China Mulai Produksi Massal Mesin Litografi DUV Buatan Sendiri: Ancaman bagi Dominasi ASML?
Baca dalam 60 detik
- Perusahaan negara Shanghai Aishengna memulai produksi massal mesin litografi DUV immersion, tonggak penting dalam program swasembada semikonduktor China.
- Mesin buatan lokal ini dijadwalkan dikirim ke SMIC, Hua Hong, dan CXMT pada tahun ini, namun kualitasnya masih jauh dari produk ASML.
- Keberhasilan produksi dapat mengurangi ketergantungan China pada impor alat litografi Barat, tetapi analis menilai dampak komersial jangka pendek masih terbatas.

China resmi memulai produksi massal mesin litografi deep-ultraviolet (DUV) immersion buatan dalam negeri, sebuah langkah strategis yang menandai kemajuan signifikan dalam upaya Beijing mengurangi ketergantungan pada teknologi asing di sektor semikonduktor. Langkah ini sekaligus memperkuat posisi China di tengah ketatnya embargo teknologi dari Amerika Serikat dan sekutunya.
Shanghai Aishengna Electronic Technology Group, perusahaan milik negara yang relatif tidak dikenal, memimpin proses produksi tersebut. Perusahaan ini menggabungkan tim dari beberapa perusahaan rintisan litografi China, termasuk Yuliangsheng dan Shanghai Micro Electronics Equipment (SMEE), yang selama ini terlibat dalam proyek swasembada semikonduktor nasional. Aishengna didirikan pada Agustus 2023 dengan modal terdaftar mencapai 7 miliar yuan (sekitar US$1 miliar), yang seluruhnya berasal dari dua pemegang saham BUMN.
Mesin DUV immersion yang diproduksi menggunakan lapisan air antara lensa proyeksi dan wafer silikon untuk mencetak pola sirkuit yang lebih kecil dibandingkan sistem kering konvensional. Teknologi ini menjadi kunci dalam pembuatan chip, mulai dari chip memori hingga prosesor canggih. Namun, sumber yang mengetahui masalah tersebut menyatakan bahwa mesin buatan China ini masih memerlukan pengujian lebih lanjut dan belum mampu menyaingi model kompetitor dari ASML, perusahaan Belanda yang selama ini mendominasi pasar alat litografi.
Kehadiran mesin DUV buatan China diprediksi akan menjadi alternatif bagi perusahaan semikonduktor dalam negeri seperti Semiconductor Manufacturing International Corp (SMIC), Hua Hong Semiconductor, dan ChangXin Memory Technologies (CXMT) jika negara-negara Barat memperketat pembatasan ekspor. Saat ini, China telah dilarang membeli sistem extreme-ultraviolet (EUV) paling canggih dari ASML, serta dibatasi aksesnya ke beberapa mesin DUV tingkat lanjut akibat kontrol ekspor Belanda.
Meskipun demikian, analis dari JP Morgan Chase menilai produksi ini belum menjadi ancaman langsung bagi ASML dalam jangka menengah. โMemproduksi beberapa alat DUV immersion tidak sama dengan memproduksi alat yang dapat digunakan untuk manufaktur volume tinggi, di mana hasil, overlay, throughput, dan keandalan dalam ribuan proses wafer sangat penting,โ tulis mereka dalam catatan riset.
Bagi Indonesia, perkembangan ini patut dicermati. Sebagai negara yang mulai mengembangkan industri semikonduktor, Indonesia masih sangat bergantung pada rantai pasok global. Persaingan teknologi antara AS dan China dapat mempengaruhi ketersediaan dan harga chip di pasar internasional, termasuk yang digunakan di sektor elektronik, otomotif, dan telekomunikasi di Tanah Air. Di sisi lain, langkah China ini menunjukkan bahwa negara berkembang pun dapat membangun kapasitas teknologi tinggi dengan dukungan pemerintah yang kuat, meskipun membutuhkan waktu dan investasi besar.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah China mampu meningkatkan kualitas dan volume produksi mesin litografinya hingga setara dengan standar ASML. Jika berhasil, peta kekuatan industri semikonduktor global bisa berubah drastis. Namun, jika tidak, langkah ini setidaknya memberikan China daya tawar lebih besar dalam negosiasi teknologi internasional.



