Megawati Terima Hun Many, Pancasila Jadi Topik Utama Pertemuan
Baca dalam 60 detik
- Deputi Perdana Menteri Kamboja Hun Many bertemu Megawati Soekarnoputri di Menteng untuk mendalami Pancasila dan mempererat hubungan bilateral.
- Pertemuan ini mengingatkan kembali peran Indonesia dalam mengakhiri perang saudara Kamboja lewat Jakarta Informal Meeting dan Perjanjian Paris.
- Diskusi mencakup sejarah kelam Khmer Merah yang menewaskan 3 juta jiwa, serta rencana regenerasi hubungan antarnegara.

Presiden kelima RI sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, menerima kunjungan Deputi Perdana Menteri Kamboja Hun Many di kediamannya, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (11/6). Pertemuan yang berlangsung hangat itu tak hanya menjadi ajang nostalgia, tetapi juga mempertegas posisi Pancasila sebagai ideologi yang diminati negara tetangga.
Hun Many, putra Perdana Menteri Kamboja Hun Sen, mengaku tertarik mempelajari bagaimana Pancasila mampu menyatukan keberagaman Indonesia. โSaya ingin mendapat pelajaran bagaimana ideologi Pancasila bisa dipertahankan dan diterapkan,โ ujarnya dalam pernyataan yang diterima media. Megawati pun membagikan lembaran berisi lima sila kepada delegasi Kamboja sebagai buah tangan intelektual.
Kunjungan ini bukan sekadar seremonial. Di baliknya, tersirat kepentingan strategis memperkuat hubungan bilateral Indonesia-Kamboja yang telah terjalin sejak era Perjanjian Perdamaian Paris 1991. Hun Many menyampaikan apresiasi atas peran Jakarta dalam mengakhiri perang saudara di negaranya lewat Jakarta Informal Meeting (JIM) I pada Juli 1988 dan JIM II pada Februari 1989, yang dipimpin Menteri Luar Negeri Ali Alatas kala itu.
Megawati tak kuasa menahan haru saat mengenang penderitaan rakyat Kamboja di bawah rezim Khmer Merah. โSaya sedih setiap kali teringat Kamboja karena begitu banyak penderitaan masyarakat,โ kenangnya. Hun Many membenarkan, sekitar tiga juta orang meninggal pada masa itu. Megawati juga mengingat pertemuannya dengan Raja Norodom Sihanouk dan PM Hun Sen, yang terakhir terjadi pada Desember 2010 saat dirinya menerima Lifetime Achievement Award dari International Conference on Asian Political Parties di Kamboja.
Dalam suasana kekeluargaan, Megawati menanyakan usia Hun Sen. โBeliau pada 5 Agustus mendatang berumur 74 tahun,โ jawab Hun Many. โOh lebih muda dari saya. Saya tahun depan 80 tahun. Senang sekali bisa bertemu dengan Deputi PM Kamboja,โ balas Megawati sambil tersenyum. Hun Many berjanji akan menyampaikan salam hangat sang ibu bangsa kepada ayahandanya.
Pertemuan ini dihadiri sejumlah petinggi PDIP, antara lain Ketua DPP Bidang Luar Negeri Ahmad Basarah, Ketua DPP Bidang Pendidikan dan Kebudayaan Puti Guntur Soekarno, anggota DPR Hendra Rahtomo, serta Dewan Pakar BPIP Darmansjah Djumala. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa diskusi tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga membuka peluang kerja sama ideologis dan diplomatik lebih lanjut antara dua negara.
Ke depannya, apakah minat Kamboja terhadap Pancasila akan berujung pada adopsi nilai-nilai tersebut dalam kebijakan domestik mereka? Atau justru memperkuat poros diplomatik Indonesia di kawasan? Pertemuan ini setidaknya menegaskan bahwa Pancasila tetap relevan sebagai jembatan budaya antarbangsa.



