NVIDIA Kerek Harga Kartu Grafis hingga 30%: Pukulan Ketiga di 2026
Baca dalam 60 detik
- NVIDIA menaikkan harga jajaran GeForce untuk ketiga kalinya pada 2026, dengan kenaikan mencapai 30% pada model tertentu.
- Kenaikan dipicu oleh melonjaknya biaya memori GDDR7 dari pemasok seperti Samsung, yang dibebankan ke mitra dan konsumen.
- Di Indonesia, para gamer dan perakit PC harus bersiap menghadapi lonjakan harga yang bisa memperlebar kesenjangan akses terhadap teknologi grafis terbaru.

NVIDIA kembali menaikkan harga kartu grafis GeForce untuk ketiga kalinya sepanjang 2026, dengan kenaikan mencapai 30% pada beberapa varian. Langkah ini dipicu oleh melambungnya biaya produksi memori GDDR7, yang membuat harga jual akhir semakin tidak terjangkau bagi konsumen global, termasuk di Indonesia.
Menurut laporan Economic Daily yang berbasis di Taiwan, NVIDIA telah menerapkan tiga gelombang kenaikan harga tahun ini. Gelombang pertama pada awal 2026 berkisar 10–15%, disusul kenaikan khusus untuk seri RTX 5090, dan kini gelombang ketiga yang memengaruhi seluruh lini produk. Keputusan ini merupakan respons langsung terhadap kenaikan harga memori GDDR7 dari pemasok seperti Samsung, yang kemudian diteruskan ke mitra papan atas (AIC), distributor, hingga konsumen akhir.
Dampaknya sudah terlihat di pasar ritel. Beberapa pengecer mulai menimbun stok atau menangguhkan penjualan sementara untuk menyesuaikan harga. Salah satu contoh nyata adalah kartu RTX 5070 Ti 16 GB GDDR7 yang kini dibanderol USD 1.581, naik signifikan dari USD 1.064 pada November 2025—kenaikan hampir 50% dalam waktu kurang dari setahun. Pola serupa diperkirakan terjadi pada model lain seperti RTX 5060 dan RTX 5080.
Fenomena ini tidak hanya mengguncang pasar global, tetapi juga berimplikasi langsung pada ekosistem teknologi di Indonesia. Para gamer, content creator, dan perakit PC di tanah air harus merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkan kartu grafis generasi terbaru. Dengan nilai tukar rupiah yang cenderung melemah, kenaikan harga dalam dolar AS akan terasa lebih berat. Distributor lokal kemungkinan besar akan merevisi harga jual dalam waktu dekat, mengikuti tren global.
Para analis menilai bahwa kenaikan harga ini dapat memperlambat adopsi teknologi ray tracing dan AI generatif di kalangan konsumen menengah. “Jika harga terus meroket, segmen gamer kasual dan pengguna entry-level akan beralih ke kartu grafis generasi sebelumnya atau bahkan menunda upgrade,” ujar seorang pengamat industri teknologi di Jakarta. Di sisi lain, produsen PC rakitan dan toko ritel mungkin akan mengurangi stok produk high-end untuk menghindari risiko kerugian akibat fluktuasi harga.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah NVIDIA akan mempertahankan strategi harga ini atau mencari cara untuk meredam dampak kenaikan biaya memori. Beberapa pihak menduga bahwa tekanan dari konsumen dan mitra dapat mendorong perusahaan untuk menawarkan diskon atau bundling di masa mendatang. Namun, selama biaya produksi memori GDDR7 belum stabil, konsumen global—termasuk di Indonesia—harus bersiap menghadapi era baru kartu grafis premium dengan harga premium.



