Ditolak Jadi Putri Duyung, Arielle Kebbel Justru Curi Perhatian di Aquamarine
Baca dalam 60 detik
- Arielle Kebbel nyaris mundur dari Aquamarine karena kecewa tak dapat peran utama, namun akhirnya menerima peran antagonis yang justru melambungkan namanya.
- Aktris itu mengaku improvisasi dialog ikonik 'She's a fish!' menjadi titik balik kepercayaan dirinya di dunia akting.
- Film Aquamarine masih dikenang sebagai salah satu film remaja era 2000-an yang populer di Indonesia, terutama berkat karakter Cecilia yang dibawakan Kebbel.

Arielle Kebbel nyaris melewatkan kesempatan emas yang justru mengubah jalan kariernya. Aktris kelahiran Florida itu mengaku sempat "patah hati" setelah gagal mendapatkan peran utama putri duyung dalam film โAquamarineโ (2006), namun akhirnya ia justru mencuri perhatian lewat karakter antagonis yang dibawakannya.
Dalam wawancara dengan People, Kebbel menceritakan bahwa awalnya ia mengikuti audisi untuk memerankan Aquamarine, tokoh utama yang menjadi pusat cerita. Ia bahkan datang dengan wig biru untuk meyakinkan para sutradara. Namun, tim produksi justru memintanya untuk kembali dan membaca naskah untuk peran Cecilia Banks, sahabat sekaligus rival dari karakter utama. "Mereka meminta saya kembali untuk Cecilia. Sejujurnya, saya butuh waktu karena sangat kecewa," ujarnya.
Kebbel mengaku sempat bergulat dengan pertanyaan besar: apakah ia sanggup secara emosional berada di lokasi syuting film tentang putri duyung tanpa menjadi putri duyung? "Itu pertanyaan yang sangat nyata," katanya. Namun, setelah merenung, ia memutuskan untuk menurunkan ego dan menerima tawaran tersebut. Keputusan itu terbukti tepat: peran Cecilia justru menjadi salah satu peran paling ikonik dalam film tersebut.
Kebbel mengaku bahwa improvisasi menjadi kunci dalam membangun karakter Cecilia. Ia ingin menjadikan antagonis tersebut sebagai "gadis jahat yang punya hati". Salah satu momen paling dikenang adalah saat ia berteriak histeris tentang putri duyung yang diperankan Sara Paxton: "She's a fish!" Kalimat itu, menurut Kebbel, tidak pernah tertulis dalam naskah. "Itu adalah salah satu momen kecil yang sangat menyenangkan untuk saya mainkan, dan saya meminta untuk melakukannya dengan gaya saya sendiri," kenangnya.
Bagi penonton Indonesia, โAquamarineโ menjadi salah satu film remaja yang melekat di era 2000-an. Tayang di bioskop tanah air pada tahun yang sama, film ini sering diputar ulang di televisi dan menjadi favorit para remaja. Karakter Cecilia yang licik namun menyenangkan berhasil meninggalkan kesan mendalam, bahkan menjadi standar baru untuk karakter antagonis dalam film remaja. "Film itu membantu saya menemukan suara saya di lokasi syuting, lebih dari yang mereka sadari," tambah Kebbel.
Belajar dari pengalaman tersebut, Kebbel kini lebih percaya diri untuk menyuarakan ide-idenya di proyek-proyek selanjutnya. Ia menegaskan bahwa kegagalan mendapatkan peran utama bukan akhir dari segalanya. "Ketika orang mendatangi saya dan berbagi kenangan mereka tentang film itu, itu membuat pengalaman itu semakin istimewa bagi saya," tutupnya. Pertanyaan yang tersisa: akankah ada aktor Indonesia yang juga bisa mengubah kekecewaan menjadi peluang seperti Kebbel?



