Zidane Ditunjuk sebagai Arsitek Baru Timnas Prancis: Gaya Bebas untuk Mengakhiri Kutukan Turnamen
Baca dalam 60 detik
- Zinedine Zidane resmi ditunjuk sebagai pelatih Prancis, menggantikan Didier Deschamps yang gagal di tiga turnamen terakhir.
- Filosofi Zidane yang memberikan kebebasan pada pemain bintang diharapkan mengatasi kebuntuan taktis Prancis di laga krusial.
- Penunjukan ini menjadi pelajaran bagi federasi sepak bola global, termasuk PSSI, tentang pentingnya keseimbangan antara disiplin dan kreativitas.

Zinedine Zidane resmi ditunjuk sebagai pelatih timnas Prancis, membawa misi mengubah pendekatan permainan yang terlalu kaku menjadi lebih eksplosif dan improvisatif, menyusul kegagalan Les Bleus di tiga turnamen besar terakhir.
Keputusan Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) mengakhiri era Didier Deschamps yang berlangsung sejak 2012. Di bawah Deschamps, Prancis sempat menjuarai Piala Dunia 2018, namun kemudian tersingkir di semifinal Piala Dunia 2022 dan Euro 2024, serta terhenti di semifinal Piala Dunia 2026 oleh Spanyol. Kritik mengarah pada permainan Prancis yang terlalu hati-hati dan kurang kreatif saat menghadapi lawan tangguh.
Zidane, yang membawa Real Madrid meraih tiga gelar Liga Champions berturut-turut, dikenal dengan pendekatan yang memberi kebebasan kepada pemain bintang. "Ketika saya bertemu Zinedine pada Februari 2025, dia berkata, 'Presiden, saya tahu cara menang.' Saya merasakan seseorang yang memiliki dorongan dan keyakinan untuk memimpin Les Bleus meraih kemenangan," ujar Presiden FFF Philippe Diallo.
Gaya Zidane kontras dengan Deschamps yang cenderung pragmatis. Di Real Madrid, Zidane memberikan kepercayaan penuh kepada Cristiano Ronaldo, Karim Benzema, dan Luka Modric untuk mengambil keputusan di lapangan. Hal serupa diharapkan terjadi di timnas Prancis, terutama dengan kehadiran Kylian Mbappe yang mungkin mendapatkan peran sentral lebih besar. Menurut Zidane, "Ini berbeda dibandingkan melatih klub. Tapi itu tidak membuat saya takut. Inilah yang saya inginkan."
Bagi sepak bola Indonesia, penunjukan Zidane memberikan pelajaran berharga. Pelatih bukan hanya soal taktik, tetapi juga kemampuan mengelola ego pemain bintang. PSSI, yang tengah berjuang membangun timnas kompetitif, bisa meniru pendekatan Zidane dalam menyeimbangkan disiplin dan kreativitas. Di Indonesia, perdebatan antara pelatih lokal dan asing sering menyangkut gaya permainan; kasus Zidane menunjukkan bahwa figur karismatik mampu mengubah mentalitas tim.
Tantangan Zidane bukan sekadar meraih hasil instan, melainkan membangun identitas permainan Prancis yang lebih berani. Pertanyaannya, mampukah dia mengulang kesuksesan di level klub ke panggung internasional? Jawabannya akan terlihat pada Piala Eropa 2028 mendatang.



