GOG Galaxy Siap Hadir di Linux, Pasar Game Open Source Makin Bergairah
Baca dalam 60 detik
- GOG Galaxy, platform distribusi game milik GOG, akan segera mendukung sistem operasi Linux setelah melalui proses porting yang kompleks.
- Langkah ini membuka akses bagi pengguna Linux untuk menikmati perpustakaan game terpadu dan fitur statistik seperti jam bermain dan pencapaian.
- Meski belum ada tanggal rilis pasti, keputusan GOG menandai peluang baru bagi ekosistem game Linux yang selama ini kerap terpinggirkan.

GOG, toko game digital yang kini berdiri sendiri setelah berpisah dari CD Projekt pada Desember lalu, mengumumkan bahwa peluncur GOG Galaxy akan segera merambah sistem operasi Linux. Langkah ini menjadi angin segar bagi komunitas pengguna Linux yang selama ini sering kesulitan mengakses game-game modern secara legal dan terintegrasi.
GOG Galaxy bukan sekadar peluncur biasa. Aplikasi ini memungkinkan pemain mengelola seluruh koleksi gameโbaik yang dibeli dari GOG maupun dari toko lainโdalam satu perpustakaan terpadu. Fitur statistik seperti catatan jam bermain dan pencapaian (achievements) juga tersedia, memberikan pengalaman yang setara dengan peluncur populer lainnya seperti Steam.
Menurut pernyataan Krzysztof Papliลski, salah satu CEO GOG, kepada GamingOnLinux, proses porting GOG Galaxy ke Linux merupakan proyek besar yang membutuhkan perekrutan tenaga ahli khusus untuk sistem operasi tersebut. Hal ini menunjukkan keseriusan GOG dalam menjangkau pangsa pasar Linux yang meskipun kecil, namun memiliki basis pengguna yang loyal dan vokal.
Bagi pengguna di Indonesia, kabar ini membawa implikasi menarik. Meskipun adopsi Linux di Indonesia masih terbatas pada kalangan pengembang, akademisi, dan penggemar teknologi, kehadiran GOG Galaxy bisa menjadi katalis untuk memperluas ekosistem game di platform tersebut. Saat ini, sebagian besar game di Linux masih harus dijalankan melalui lapisan kompatibilitas seperti Proton milik Steam, yang tidak selalu memberikan performa optimal. Dengan dukungan native dari GOG, pengguna Linux di Indonesia bisa menikmati game tanpa hambatan teknis berarti.
Namun, tantangan tetap ada. GOG belum mengumumkan tanggal rilis pasti untuk versi Linux ini. Selain itu, katalog game yang tersedia di GOG mungkin belum sekomprehensif Steam, terutama untuk judul-judul AAA terbaru. Meski demikian, langkah GOG ini patut diapresiasi sebagai upaya mendiversifikasi platform gaming dan memberikan alternatif bagi pengguna yang enggan terikat dengan ekosistem tertutup.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah langkah GOG ini akan diikuti oleh peluncur game lain, seperti Epic Games Store atau Origin, untuk juga merambah Linux. Jika ya, bukan tidak mungkin Linux akan menjadi pemain serius di industri game, mengubah peta persaingan yang selama ini didominasi Windows. Bagi GOG sendiri, ekspansi ke Linux bisa menjadi strategi jitu untuk menarik basis pengguna baru yang selama ini merasa diabaikan.



