Verstappen Bela Lulham dari Serangan Netizen Usai Insiden Portimao
Baca dalam 60 detik
- Max Verstappen mengecam keras perundungan daring yang menimpa rekan setimnya, Chris Lulham, setelah tabrakan di GT World Challenge Europe Portimao.
- Insiden kontak dengan Luca Stolz membuat Lulham dihukum drive-through dan merusak peluang podium Verstappen Racing, memicu gelombang kritik personal di media sosial.
- Kasus ini menyoroti sisi gelap budaya penggemar balap dan memperkuat komitmen Verstappen dalam membina talenta sim racing menuju kompetisi nyata.

Max Verstappen mengambil sikap tegas membela Chris Lulham, rekan setimnya di Verstappen Racing, yang menjadi sasaran hujatan daring setelah terlibat insiden kontak di balapan final GT World Challenge Europe di Portimao, Portugal, akhir pekan lalu. Pembalap Formula 1 itu menilai serangan personal terhadap Lulham sudah melewati batas dan tidak pantas terjadi di dunia balap.
Insiden bermula pada jam kedua balapan ketahanan tiga jam tersebut. Lulham, yang mengemudikan Mercedes-AMG GT3 nomor #3 milik 2 Seas Motorsport, mencoba menyalip Luca Stolz (Winward Racing) di tikungan kedelapan pada lap pertama setelah restart safety car. Keduanya bersenggolan, membuat Stolz—yang baru saja memastikan gelar juara Endurance Cup dan klasemen gabungan GTWC Europe—berputar. Pengawas balapan menilai manuver Lulham sebagai tabrakan yang bisa dihindari dan menjatuhkan hukuman drive-through.
Hukuman itu menghancurkan peluang Verstappen Racing meraih podium. Dari posisi terdepan, tim melorot ke urutan 24 sebelum Verstappen melakukan stint pemulihan di akhir lomba dan finis di posisi kesembilan. Kekecewaan atas hasil tersebut kemudian beralih menjadi serangan personal terhadap Lulham di berbagai platform media sosial.
Verstappen pun angkat bicara melalui akun Instagram pribadinya. Ia menegaskan bahwa kritik terhadap aksi di lintasan adalah hal wajar, tetapi serangan pribadi tidak bisa ditoleransi. “Chris menjalani stint yang sangat kuat, dan kesalahan memang bisa terjadi. Tidak ada tempat untuk perilaku seperti ini di olahraga kami atau di mana pun,” ujar Verstappen seperti dikutip dari pernyataannya.
Meski kecewa dengan insiden tersebut, Verstappen tetap melihat sisi positif dari akhir pekan. Ia mengaku senang bisa membalap dengan mobil GT3 di Portimao dan menilai timnya banyak belajar dari pasang surut yang terjadi. “Ada naik turun, tetapi sebagai tim kami mendapat pelajaran berharga,” tambahnya.
Hubungan Verstappen dan Lulham bukan sekadar rekan setim biasa. Keduanya telah lama menjalin persahabatan melalui dunia sim racing, sering berlaga bersama di Team Redline yang kini berganti nama menjadi Verstappen Racing. Lulham adalah pembalap pertama yang menjalani transisi dari sim racing ke balapan nyata di bawah visi jangka panjang Verstappen untuk membuka jalan bagi talenta esports menuju motorsport profesional.
Lulham sendiri menyampaikan permintaan maaf atas kontak dengan mobil #48 yang dikemudikan Stolz, Maro Engel, dan Lucas Auer. Ia mengakui insiden itu merusak peluang podium tim, tetapi juga menyoroti kerja keras seluruh kru yang berhasil membalikkan performa mobil setelah kesalahan setup pada sesi kualifikasi. “Finis kesembilan di akhir balapan yang penuh liku. Kontak dengan #48 dan penalti drive-through menjauhkan kami dari perebutan podium. Saya minta maaf kepada mereka atas dampaknya,” kata Lulham.
Kasus ini bukan pertama kali media sosial menjadi arena penghakiman bagi pembalap. Tekanan psikologis dari komentar warganet kerap memperburuk beban yang sudah dialami atlet, terutama di cabang olahraga yang mengandalkan keputusan cepat dan berisiko tinggi. Verstappen, yang selama ini vokal soal pentingnya kesehatan mental di paddock, tampaknya ingin memastikan rekan mudanya tidak menanggung beban itu sendirian.
Bagi publik Indonesia, dinamika ini relevan dengan berkembangnya komunitas sim racing Tanah Air yang mulai melahirkan pembalap-pembalap muda berprestasi di kancah internasional. Dukungan terhadap atlet, alih-alih hujatan, menjadi prasyarat penting agar ekosistem balap nasional dapat tumbuh sehat. Perilaku suporter di media sosial pun turut menentukan citra olahraga Indonesia di mata dunia.
Ke depan, langkah Verstappen memperkuat posisi Verstappen Racing sebagai inkubator talenta lintas disiplin. Namun, keberhasilan program ini juga akan bergantung pada bagaimana ekosistem balap menangani tekanan publik terhadap pembalap muda. Akankah insiden Portimao menjadi momentum untuk memperbaiki budaya penggemar, atau justru sebaliknya?



