Hubungan Militer RI-China Kian Erat: Latihan Bersama hingga Industri Pertahanan Jadi Pilar Baru
Baca dalam 60 detik
- Atase Pertahanan China menyatakan kerja sama militer kedua negara semakin dalam, ditandai dengan latihan bersama dan kunjungan kapal perang.
- Pertemuan 2+2 di Beijing pada April 2025 menghasilkan komitmen penguatan alat utama sistem senjata dan industri pertahanan.
- Eskalasi kerja sama ini berpotensi menggeser keseimbangan kekuatan di ASEAN dan membuka peluang transfer teknologi bagi TNI.

Atase Pertahanan China untuk Indonesia, Kolonel Senior Xu Sheng, menegaskan bahwa hubungan militer antara Jakarta dan Beijing telah mencapai level baru yang lebih substansial, ditopang oleh meningkatnya saling percaya strategis di antara kedua negara. Pernyataan itu disampaikan dalam peringatan 99 tahun Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China di Jakarta, Senin malam.
Xu menjelaskan, kerja sama pertahanan bilateral kini tidak lagi sekadar seremonial, melainkan telah diwujudkan melalui latihan militer bersama, kunjungan timbal balik kapal perang, pelatihan personel, hingga forum multilateral. Semua itu, menurut dia, merupakan implementasi dari Kemitraan Strategis Komprehensif yang dibangun di atas lima pilar: politik, ekonomi, sosial budaya, maritim, dan keamanan.
Puncak dari penguatan itu adalah Pertemuan Pertama 2+2 RI-RRT di Beijing pada April 2025, yang dihadiri Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dan mitranya dari China, Laksamana Dong Jun. Dalam forum tersebut, kedua pihak membahas penguatan alat utama sistem senjata (alutsista) dan kolaborasi di bidang industri pertahanan. Sjafrie menegaskan bahwa Indonesia berkomitmen memperdalam kerja sama pertahanan dengan China demi memperkuat kedaulatan dan stabilitas kawasan.
Bagi Indonesia, penguatan kerja sama dengan China membawa implikasi strategis. Di satu sisi, akses terhadap teknologi persenjataan dan latihan bersama dapat meningkatkan kapasitas pertahanan nasional. Di sisi lain, langkah ini berpotensi memicu kekhawatiran di kalangan mitra tradisional Indonesia, seperti Amerika Serikat dan Australia, yang selama ini menjadi pemasok utama alutsista. Xu Sheng menilai bahwa hubungan militer yang erat justru akan menjadi fondasi bagi stabilitas regional, terutama dalam kerangka Komunitas Senasib Sepenanggungan China-Indonesia.
Menurut analis pertahanan dari Universitas Indonesia, kerja sama ini juga mencerminkan pragmatisme Indonesia dalam menjalin hubungan dengan kekuatan besar. โIndonesia tidak ingin terjebak dalam persaingan AS-China. Dengan memperkuat kerja sama pertahanan dengan Beijing, Jakarta ingin menunjukkan bahwa dirinya memiliki otonomi strategis,โ ujarnya. Namun, ia mengingatkan bahwa ketergantungan berlebihan pada satu pihak bisa menjadi risiko jangka panjang, terutama jika terjadi perubahan geopolitik.
Xu Sheng menambahkan bahwa Indonesia dan China telah saling mendukung sejak era perjuangan kemerdekaan, dan kini saatnya memperkuat sinergi di bidang pertahanan. โSaling percaya strategis terus meningkat, dan kedua negara telah membangun Kemitraan Strategis Komprehensif,โ katanya. Sementara itu, Sjafrie berharap pertemuan 2+2 dapat menjadi model bagi kerja sama pertahanan Indonesia dengan negara lain.
Ke depan, implementasi kerja sama ini akan diuji melalui realisasi proyek-proyek konkret, seperti pengadaan alutsista dan transfer teknologi. Pertanyaannya, sejauh mana Indonesia mampu menjaga keseimbangan antara mempererat hubungan dengan China dan mempertahankan hubungan dengan mitra tradisionalnya? Stabilitas kawasan Asia Tenggara, yang selama ini bergantung pada keseimbangan kekuatan, akan menjadi barometer keberhasilan strategi ini.



