Ketika Heroin Habis, Personel Mötley Crue Suntikkan Wiski: Kisah Kelam di Puncak Kejayaan
Baca dalam 60 detik
- Tommy Lee dan Nikki Sixx menyuntikkan Jack Daniels ke pembuluh darah setelah kehabisan heroin saat pesta larut malam di era 1980-an.
- Kebiasaan ekstrem ini mencerminkan parahnya kecanduan yang dialami personel Mötley Crue, yang akhirnya mendorong mereka menjalani rehabilitasi pada 1989.
- Meski telah beberapa kali mencoba pulih, Tommy Lee mengaku kesulitan mempertahankan ketenangan karena kerap 'merayakan' pencapaiannya dengan kembali menggunakan narkoba.

Di puncak ketenaran Mötley Crue pada era 1980-an, drummer Tommy Lee dan bassis Nikki Sixx nekat menyuntikkan wiski Jack Daniels ke dalam pembuluh darah mereka setelah kehabisan heroin. Pengakuan mengejutkan ini diungkapkan Tommy Lee dalam podcast "Armchair Expert" yang dipandu Dax Shepard, membuka tabir gelap kehidupan para rocker yang terjebak dalam lingkaran kecanduan.
Menurut Tommy, kejadian itu berlangsung saat pesta larut malam yang biasanya diisi dengan konsumsi heroin dalam jumlah besar. Namun, ketika persediaan heroin habis, kepanikan mulai melanda. "Kami seperti, 'Brengsek, apa yang harus kita lakukan?'," kenang Tommy. Tanpa berpikir panjang, keduanya melihat botol Jack Daniels dan memutuskan untuk menyuntikkannya langsung ke tubuh, bukan meminumnya seperti biasa.
"Kami mengisi tutup botol dengan Jack, lalu mengambil jarum suntik dan menyuntikkan Jack Daniels," ujar Tommy. Ia mengakui bahwa pada saat itu ia sadar tindakan tersebut sangat keliru. "Saya berpikir, 'Oke, apa yang terjadi? Kita bisa meminumnya, tapi kita menyuntikkannya. Ini benar-benar salah. Dan seseorang akan mati.'" Namun, dorongan untuk mabuk lebih parah mengalahkan nalar mereka. Tommy bahkan menyebut rasa wiski yang disuntikkan mirip dengan rasa heroin, dengan sedikit sentuhan "oaky".
Kisah ini menjadi salah satu contoh paling ekstrem dari kecanduan yang melanda seluruh personel Mötley Crue. Pada 1989, keempat anggota band akhirnya menjalani rehabilitasi. Atas saran produser mereka, mereka meninggalkan Los Angeles yang penuh godaan dan merekam album "Dr. Feelgood" di Vancouver, Kanada. Mereka juga menyewa seorang "terapis band" untuk membantu menjaga ketenangan, tetapi langkah ini justru menimbulkan dinamika baru yang rumit.
Tommy Lee mengungkapkan bahwa sesi terapi bersama justru membuka sisi-sisi lain dari rekan satu bandnya yang sebelumnya tidak diketahui. "Kami semua berkumpul dan membahas bagaimana masing-masing menghadapi pengaturan baru ini. Itu membuka hal lain. Begitu Anda mulai menjalani terapi dengan orang-orang yang bekerja dengan Anda dan juga mengalami hal yang sama, Anda belajar banyak hal tentang mereka, dan tiba-tiba semuanya menjadi sangat rumit," jelasnya.
Meski telah berulang kali mencoba, Tommy Lee mengakui bahwa mempertahankan ketenangan adalah perjuangan berat. "Saya pikir tiga tahun adalah yang terlama. Saya sangat bersemangat sehingga saya seperti, 'Ya Tuhan, saya sudah setahun bersih,' dan saya merayakannya. Itulah masalahnya," katanya. Pada 2023, pelantun "Girls, Girls, Girls" itu mengumumkan telah setahun menjalani hidup tanpa narkoba.
Kisah Mötley Crue menjadi pengingat akan bahaya kecanduan yang bisa menghancurkan karier dan kehidupan. Di Indonesia, meskipun budaya rock ekstrem seperti ini tidak lazim, kasus penyalahgunaan narkoba di kalangan musisi dan selebriti tetap menjadi perhatian. Badan Narkotika Nasional (BNN) mencatat bahwa pada 2023, jumlah penyalahguna narkoba di Indonesia mencapai sekitar 3,6 juta jiwa, dengan sebagian besar berasal dari kelompok usia produktif. Kisah Tommy Lee dan Nikki Sixx bisa menjadi pelajaran bahwa kecanduan tidak mengenal batas status atau popularitas, dan pemulihan adalah proses panjang yang membutuhkan komitmen serius.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah: mampukah Tommy Lee dan personel Mötley Crue lainnya mempertahankan ketenangan di tengah tekanan industri musik yang sarat godaan? Atau akankah masa lalu kelam terus menghantui langkah mereka?



