Mantan Presiden FIFA Sepp Blatter melontarkan kritik tajam terhadap rencana badan sepak bola dunia itu untuk membentuk anak usaha senilai USD20 miliar guna mengelola Piala Dunia, dengan menawarkan saham hingga 20% kepada investor eksternal. Menurut Blatter, langkah yang digagas presiden FIFA saat ini, Gianni Infantino, itu akan mengubah turnamen sepak bola paling bergengsi di dunia menjadi sekadar aset komersial yang dimiliki segelintir eksekutif.
Blatter, yang memimpin FIFA selama 17 tahun hingga 2015, mengatakan bahwa ide tersebut merupakan bentuk komersialisasi berlebihan yang mengancam jiwa sepak bola. “Jika FIFA diubah menjadi struktur korporasi yang berorientasi laba, ia akan kehilangan jiwanya,” ujarnya dalam wawancara dengan Reuters, Rabu (29/7). Ia menegaskan bahwa selama masa kepemimpinannya, ia tidak akan pernah mempertimbangkan langkah serupa.
FIFA mengumumkan pada Selasa (28/7) rencana pembentukan anak usaha yang akan mengelola Piala Dunia dan turnamen-turnamen lain, serta membuka peluang bagi investor luar untuk memiliki saham maksimal seperlima dari entitas tersebut. Proposal itu langsung menuai reaksi keras dari federasi sepak bola Eropa, UEFA, yang menyebut FIFA tengah menjual pertandingan demi uang.
Blatter, yang kerap berselisih dengan Infantino sejak pengunduran dirinya akibat skandal korupsi, juga mengkritik keputusan memberikan tuan rumah Piala Dunia 2034 kepada Arab Saudi serta perluasan turnamen edisi tahun ini menjadi 48 tim. Menurutnya, Piala Dunia bukanlah aset komersial yang dimiliki segelintir eksekutif, melainkan bagian dari warisan budaya sepak bola dunia.
“Piala Dunia adalah warisan budaya. FIFA adalah penjaganya, bukan pemiliknya. Perbedaan itu fundamental,” kata Blatter. Ia menambahkan bahwa investor yang mengejar pengaruh dan keuntungan bertentangan dengan prinsip asosiasi yang mengutamakan kepentingan anggotanya. Sepak bola, kata dia, bertahan lebih dari satu abad karena kedekatannya dengan publik.
Kritik Blatter hadir di tengah perdebatan global tentang arah tata kelola sepak bola, termasuk di Indonesia. Federasi Sepak Bola Indonesia (PSSI) dalam beberapa tahun terakhir gencar mendorong modernisasi dan investasi, namun pelajaran dari rencana FIFA ini mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kepentingan komersial dan akar rumput. Jika investor asing dapat membeli saham turnamen, potensi dampaknya terhadap alokasi pendapatan ke negara berkembang seperti Indonesia perlu dicermati.
Blatter menekankan bahwa fondasi sepak bola sejati adalah klub, pemain, pelatih, wasit, dan penggemar. Peran FIFA, menurutnya, adalah mengelola olahraga, menyelenggarakan kompetisi, dan mendistribusikan pendapatan. “Yang harus menjadi penerima manfaat adalah permainan itu sendiri—dari sepak bola akar rumput hingga level internasional tertinggi—bukan investor luar yang mencari keuntungan,” tegasnya.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah FIFA akan tetap pada rencana ini atau mundur di bawah tekanan. Dengan kritik dari berbagai pihak, termasuk UEFA dan mantan presidennya sendiri, Infantino menghadapi ujian kepemimpinan yang menentukan arah komersialisasi sepak bola untuk dekade mendatang. Apakah Piala Dunia akan tetap menjadi milik publik atau berubah menjadi instrumen investasi?



